Pemilik Bengkel Las Jati Wetan Kudus Berinovasi dari Pesanan Permintaan Konsumen

oleh -1.827 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Bengkel las milik Nur Kholis (46), terletak di Jati Wetan Kecamatan Jati, Kudus. Tepatnya di Jalan Lingkar Barat Kudus, Area Sawah depan Pabrik Pura Unit UPL.

Pemilik mengaku bisa berinovasi lantaran ada tantangan produk (model baru) permintaan konsumen.

“Belajar dari konsumen, terutama jika ada model baru,” katanya kepada isknews.com, Senin (29/11/2021).

Selain itu, kata Nur Kholis, dalam setiap bisnis dan usaha, yang paling penting adalah konsumen. Karena konsumen ini yang akan menjadi faktor penentu apakah bisnis bisa bertahan atau tidak. Sehingga sangat penting untuk mempertimbangkan permintaan konsumen agar bisnis tetap bisa diterima di kalangan masyarakat.

Pihaknya hingga saat ini telah menerima pesanan sebagian besar buat dengan custom atau pesanan, yang sering itu palet, bok kotak loker, penekuk beton, bok seni, melipat plat. Ada juga yang pesan mesin pembuat kacang telur dan kacang atom

Sementara pelanggannya sebagian besar dari pelanggan lama, akan tetapi dari pemanfaatan media online juga berpengaruh, “Taunya orang jika cari bengkel las di internet dengan mengetik di google, Bengkel Las Jati Wetan Pak Noor, disitu ada nomor telepon nya, jadi pelanggan langsung menghubungi,” terangnya.

Asal Mula…

Nur Kholis menceritakan awal berdiri bengkel, sekitar tahun 70an dari usaha orang tua dulu, waktu itu masih bengkel usaha tambal ban sepeda onthel di rumah (Jati wetan).

Kemudian terkumpul modal jadi las karbit, “sedikit demi sedikit bengkel las karbit, berkembang jadi las listrik di tahun 80an, bertambahnya waktu tambah alat, las CO, las  karbon dan cutting plasma,” jelasnya.

Menurutnya, untuk membuat usaha ini tidak perlu sekolah tinggi, namun lebih fokusnya itu di tekad dan keyakinan, selama orang itu berpikir positif dan bercita-cita insyaAllah akan tercapai, meski prosesnya beda-beda.

Dulu tahun 1995-nan masa peralihan sebelum ayah Nur Kholis meninggal di tahun yang sama, menginginkan anaknya sekolah tinggi, namun realitanya tidak seperti yang di harapkan.

“Setelah menamatkan jenjang STM, saya kekeh ingin kerja namun orang tua ingin anaknya kuliah. Waktu itu dulu sekolah pelayaran di Semarang, kira-kira semester 2, namun behenti di tengah jalan karena ayah meninggal,” tutur Nur Kholis. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :