Pemandangan jalanan yang tetap tergenang meski saluran air baru saja selesai dibangun kini menjadi fenomena yang jamak ditemui. Muncul pertanyaan di tengah masyarakat: apakah pembangunan ini sudah benar-benar melalui perhitungan matang, atau sekadar proyek rutinitas yang mengejar target serapan anggaran?
Bukan Sekadar Gali dan Tanam
Membangun saluran air (drainase) bukanlah sekadar menanam beton atau menggali tanah. Ada ilmu pasti di baliknya yang harus tertuang dalam sebuah blueprint atau naskah akademis yang komprehensif. Tanpa kajian teknis dari tenaga ahli yang kompeten, pembangunan hanya akan memindahkan masalah atau bahkan memperburuk keadaan.
Setiap pembangunan drainase seharusnya didasari oleh perhitungan debit air, volume saluran, hingga tingkat kemiringan (slope) yang akurat. Jika kemiringannya salah, air tidak akan mengalir, melainkan hanya akan parkir dan menjadi sarang nyamuk. Begitu juga dengan ukuran inlet (lubang masuk air) yang seringkali dibuat terlalu kecil, sehingga gagal menangkap air saat intensitas hujan tinggi.
Pentingnya Dokumen Panduan Teknis
Kita butuh transparansi terkait kajian teknis. Sebuah proyek drainase yang ideal harus memiliki catatan yang jelas mengenai:
- Analisis debit air saat curah hujan ekstrem.
- Pemetaan potensi penumpukan sampah di titik-titik tertentu.
- Jadwal perawatan berkala yang terencana.
Tanpa panduan ini, pembangunan hanya akan menjadi eksperimen mahal yang hasilnya selalu gagal menjawab masalah genangan.
Gotong Royong Menjaga Aliran
Namun, menyalahkan konstruksi saja tentu tidak adil. Masalah klasik tertutupnya inlet oleh tanah atau tumpukan sampah seringkali menjadi penyebab utama kemacetan air. Di sinilah letak pentingnya kesadaran bersama. Pemerintah memang berkewajiban membangun dan merawat, namun warga juga memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menjadikan saluran air sebagai tempat sampah raksasa.
Seringkali, setelah proyek diserahterimakan, perawatan seolah terlupakan. Tanah yang menutupi lubang saluran dibiarkan mengeras, dan sampah yang menyumbat dianggap sebagai “urusan pemerintah pusat atau daerah”. Padahal, efektivitas drainase sangat bergantung pada kelancaran mulut-mulut saluran yang ada di depan rumah atau toko kita sendiri.
Kesimpulan
Genangan yang tetap ada adalah alarm bahwa ada yang tidak sinkron antara perencanaan dan realita di lapangan. Kita butuh solusi yang terintegrasi: pembangunan yang didasari kajian ahli yang kuat, serta pengawasan dan perawatan yang dilakukan secara kolektif. Jangan sampai anggaran besar habis hanya untuk “membuat kolam” baru di sepanjang jalan, sementara air tetap enggan mengalir ke tempat yang semestinya.( Mr )










