Perayaan Imlek, Perajin Dupa Di Kudus Alami Lonjakan Pemesanan

oleh -353 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Tahun Baru Imlek selalu dirayakan oleh warga Tionghoa di Kabupaten Kudus dengan penuh suka cita. Salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan mereka adalah bersembahyang untuk mendoakan para leluhur. Menjelang momen tersebut, kelengkapan peribadatan berupa dupa atau hio, ramai diburu warga.

Ramainya pesanan juga dirasakan oleh perajin dupa di kota kretek ini. Tahun Baru Imlek 25 Januari 2020 besok rupanya mendatangkan rezeki bagi produsen dupa di Kabupaten Kudus. Permintaan dupa yang dipakai untuk sembahyang mengalami peningkatan pesat.

‎Perajin dupa, Samuel Hidayat (28), mengatakan penjualan dupa mengalami peningkatan 50 hingga 70 persen atau mencapai sekitar 646 kilogram per pekan menjelang Imlek.

“Normalnya pesanan 30-40 kilogram per hari untuk kebutuhan personal, sedangkan kelenteng itu sampai 100 kilogram per minggunya,” ujarnya saat ditemui di tempat produksinya Desa Loram Kulon RT 3 RW 2‎, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Dia menjelaskan, dalam sekali proses produksi pembuatan‎ sedikitnya menghasilkan sekitar 150 kilogram.

Proses pembuatan yang paling lama adalah pengeringannya sehingga minimal butuh waktu selama dua hari.

“Dupa harus dijemur sampai benar-benar kering, makanya butuh waktu minimal sampai dua hari sekali produksi. Kalau tidak kering nanti nggak mau menyala saat dibakar,” jelas dia.

Sammy sapaannya, menceritakan, belajar untuk membuat dupa itu dari nol sejak bulan Agustus 2019 lalu.

Kendati demikian, kedekatannya dengan sejumlah penganut konghucu ‎dan jaringannya ke kelenteng membuatnya cepat memasarkan produk dupanya.

“Dupa buatan saya ini sudah sampai ke Semarang, Salatiga, dan beberapa kota lainnya,” ujar dia.

Dua orang pekerja perajin dupa saat sedang melakukan packing (Foto: YM)

Kendati banyak permintaan, kata dia, tak semuanya mampu dilayani karena jauhnya lokasi pengiriman.

Hal itu membuat biayanya membengkak karena harus menanggung biaya pengirimannya.

“Misalnya ke Batam saya ada pesanan sampai 400 kilogram setiap dua pekan. Tapi biaya kirimnya nggak kuat saya,” jelas dia.

Hal itu membuatnya lebih fokus untuk melayani kebutuhan konsumen yang lokasinya jauh leih dekat.

Permintaan dupanya juga masih cukup tinggi, dan setiap kota memiliki warna dupanya yang berbeda.

‎Misalnya Kota Semarang lebih banyak memesan dupa warna kuning, sedangkan Kota Salatiga warna hitam dan Kabupaten Kudus warna merah.

“‎Sebenarnya warna dupa itu walaupun berbeda-beda, tetapi harganya tetap sama saja Rp 40 ribu per kilogram. Biarpun mendekati Imlek juga harganya tetap sama,” ucapnya.

Dupa yang diberi merek SA Hio 168 itu, kata dia, tidak sembarangan memberi nama. Dia meminta petunjuk dewa sebelum memakai nama itu.

Termasuk gambar Dewa Laut yang menjadi gambar dari dupanya itu juga hasil meminta petunjuk dari kelenteng.

“Kelenteng di Kudus itu rata-rata Dewa Bumi‎, tadinya saya mau pakai gambar Dewa Bumi itu untuk bungkus dupanya tetapi tidak boleh. Akhirnya saya pakai Dewa Laut yang dibolehkan,” ujar dia.

Dalam meracik aromanya, dia juga berdoa kepada dewa apakah sudah sesuai atau belum. Jika belum, maka dia akan meracik ulang aroma dupanya.

“Saya sembahyang sama dewa dulu waktu mau meracik, kalau sudah ya. Baru saya akan memakai aroma itu,” ujar dia.

Saat ini dia memiliki berbagai macam aroma dupa. Satu di antaranya aroma dari kayu gaharu yang harganya lebih mahal hampir tiga kali lipat dari harga dupa pada umumnya.

Satu kilogram dupa kayu gaharu, dibanderol sekitar Rp 110 ribu yang mayoritas penyukanya adalah orang umum.

“‎Kelenteng sejauh ini belum ada yang pesan, kebanyakan saya jualnya ritel langsung ke personal,” ujarnya.

Menurutnya, dupa dari kayu cendana jauh lebih mahal karena bahan bakunya mencapai Rp 8 juta per karung.

Sedangkan bahan baku dari kayu gaharu ‎dibanderol sekitar Rp 3 juta per karungnya.

“Kayunya itu dibuat bubuk dulu baru dicampurkan ke dupanya. Karena memakai bahan baku asli harganya jadi lebih mahal,” ujarnya.

Rencananya, dia juga berencana akan membuat dupa yang bisa bertahan hingga 24 jam.

Pasalnya saat ini rata-rata dupa hanya bisa bertahan satu hingga delapan jam sejak pertama kali dinyalakan.

“Dupa yang tahan lama itu akan membuat sembahyangnya juga lebih lama. Tapi nanti akan kami uji coba ketahanan waktunya sesuai,” ujar dia.‎ (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.