Peringati Haul Raden Syifauddin dengan Sendratari Babat Alas Karangrowo

oleh
Peringati Haul Raden Syifauddin dengan Sendratari Babat Alas Karangrowo
Foto: Kegiatan pementasan sendratari Babat Alas Karangrowo, Rabu (26-09-2018). (Istimewa)

Kudus, ISKNEWS.COM – Peringati Haul Raden Syifauddin atau Mbah Buyut Sipah, ratusan warga Desa Karangrowo arak gunungan dan tombak yang menjadi benda peninggalan Mbah Buyut Sipah, Kamis (27-09-2018). Tak hanya itu, untuk mengenang jasa Mbah Buyut Sipah yang merupakan tokoh cikal bakal desa, warga juga menggelar sendatari untuk mengisahkan perjalanannya di Karangrowo.

Nurhadi, Sekertaris Desa Karangrowo menjelaskan kegiatan haul Mbah Buyut Sipah telah dimulai sejak malam Rabu (26-09-2018). Malam itu, masyarkat disuguhkan dengan pagelaran sendratari yang mengisahkan pemberontakan yang dilakukan sejumlah kadipaten bekas Kasultanan Pajang, hingga menggiring Raden Syifauddin datang ke Kudus guna meredakan gejolak masyarakat di wilayah tersebut.

Pembuka ingatan. Sepeninggalnya Sultan Trenggana, Kerajaan Demak dipimpin oleh Raden Prawoto. Pada saat itu terjadi sebuah pembunuhan Raja Demak yang dilakukan oleh Arya Penangsang, karena ia merasa lebih pantas untuk menggantikan Sultan Trenggana dibandingkan Raden Prawoto.

Setelah berhasil membunuh Raden Prawoto, Arya Penangsang tidak serta merta diangkat menjadi Raja. Tahta Kerjaan waktu, justru jatuh ditangan Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir, yang merupakan menantu dari Sultan Trenggana. Penobatan Sultan Hadiwijaya sebagai Raja karena istrinya merupakan anak pertama dari Sultan Trenggana.

Peringati Haul Raden Syifauddin dengan Sendratari Babat Alas Karangrowo
Foto: Kegiatan pementasan sendratari Babat Alas Karangrowo, Rabu (26-09-2018). (Istimewa)

Melihat Hadiwijaya diangkat menjadi Raja Kerjaan Pajang. Arya Penagsang kemudian menuntut haknya sebagai Raja Kerajaan Demak, dengan menyusun strategi untuk membunuh Hadiwijaya dan melakukan sejumlah perlawanan kepada Kerajaan Pajang. Kemudian Sultan Hadiwijaya melakukan sebuah sayembara untuk membunuh Arya Penangsang. Dalam sayembara tersebut, ia akan menghadiahkan tanah mentaok.

TRENDING :  Dua Proyek Jalan di Kudus TA 2017 Gagal Dilaksanakan

“Sayembara tersebut akhirnya dimenangkan oleh Ki Ageng Pamanahan. Setelah berhasil mengalahkan Arya Penangsang dan memindahkan pusat Kerajaannya dari Demak ke Pajang. Sultan Hadiwijoyo memenuhi janjinya dengan memberikan tanah mentaok kepada Ki Ageng Pamanahan” ungkap Plt Sekertaris Desa Karangrowo, Nur Hadi, Rabu (28-03-2018).

Karena tanah tersebut masih berupa hutan belantara, Ki Ageng pamanahan harus bekerja ekstra melakukan babat alas di daerah tersebut. Bersama Sang Putra, Danang Sutowijoyo, mereka lakukan babat alas dan membangun pemukiman, hingga terbentuklah sebuah daerah yang bernama Mataram. Oleh Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pamanahan diangkat sebagai Adipati Mataram, yang merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Pajang. Setelah Ki Ageng Pamanahan wafat, tapuk pemerintahan Mataram dilimpahkan kepada Danang Sutowijoyo selaku anaknya.

“Di tangan Danang Sutowijoyo, mataram berkembang pesat dan berhasil menguasai daerah disekitarnya. Kemajuan mataram ini, sebagian petinggi Kerajaan Pajang menganggap Danang Sutowijoyo mangkir dari Kerajaan Pajang dan dicurigai membangun sebuah kerajaan baru. Untuk mengetahui hal tersebut, Sultan Hadiwijaya menyuruh Raden syifauddin ke Kudus dan Ki Ageng Semampir ke Pati untuk menyelidiki mataram” katanya.

TRENDING :  Kunjungan Rombongan Staff ahli gubernur dan bupati / wali kota se Jawa Tengah di kabupaten Kudus

Perjalanan untuk mengintai mataram di mulai, dengan membawa keluarganya mereka menjalankan misi tersebut. “Dari sini perjalanan Mbah Buyut Sipah atau Raden Syifauddin atau Balong Gandangan dan keluarganya dimulai. Menuju Kudus, ia dan keluarganya menaiki sebuah prahu menyusuri Selat Muria. Namun nasib naas menimpa mereka, tepatnya di daerah Prawoto, mereka terpisah,” ungkap Nur Hadi.

Mbah Buyut Sipah dan anaknya harus terpisah dengan Sang Istri. Meskipun demikian, mereka tetap melanjutkan perjalanan tersebut. Ditengat perjalanan, anak Mbah Buyut Sipah digoda oleh demit, karena ketakutan anak tersebut menangis keras. Mbah Buyut Sipah lalu menenangkannya dengan membacakan doa-doa. Setelah anakanya berhenti mengis, dirinya mensabda jika nantinya daerah tersebut diberi nama Banglong Gadangan.

Mbah Buyut Sipah dan anaknya lantas meneruskan perjalanan ke Selatan. Lama dan jauhnya perjalanan membuat anaknya lapar. Di tepikan prahunya dan dibuatkannya sebuah makanan untuk Sang Anak. Karena makanan tersebut dimasak menggunakan kereweng (peralatan masak dari tanah liat -red), maka daerah tersebut diberi nama Banglong Kreweng.

Dilanjutnya perjalanan tersebut hingga sampai pada sebuah daerah yang sempit hingga menyebabkan prahunya tidak dapat melaju lantaran tercepit oleh rapatnya pepohonan. Daerah tersebut kemudian diberi nama Banglong Cepit. Lalu ia dan anaknya putuskan untuk berjalan menyusuri sebuah rawa dan menghantarkan mereka pada sebuah daerah yang bernama Wonosari (nama sebelum karangrowo -red).

TRENDING :  Awas Macet! Hindari Jalan Ini Selama Perayaan Hari Jadi Kudus

Di sana ia melihat banyak sekali burung betet yang bertengger di pepohonan, sehingga daerah tersebut diberi nama Betetan. Akhirnya di sana ia dan anaknya memutuskan untuk bermukim. Suatu ketika di daerah Betetan terjadi sebuah pagebluk (wabah penyakit yang menyebabkan banyak orang meninggal dalam waktu singkat -red).

Akan tetapi dengan kehendak Tuhan, Mbah Buyut Sipah dan anaknya berhasil selamat. Setelah itu, mereka memutuskan untuk berpidah ke sebelah utara dekat dengan sungai. Dari sanalah berkembang keturunan Mbah Buyut Sipah hingga menjelma sebagai sebuah Desa yang diberi nama Karangrowo.

“Nama Karangrowo diambil dari kata Karang yang berarti tempat dan Rowo yang berarti rawa. Nama ini dipilih lantaran pada zaman itu daerah ini berupa rawa yang membentang luas,” pungkasnya.

Rangkaian acara terus berlanjut dengan kirab tombak peninggalan Mbah Buyut Sipah dan gunungan hasil bumi, berkeliling kampung pada Kamis (28-09-2018). Lalu acara dilanjutkan dengan pengajian umum pada malam harinya.

Dengan adanya rangkaian acara ini, Nurhadi berharap masyarakat Karangrowo tidak melupakan leluhurnya. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan dan kesatuan di masyarakat. (NNC/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :