KUDUS, ISKNEWS.COM – Memahami karakter biji kopi hingga menguasai teknik penyeduhan menjadi bagian dari pembelajaran yang dijalani 16 peserta pelatihan barista di Kabupaten Kudus. Melalui program yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, dan UKM (Disnakerperinkopukm) Kabupaten Kudus tersebut, peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan sebagai persiapan memasuki industri kopi maupun mengembangkan usaha secara mandiri.
Pembelajaran berlangsung secara bertahap, dimulai dari pengenalan jenis biji kopi, proses pascapanen, tingkat sangrai atau roasting, hingga praktik penyeduhan. Peserta juga mendapat materi tentang pelayanan konsumen agar mampu menyajikan minuman sesuai kebutuhan dan selera pelanggan.
Salah satu peserta, Fahmi (37), mengatakan pelatihan tersebut memberinya kesempatan untuk memperluas pengetahuan mengenai kopi. Sebelum berlatih membuat berbagai minuman, peserta terlebih dahulu belajar mengenali karakter kopi melalui metode cupping atau mencicipi kopi.
Dalam sesi tersebut, peserta dilatih membedakan rasa dan aroma kopi berdasarkan jenis biji maupun tingkat sangrainya. Pemahaman ini menjadi dasar untuk mengenali karakter minuman yang dihasilkan sebelum menentukan teknik penyeduhan yang tepat.
“Awal menjadi barista itu tidak langsung membuat kopi, tetapi kita diasah cara mencicipi kopi, namanya cupping. Jadi, kita dilatih lidah untuk merasakan kopi. Kopi dark seperti apa, robusta seperti apa, arabika seperti apa, sampai kopi yang diproses medium, light, dan honey. Kita diajari untuk membedakan,” ungkap Fahmi, Jumat (23/10).
Menurutnya, pengetahuan tentang karakter kopi menjadi bekal penting bagi seorang barista. Dengan mengenali perbedaan rasa dan aroma, barista dapat menentukan perlakuan yang sesuai terhadap biji kopi sehingga hasil seduhan bisa disesuaikan dengan cita rasa yang diinginkan.
Setelah mempelajari karakter kopi, peserta memasuki tahap praktik menggunakan sejumlah metode penyeduhan manual atau manual brew. Teknik yang diperkenalkan meliputi tubruk, V60, AeroPress, French press, serta Vietnam drip.
Fahmi mengaku memilih pelatihan tersebut karena menyukai kopi dan ingin mencoba metode penyeduhan yang lebih beragam. Selama ini, ia terbiasa membuat kopi sendiri di rumah dengan cara tubruk. Sementara itu, penggunaan teknik lain belum banyak dilakukan karena membutuhkan peralatan khusus.
“Saya tertarik memilih barista karena suka kopi. Saya pribadi penggemar kopi dan penasaran dengan metode-metode penyeduhan kopi. Kalau bikin sendiri di rumah, biasanya mentoknya tubruk. Kalau mau V60 atau AeroPress, kita harus membeli alatnya,” katanya.
Selama mengikuti pelatihan, Fahmi dapat mempelajari teknik penyeduhan yang sebelumnya jarang dicobanya. Ia juga memperoleh wawasan mengenai cara mengolah kopi agar menghasilkan karakter rasa tertentu.
Namun, menurut Fahmi, keterampilan seorang barista tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya membuat kopi sesuai selera sendiri. Barista juga harus mampu memahami keinginan konsumen dan menyesuaikan minuman yang disajikan dengan permintaan mereka.
Sebagai contoh, ketika pelanggan menginginkan kopi dengan karakter fruity atau cita rasa menyerupai buah-buahan, barista perlu mengetahui cara menyajikan kopi yang sesuai dengan preferensi tersebut.
“Enak bagi kita, bagi barista belum tentu enak juga bagi pelanggan. Di pelatihan ini kita selalu ditekankan untuk melayani pelanggan benar-benar sesuai yang diminta. Dia penginnya kopinya fruity, misalkan, kita harus bisa menerjemahkan kopi itu disajikan dengan rasa fruity tadi,” jelasnya.
Fahmi berharap pengetahuan yang didapat selama pelatihan dapat menjadi modal untuk bekerja di industri kopi atau membuka usaha sendiri. Meski merasa telah memperoleh bekal keilmuan yang cukup, ia menyebut masih perlu mempersiapkan kebutuhan lain apabila ingin merintis bisnis kedai kopi, terutama permodalan.
“Untuk persiapan dunia usaha, kita juga butuh modal dan lain sebagainya. Tapi untuk ilmu, insyaallah sudah siap. Kita sudah dibekali pengetahuan tentang kopi. Untuk eksekusi setelah lulus nanti, apakah membuka usaha atau lainnya, masih ada faktor lain, salah satunya modal usaha,” ujarnya.
Sementara itu, instruktur pelatihan barista, Oktavianus Boli, menjelaskan bahwa materi pembelajaran diawali dengan penguatan pengetahuan dasar mengenai kopi. Peserta diperkenalkan dengan jenis biji, proses pascapanen, tingkat sangrai, serta faktor penyeduhan seperti temperatur air dan ukuran gilingan.
Menurut Boli, pemahaman tersebut diperlukan agar peserta dapat menentukan teknik pengolahan yang sesuai dengan karakter kopi. Sebab, perbedaan tingkat sangrai dapat memengaruhi rasa dan aroma seduhan, termasuk ketika menggunakan jenis biji yang sama.
Untuk memperjelas materi, peserta mempelajari perbedaan kopi dengan tingkat sangrai light roast, medium roast, dan dark roast. Mereka diajak mengenali karakter yang muncul pada setiap tingkat sangrai sebagai dasar menentukan teknik penyeduhan.
“Selama ini yang saya kedepankan adalah pemahaman dasar. Ketika mereka sudah berada di dunia kerja, mereka bisa melakukan penyesuaian. Kopi seperti ini harus diseduh dengan temperatur air seperti apa, ukuran gilingannya seperti apa,” terangnya.
Selain memahami biji dan teknik seduh, peserta juga dilatih menjalankan pelayanan di meja bar atau area kerja barista. Mereka berlatih menyambut pelanggan, menjelaskan produk, serta menjawab pertanyaan seputar jenis kopi dan proses pascapanennya.
Simulasi tersebut dirancang menyerupai suasana kerja di kedai kopi. Peserta bergantian berperan sebagai barista dan pelanggan, termasuk mempraktikkan cara menghadapi konsumen yang baru mengenal kopi dan membutuhkan penjelasan mengenai minuman yang dipesan.
Boli menyebutkan, materi yang dibimbingnya berlangsung selama 15 hari, di luar tiga hari kegiatan motivasi. Pelatihan tersebut dimulai pada 13 Oktober dan direncanakan berjalan hingga sekitar akhir Oktober.
Pada tahapan berikutnya, peserta dijadwalkan mempelajari pengoperasian mesin espresso dan pembuatan berbagai minuman berbasis kopi. Materi itu mencakup pembuatan cappuccino, latte, serta aneka kreasi minuman kopi kekinian.
Ia menilai, penguasaan materi dasar akan membantu peserta beradaptasi ketika mulai bekerja di kedai kopi. Meski demikian, kemampuan barista tetap perlu dikembangkan melalui latihan rutin dan pengalaman langsung di lapangan.
“Tidak ada yang instan. Tapi untuk dasar, mereka tidak akan kebingungan ketika berada di balik bar yang sesungguhnya. Dasar penyeduhan itu air, ukuran gilingan, suhu, jenis air, dan kopi. Itu yang harus dipahami,” paparnya.
Kepala Disnakerperinkopukm Kabupaten Kudus, Catur Widiyatno, mengatakan pelatihan barista menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Program tersebut dinilai relevan dengan berkembangnya usaha kedai kopi yang membuka peluang pekerjaan dan bisnis baru.
Menurut Catur, kemampuan teknis perlu diimbangi dengan sikap profesional dan pengakuan kompetensi. Dengan bekal tersebut, peserta diharapkan mempunyai peluang lebih luas, baik untuk bekerja di kafe maupun membangun usaha kopi secara mandiri.
Peserta yang memenuhi ketentuan dapat memperoleh sertifikat pelatihan dari Balai Latihan Kerja (BLK). Sementara itu, sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) diberikan melalui proses asesmen sesuai persyaratan yang berlaku.
Ia menambahkan, peserta harus memenuhi ketentuan kehadiran minimal 70 persen agar dapat memperoleh sertifikat sesuai aturan program pelatihan.
“Saya berharap peserta memiliki keterampilan yang dapat diterapkan di dunia kerja maupun menjadi bekal untuk mengembangkan usaha kopi secara profesional,” katanya. (AS/YM)






