Pengaduan Konsumen Capai 1.819 Kasus, OJK Intensifkan Edukasi Keuangan di Jateng

oleh -83 Dilihat
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Regional, isknews.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Tengah mencatat hingga 31 Juli 2025 telah menerima sebanyak 1.819 pengaduan konsumen terkait layanan sektor jasa keuangan. Untuk menekan angka tersebut, OJK semakin gencar melaksanakan kegiatan edukasi keuangan kepada masyarakat di berbagai daerah.

Kepala OJK Provinsi Jawa Tengah, Hidayat Prabowo, menjelaskan bahwa dari total pengaduan yang masuk, sektor perbankan mendominasi dengan 1.078 aduan, diikuti fintech legal sebanyak 360 aduan, pembiayaan 284 aduan, asuransi 39 aduan, LJK lainnya 44 aduan, serta non LJK 14 aduan.

“Sebagai langkah antisipasi, OJK telah melaksanakan 205 kegiatan edukasi literasi keuangan sepanjang 2025 yang diikuti 40.544 orang, mulai dari petani, pelajar, hingga pelaku UMKM. Harapannya, pemahaman masyarakat terhadap produk jasa keuangan meningkat sehingga pengaduan bisa ditekan,” ujarnya, Jumat (29/8/2025).

Meski pengaduan konsumen cukup tinggi, kondisi sektor jasa keuangan Jawa Tengah per Juni 2025 tetap dalam kondisi stabil dan terjaga. Hal ini didukung dengan likuiditas yang memadai dan tingkat risiko yang terkendali.

Aset perbankan di Jawa Tengah tercatat tumbuh 1,69 persen (yoy) menjadi Rp591,02 triliun, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 1,67 persen menjadi Rp468,90 triliun, dan penyaluran kredit tumbuh 1,80 persen menjadi Rp421,88 triliun.

Sektor lain juga menunjukkan tren positif, mulai dari BPR/S yang tumbuh 2,60 persen, perbankan syariah dengan pertumbuhan aset 9,82 persen, hingga fintech P2P lending yang melonjak 30,42 persen yoy dengan total penyaluran Rp6,87 triliun.

Selain itu, pasar modal di Jawa Tengah juga terus bergairah. Jumlah investor reksadana per Juni 2025 mencapai 1,65 juta (naik 12,70 persen yoy), investor saham 850.366 (naik 24,80 persen yoy), dan investor SBN 106.028 (naik 17,10 persen yoy).

“Secara umum, sektor jasa keuangan di Jawa Tengah masih berada di jalur yang sehat. Namun, edukasi keuangan akan terus kami dorong agar masyarakat semakin cerdas dan terlindungi dalam menggunakan produk jasa keuangan,” tegas Hidayat. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :