PD Apotik Kudus Tahun 2020 Janjikan Laba 10 Persen Lebih Baik

oleh
Jasiran Direktur PD Apotik Kudus (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Perusahaan Daerah (PD) Apotik Kudus merupakan satu dari 5 Perusda milik Pemerintah Kabupaten Kudus yang dinilai memiliki performa paling buruk. Tercatat sejak tahun 2014 hingga tahun 2017 terus menerus menanggung angka kerugian.

Ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kudus Nomor 10 tahun 2005 Tentang Perusahaan Daerah Apotek Kabupaten Kudus. Kinerja perusahaan ini tak membanggakan, dua direktur sebelumnya terbilang kurang berhasil mendongkrak pertumbuhan apotik.

Perusahaan Daerah (PD) ini bahkan pernah mencatatkan laba perolehan terburuk di tahun 2017 dengan hanya berhasil memproleh pemasukan sebesar Rp 2 juta saja.

PD Apotik Pemda, begitu biasanya dikenal kini terhitung sejak bulan Mei 2019, dipimpin oleh Jasiran, mantan guru madrasah swasta yang telah diberikan kepercayaan oleh Bupati non aktif HM Tamzil kala itu, untuk menduduki jabatan sebagai direktur PD Apotik.

TRENDING :  Santri Juga Bisa Jadi Pengusaha Lho, Ini Buktinya…

Dia mengaku 8 bulan menjabat sebagai nahkoda baru segala upaya telah ia lakukan untuk memperbaiki kesehatan perusahaan.

Jasiran saat berada di outlet Apotik Pemda Kudus (Foto: YM)

Ditemui di kantor PD Apotik Kudus di jalan Loekmono Hadi kecamatan Jati, Jasiran mengaku sudah melakukan sejumlah upaya untuk meraih dan memasarkan obat-obatnya. Salah satunya adalah dengan menggandeng dokter-dokter yang besedia merekomendasikan penebusan resep obat di apotik yang dikelolanya.

“Hingga saat ini sudah 6 dokter yang bergabung bersama kami, tak hanya itu upaya kami juga sudah menyurati pimpinan BPJS Cabang Kudus untuk berbagi dokter agar bersedia berkongsi pembelian obatnya ke kami,” katanya saat ditemui sejumlah awak media, Kamis (09/01/2019).

Di sektor tampilan fisik dirinya juga sudah memperbaiki kantor dan outlet apotik serta front office, termasuk inventarisasi meubelair dan alat kesehatan (Alkes) yang tercatat sebagai aset perusahaan.

“Namun sempat susah ditemukan keberadaannya karena sudah tercecer kemana-mana,” ungkapnya.

TRENDING :  Penerimaan Pajak Daerah Semester I di Kudus Belum Penuhi Target

Diceritakannya, saat dirinya menduduki jabatan pimpinan di Apotik ini, telah ditinggali warisan hutang sebesar Rp 1.598.901.662 oleh manajemen sebelumnya. Sementara penyertaan modal dari Pemkab saat ini sudah tak ada lagi karena pada tahun 2013 PD tersebut sudah mengajukan penyertaan modal sebesar Rp2,296 miliar yang belum lunas terbayarkan hingga kini.

“Jadi saat ini praktis konsentrasi saya adalah bayar cicilan modal ke Pemkab,” katanya.

Jasiran mengaku saat ini oleh Pemkab melalui Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Kudus Dwi Agung Hartono di tahun 2019 kemarin ini dia hanya ditarget minimal sama dengan perolehan laba tahun 2018 yaitu sebesar RP 44 juta.

“Tapi dalam realisasinya, kami berhasil menorehkan lebih besar dari angka itu meski hanya sedikit,” ujar dia.

Kedepan di tahun 2020, Jasiran menjanjikan perolehan 10 persen lebih baik dari perolehan tahun 2019 dengan target laba  menjadi Rp 49 423 983.

TRENDING :  Ratusan Warga Antusias Ikuti Pengobatan Gratis

“Target itu perinciannya adalah total target laba tahun 2020 sebesar Rp 267 195 712 yang dikurangi beaya penyusutan, pajak pendapatan dan admin bank sebesar Rp 217 771 729 ,Sehingga memperoleh laba bersih di angka Rp 49 423 983 yang saya canangkan itu,” tuturnya.

Kini menurutnya selain mengejar target perolehan angka, Jasiran mengaku juga lebih meningkatkan marketing performance, memerintahkan staf marketingnya untuk lebih berkonsentrasi pada penetrasi pasar obat dan meningkatkan raihan kerjasama dengan dokter-dokter di lapangan.

“Target kami bila pada 2019 kemarin sudah ada 6 dokter bekerjasama dengan kami, maka ditahun ini kami berupaya meningkatkan kuantitas menjadi 20 orang dokter, itu harapan kami, termasuk pula meningkatkan etos kerja 16 orang staf yang ada di kantornya, ” tandasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :