Pasang Gambar “Palu Arit” Besar di depan Kamar Kosnya, Mahasiswa Ini Diperiksa Polisi

oleh -3,199 kali dibaca
Seorang warga sedang melihat lokasi kamar yang titainya ditemukan gambar Palu Arit di Desa Dersalam, BAe, Kudus (Fot0: YM)

Kudus, isknews.com – Sebuah rumah kos-kosan di Desa Dersalam RT 03 RW 04, Kecamatan Bae, Kudus pada malam itu digerebeg oleh sejumlah aparat kepolisian Polres Kudus. Pasalnya keberadaan salah satu kamar kos yang berada di lingkungan kos-kosan itu diketahui menggambari kerai bambu yang ada luar depan kamarnya dengan Gambar Palu Arit, Sabtu (16/03/2023).

Menurut penuturan Sukirno, Ketua RW 04 Desa Dersalam, sebagai pihak yang melaporkan pertama kali adanya keresahan warga akibat munculnya lambang organisasi terlarang di lingkungannya tersebut ke pihak kepada Kepala Desa, ternyata di dalam kamar kos RI mahasiswa (20) asal Demak ini juga membuat berbagai tulisan tulisan di dinding kamar yang berisi hujatan terhadap pemerintah Indonesia saat ini.

“Sebelumnya yang bersangkutan sudah pernah kami ingatkan. Kami pernah berkomunikasi kepada pelaku dan menanyakan tujuan pemasangan gambar “Palu dan Arit” di kerai bambu depan kamar kosnya. Pengakuan mahasiswa itu hanya sekedar iseng saja memasang gambar. Dan kemudian saya meminta kepada pelaku untuk mencopotnya,” kata Sukirno saat ditemui di rumahnya, Senin (18/03/2024).

Sukirno berfikir saran yang dia sampaikan ke mahasiswa itu telah dilaksanakan, namun pada Sabtu itu, setelah layar banner didekat kamar kosnya tersingkap, ternyata pelaku malah memasang gambar tersebut, bahkan lebih besar, di kerai bambu yang menuju ke kamarnya dan tampak terlihat dari luar pagar lngkungan kos-kosan itu,” ujar Sukirno.

Dikatakan olehnya, bahwa para mahasiswa yang kostnya masih dalam satu lingkungan dengan rumah kontrakan yang dijadikan Sekretariat PMII Komisariat IAIN Kudus itu sebelumnya juga pernah ia tegur terkait dengan pemasangan bendera merah putih saat peringatan hari Kemerdekaan yang kami anggap serampangan.

“Karena saat itu bendera hanya diikat di tiang lampu penerangan depan kostnya, sehingga kami tegur para penghuni kos-kosan itu untuk memperlakukan bendera kita yang semestinya dengan dibuatkan tiang tersendiri meski sederhana,” ujar Sukirno.

Diceritakannya, malam itu, karena warga sudah menganggap aksi ini meresahkan, maka akhirnya memaksa Sukirno melaporkannya kepada Kepala Desa Dersalam. Oleh pihak kepala desa, kemudian diteruskan kepada petugas Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang akhirnya melaporkannya kepada aparat Polres Kudus.

“Tak berapa lama sejumlah petugas polisi tiba di lokasi dan melakukan penggeledahan di kamar kos, petugas juga menemukan gambar corat-coret di tembok kamar yang berisi hujatan kepada pemerintah, logo organisasi terlarang dan sejumlah senjata tajam. Saat itu, mahasiswa yang bersangkutan sedang pulang kerumahnya di Demak,” kata Sukirno.

Diketahui RI adalah mahasiswa Program Studi Pemikiran Politik Islam (PPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Kudus, malam itu saat yang bersangkutan ditelepon dan bersedia datang ke lokasi penggerebegan, RI langsung dibawa ke Mapolres Kudus untuk diperiksa lebih lanjut.

“Agar kasus-kasus yang meresahkan warga tidak terjadi lagi, kami berharap pihak Pemdes membuat payung hukum atau peraturan yang mengatur ketertiban keberadaan rumah kos agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pintanya.

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama IAIN Kudus, Dr. H. Kisbiyanto membenarkan bahwa yang bersangkutan adalah benar mahasiswa dari Program Studi Pemikiran Politik Islam (PPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Kudus.

“Saya memang sudah bertemu dengan mahasiswa yang bersangkutan dan dia mengaku hal itu dilakukan hanya iseng saja dan luapan sesaat setelah membaca buku-buku literature terkait ideologi,” ujar Kisbiyanto.

Kisbiyanto mengaku kini masih menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan aparat Polres Kudus kepada mahasiswa tersebut. Namun demikian dari keterangan polisi yang diterimanya, mahasiswa yang bersangkutan juga hanya sekedar iseng dan tidak serius mendalami idelogi terlarang tersebut.

“Ya saya hanya melihat sebatas itu dan hanya sekedar ekspresi euphoria anak-anak muda saja. Namun demikian, kami hingga saat ini belum menerima hasil dari pemeriksaan yang dilakukan polisi,” ucapnya.

Ia menambahkan, selama ini kalangan mahasiswa di kampus dilindungi undang-undang yang mengaturnya. Mahasiswa pun dibebaskan belajar banyak idelogi apapun di kampus, namun untuk mengaplikasikannya belum tentu diperbolehkan.

Selama ini pihak IAIN Kudus yang menjadi bagian dari Kementrian Agama selalu menyuarakan moderasi beragama. Selain itu, tidak memperbolehkan berhaluan esktrim kanan dan ekstrim kiri.

“Hal ini sudah diajarkan baik melalui mata kuliah, seminar dan diskusi serta menjadi misi utama Kementrian Agama termasuk di IAIN Kudus,” terang Kisbiyanto.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Kisbiyanto mengaku menekankan kembali kepada kalangan mahasiswa untuk memahami moderasi beragama. Selain itu, mengutamakan kepentingan berbangsa dan bernegara.

“Untuk mahasiswa yang bersangkutan, juga akan kami bina secara khusus melalui pendekatan formal melalui personal dan pendekatan kepada keluarganya. Yang jelas apa yang dilakukan mahasiswa yang bersangkutan adalah ekspresi sesaat dan temporer saja. Hal itu dibuktikan dengan para dosen dan rekan-rekannya yang setiap saat bersama mahasiswa tersebut,” imbuhnya.

Sementara itu, Kapolres Kudus AKBP Dydit Dwi Susanto yang berupaya ditemui usai pelantikan Sekda Kudus di Pendopo Kudus, enggan berkomentar terkait hal tersebut. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.