Optimalkan Penerimaan Pajak, Hotel dan Restoran di Kudus Dipasang Tapping Box

oleh -5 views
Kepala Bidang Perencanaan dan Operasional Pendapatan Daerah Famny Dwi Arfana, usai menyerahkan alat tapping box di salah satu hotell di Kudus (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – 50 hotel dan restoran di Kudus hari ini mulai dipasangi alat Tapping Box. Alat ini adalah berupa sebuah gadged yang akan merekam transaksi dari wajib pajak dengan hotel atau restoran di Kudus.

Menurut Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Kudus Eko Djumartono melalui Kepala Bidang Perencanaan dan Operasional Pendapatan Daerah Famny Dwi Arfana, alat ini untuk mendukung transparasi pembayaran pajak oleh wajib pajak (WP) yang berasal dari kedua usaha tersebut.

“Hari ini akan dipasang sebanyak 15 unit dahulu dari 50 yang telah kami persiapkan. Untuk memonitoring WP di hotel maupun restoran tersebut,” ujar Famni, Senin (21/12/2020).

Sehingga dalam membayar pajak ke pemkab nanti bisa sesuai dengan pemasukan yang didapat oleh pelaku usaha hotel ataupun restoran tersebut. Serta menghindari adanya kebocoran pajak.

“Tapping box akan dipasang di hotel dan restoran, fungsinya untuk mencatat atau menangkap semua transaksi yang kemudian tercetak oleh printer point of sales,” tuturnya.

Menurutnya, hotel, restoran, dan juga kos-kosan merupakan sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang siginifikan. Dia pun berharap, PAD Kabupaten Kudus akan terus meningkat dari sektor tersebut.

“Wajib pajak nanti menginput secara manual. Misal ada pelanggan, kemudian diinput di alat pembayaran tersebut yang langsung terintegrasi dengan sistem kami,” katanya.

Diakui oleh Famni dengan penyediaan alat tersebut belum benar-benar menjamin transparansi pengelola kedua kegiatan usaha tersebut mengingat sifatnya masih input data manual.

“Ya bisa saja wajib pajak nakal tidak menginput data pengunjung misalnya,” kata dia.

Untuk 50 alat pembayaran terintegrasi tersebut, kata dia, merupakan bentuk kerja sama dengan Bank Jateng. Sebanyak 33 alat diberikan pada pelaku usaha hotel. Sedang 17 sisanya diberikan pada restoran-restoran besar di Kudus.

Khusus untuk restoran yang telah memiliki sistem terintegrasi, lanjutnya, hanya akan dipasangi alat perekam saja. Sehingga aktivitas transaksi di restoran tersebut bisa turut terekam di sistem pemkab.

“Ke depan, kami akan menambah alat lagi untuk memaksimalkan pendapatan dari sektor pajak,” tandasnya.

Sementara untuk realisasi pajak sampai saat ini, tambah dia, telah melebihi target. Yakni sebesar Rp 114,44 miliar dari target sebesar Rp108,15. Atau jika dipersenkan, realisasi penerimaan kini berada di angka 105,81 persen.

Dari jumlah tersebut, kata dia, ada sebanyak sembilan pos penerimaan pajak yang sudah mencapai target dan hampir mencapai target. Sementara dua sisanya, masih jauh di bawah target.

Dua pos tersebut, adalah pajak pengambilan bahan galian golongan C atau mineral bukan logam dan batuan yang masih kosong. Kemudian pada pos penerimaan pajak sarung burung walet juga baru terealisasi Rp 7,97 juta dari rencana Rp 17,8 juta.

“Untuk bahan galian golongan C memang belum ada izin dari Pemprov Jateng sehingga aktivitas galian C belum normal seperti sebelumnya,” sambungnya.

Sementara untuk sarang burung walet, Famny mengatakan memang ada satu perusahaan besar yang tutup. Sementara yang ada sekarang, adalah perusahaan kecil dan pemasukan yang diterima sebelum masa pandemi, sedangkan saat pandemi sepi transaksi.

Sementara untuk pajak yang sudah melampaui target adalah pajak restoran yang mencapai Rp 6,23 miliar atau 116,07 persen dari target sebesar Rp 5,37 miliar.

Untuk diketahui, penerimaan pajak daerah Kabupaten Kudus sendiri berasal dari 11 pos penerimaan pajak daerah. Yakni meliputi pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, dan pajak penerangan jalan.

Kemudian untuk pajak lainnya, adalah pajak mineral bukan logam batuan, PBB, pajak parkir, pajak air tanah, pajak sarang burung walet dan bea perolehan hak tanah bangunan. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :