Peringatan Hari Raya Waisak Di Rahtawu: Umat Budha Diharap Wujudkan Brahmavihara

oleh -1,104 kali dibaca

Kudus, isknews.comUmat Buddha di wilayah Kabupaten Kudus dan sekitarnya siang tadi memperingati hari raya Waisak yang merupakan hari suci bagi agama Buddha. Waisak dirayakan untuk memperingati tiga peristiwa penting bagi umat Buddha.

Peristiwa penting itu adalah pertama lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 S.M, kedua pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodhgaya) pada usia 35 tahun pada tahun 588 S.M, dan ketiga Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara pada usia 80 tahun pada tahun 543 S.M, dalam agama Buddha tiga peristiwa ini dinamakan “Trisuci Waisak”.

Puncak peringatan hari raya tersebut di laksanakan di halaman Balai Desa Rahtawu Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus, dengan tema “Kembangkan Brahmavihara untuk Kebahagiaan Semua Makhluk” yang diselenggarakan oleh umat Budha Desa Rahtawu bekerjasama dengan sekretariat agama Budha Provinsi Jawa Tengah, Sabtu (20/5/17)

Diikuti oleh sekitar 500 umat Buddha dengan ketua penyelenggara Bante Sujono dari Semarang, dan dihadiri oleh  Sekretaris Agama Budha Provinsi Jateng Supriadi, Calon ketua Komisi-D DPRD terpilih Setya Budi Wibowo, anggota Komisi B DPRD Kudus Ngatman, Bante Kata Manu dari Semarang, Bante Bapa Karo  dari Jepara, Camat Gebog di Wakili Kaur Kesra Kecamatan. Kapolsek Gebog AKP Muhaimin),  Danramil 08/Gebog yang diwakili Babinsa Ds Rahtawu Serda Irmansyah, Kepala Desa Rahtawu Sugiono, Tokoh Agama/Pemuda RT, RW dan Masyarakat Desa Rahtawu.

Sekretaris Agama Budha Provinsi Jateng, Supriadi SAg MM dalam sambutannya menyampaikan, Kita senantiasa berpandangan terang dan berpikiran luhur, tidak hanya untuk umat Buddha khususnya, tetapi juga untuk masyarakat Indonesia dan umat manusia di dunia ini.

Hari Raya Waisak sendiri dikalangan umat Buddha sering disebut dengan hari raya Trisuci Waisak. Disebut demikian karena pada hari Waisak terjadi tiga peristiwa penting, yakni kelahiran Pangeran Sidhartha Gautama, tercapainya penerangan sempurna oleh Pertapa Gautama dan mangkatnya sang Buddha Gautama,” tuturnya.

Pada tiga kejadian tersebut kelahiran, penerangan, kematian yang terjadi pada hari yang sama ketika bulan purnama di bulan Waisak.

Bahwa Sang Buddha Gautama mengajarkan dharma dan hakikat hidup manusia sejati yang dapat menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk memperkuat kerukunan beragama.

Berharap umat Buddha khususnya di Kudus ini dan pada umumnya di Indonesia dapat mewujudkan Brahma vihara untuk kebahagiaan semua makhluk.

Semangat Waisak hendaknya dapat menjadi inspirasi dan pendorong karena nilai-nilai universal pada ajaran Buddha sangat penting untuk membangun bangsa dan negara.

“Akhirnya satu harapan besar dari hari Waisak tersebut adalah bahwa setiap manusia diharapkan dapat merenungi segala perbuatannya dan setiap saat selalu hidup dengan rasa cinta-kasih tanpa kebencian,” ujarnya.

Seperti yang tertulis di dalam Dhamma pada, “Kebencian tidak akan selesai jika dibalas dengan kebencian, tetapi hanya dengan memaafkan dan cinta-kasihlah maka kebencian akan lenyap.” pungkasnya. (YM).

KOMENTAR SEDULUR ISK :