Pelajar Kudus Saksikan Simulasi Kecelakaan, Satlantas Ingin Tekan Risiko di Jalan

oleh -143 Dilihat
Foto: Dok. Polres Kudus

Kudus, isknews.com – Guna menekan angka kecelakaan lalu lintas di kalangan pelajar, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Kudus menggelar program edukatif berupa simulasi kecelakaan secara langsung. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan pelajar dari berbagai jenjang, mulai dari SD, SMP, hingga SMA, dan dilaksanakan dengan pendekatan visual yang menggugah kesadaran.

Kasat Lantas Polres Kudus, IPTU Royke Noldy Radean, menjelaskan bahwa program ini lahir dari keprihatinan atas tingginya kasus kecelakaan di wilayah Kudus, terutama yang melibatkan usia produktif. Menurutnya, metode edukasi konvensional seperti sosialisasi di sekolah belum cukup memberikan dampak yang signifikan.

“Kami ingin menyentuh kesadaran pelajar dengan cara yang lebih nyata dan membekas. Melihat langsung simulasi kecelakaan dan penanganannya di lapangan diharapkan bisa membuka mata mereka tentang pentingnya keselamatan di jalan raya,” ujar Royke.

Dalam simulasi tersebut, pelajar diperlihatkan kronologi kecelakaan akibat kelalaian berkendara, mulai dari kecelakaan ringan hingga berat. Mereka juga menyaksikan proses evakuasi korban oleh petugas, termasuk bagaimana respons cepat dapat menyelamatkan nyawa.

Royke menambahkan bahwa pendekatan berbasis visual ini dirancang agar para pelajar tidak hanya memahami aturan lalu lintas, tetapi juga merasakan dampak emosional dari kecelakaan. “Visualisasi ini diharapkan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan, sehingga mereka lebih hati-hati ketika suatu saat berada di balik kemudi,” tuturnya.

Data Satlantas mencatat, sepanjang Januari hingga Mei 2025, terjadi sekitar 400 kecelakaan lalu lintas di Kudus. Sebagian besar korban merupakan usia muda yang masih duduk di bangku sekolah. Kondisi ini mendorong Satlantas untuk terus memperluas cakupan edukasi, tidak hanya bagi pelajar, tetapi juga masyarakat umum.

“Kami juga mempertimbangkan untuk melakukan simulasi menggunakan kendaraan besar seperti truk. Ini untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya yang lebih kompleks di jalan raya,” imbuh Royke.

Ia pun menekankan pentingnya membangun budaya tertib berlalu lintas sejak dini. “Budaya tertib sebenarnya sudah mulai tumbuh di Kudus, tetapi masih ada kelalaian yang harus terus kita antisipasi. Kami akan terus berinovasi demi keselamatan bersama,” pungkasnya.

Dengan pendekatan yang lebih menyentuh secara emosional, diharapkan kesadaran berlalu lintas para pelajar semakin meningkat dan angka kecelakaan di Kudus dapat ditekan secara signifikan. (AS/YM)