Kudus, isknews.com – Sektor industri kecil menengah tak luput dari dampak pandemi Covid-19. Begitu juga para perajin kuningan. Mereka harus tetap bertahan di tengah menurunnya kapasitas pembelian karena banyaknya kegiatan yang terbatas untuk meminimalisasi dari penularan virus Korona.
Cerita perjuangan perajin kuningan diungkapkan oleh Ahmad Fauzi (35), warga Desa Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Dia merasakan betul bertahan dan tetap berjuang di era pandemi. Beberapa bulan lalu, ada karyawannya yang terpaksa diliburkan lantaran hampir tidak ada pesanan yang masuk.
Diakuinya, sebelum pandemi biasa mengerjakan ribuan macam kerajinan kuningan, mulai dari pin, emblem, lencana, dan lain sebagainya hanya dalam tenggang waktu tiga hari saja. Selanjutnya, hasil kerajinan tersebut ia kirim ke berbagai agen maupun distributor di luar Jateng.
Kerajinannya sendiri di hargai mulai dari Rp. 5.000 hingga Rp. 45.000 per satuannya.Selain itu, harga juga dipengaruhi tingkat kerumitan.
“Pernah sebelum pandemi, kita bisa menyelesaikan ribuan pesanan hanya dalam waktu satu minggu. Pengerjaan yang paling mudah itu bikin pin, itupun kita cuma butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikan 1.000 buah, kalau yang paling sulit bikin emblem, karena bentuknya bervariasi,” jelasnya.

Sepinya orderan akibat pandemi terbantu sang adik Lukman Hakim (25), Ia memanfaatkan media sosial maupun marketplace lainnya guna mendongkrak kembali usahanya.
Perlahan tapi pasti, orderan akan kerajinan kuningan mulai berdatangan melalui market place online tersebut. “Meski belum seramai dulu, tapi dengan mulai masuknya berbagai orderan ini, kami yakin akan bangkit dari pandemi,” harapnya optimis. (AJ/YM)







