Kudus, ISKNEWS.COM – Program unggulan Tamzil Hartopo (TOP) satu juta rupiah untuk guru TPQ Madin akan terus dievalusai supaya bisa meningkatkan kesejahteraan guru Madin dan swasta semuanya.
Hal tersebut dikatakan Bupati Kudus H.M. Tamzil saat menjadi narasumber bersama Wabup H.M. Hartopo dan Pengurus Komunitas Menara Kudus, Abdul Jalil, dalam acara ‘Njagong Bareng Tamzil’ dengan topik ‘Guru Madin Kudus’ di Pendopo Kabupaten, Rabu (30/1/2019).
H.M. Tamzil menyatakan bahwa sampai sekarang, ada sekitar hampir 11 ribu guru terdaftar dan terverifikasi untuk menerima tunjangan satu juta rupiah. Program yang sudah berjalan sejak Januari 2019 menggelontorkan dana sampai 144 milyar rupiah dalam setahun. “Sebulan, kami menganggarkan 12 milyar rupiah untuk 12 ribu guru,” ujarnya.
Namun, lanjut Bupati Tamzil, selisih ini terjadi karena ada beberapa guru Madin yang ternyata sudah meraih sertifikasi pemerintah, maupun upah ganda karena pekerjaan utamanya sudah digaji pemerintah. “Kami tidak akan memberi anggaran ganda untuk masyarakat,” ujarnya.
Dirinya mengaku akan mengevaluasi mekanisme dan program yang akan berjalan selama setahun ini. Tamzil akan melihat nanti realitas di lapangan seperti apa, adakah masalah yang timbul dan sebagainya. Untuk guru madin yang belum dapat maupun merasa bahwa tunjangan yang diberikan masih kurang, hal ini akan didalami lebih lanjut.
“Kami menggodok hal ini juga sudah melalui proses panjang,” ujar Tamzil. Dirinya menyatakan terima kasih kepada DPRD maupun semua staff OPD dan asisten yang membantu mewujudkan program unggulan tersebut. “Alhamdulillah apa yang saya rencanakan tidak dipotong oleh DPRD, dan terima kasih kepada teman-teman OPD dan asisten yang membantu mencarikan dasar hukum maupun teknisnya,” ujarnya.
Memang tujuan dari adanya program ini adalah memberikan apresiasi dan kesejahteraan kepada guru Madin yang sudah mengajarkan agama kepada anak-anak di Kudus. Ini sesuai dengan visi Tamzil-Hartopo yakni mewujudkan Kudus yang religious, cerdas, modern dan sejahtera. “Saya harap, gaji guru yang di bawah satu juta itu tetap diberikan, bersama dengan tunjangan dari pemerintah Kabupaten Kudus,” ujar Hartopo. Dirinya berharap, dengan adanya tunjangan ini bias menambah kualitas mengajar dari para guru. “Ada semangat lebih untuk mengajar agama anak-anak, ini suatu bentuk apresiasi pemerintah kepada guru madrasah,” ujarnya
Abdul Jalil menegaskan bahwa Guru Madin menyambut dengan adanya tunjangan ini. Karena selama ini kesejahteraan Madin bisa dikatakan tidak begitu diperhatikan. “Hanya pendidikan formal saja yang menjadi perhatian, yang informal tidak, kadang yang tidak formal justru tersisihkan,” ujarnya. Jadi hal ini merupakan bentuk support pemerintah kepada pendidikan agama di Kudus.
Di satu sisi, resiko ketidakadilan itu tetap ada. Karena masih ada administrasi yang mengurus mengenai Madin yang belum dapat, maupun hal ini bisa menjadi boomerang peningkatan kualitas pendidikan agama itu sendiri. “Yang paling penting, program ini harus dikembalikan pada konsep awal bahwa ini untuk peningkatan kualitas pendidikan agama di Kudus,” ujarnya.
Sementara itu, Seorang Penyuluh Agama Budha dari Kemenag Kudus, Kiswati mengatakan uneg-unegnya dihadapan Bupati Tamzil. Ia mengucapkan banyak terima kasih atas program kesejahteraan bagi guru tersebut.
Selain untuk guru, Ia juga mengusulkan penambahan kuota, “Saya mengusulkan juru ketik, penjaga rumah ibadah, rohaniawan juga diberi tunjangan,” harapnya. (AJ/YM).






