Peringati HUT ke-76 IDI, Dokter Kudus Soroti Lonjakan Diabetes Tipe 2 pada Anak

oleh -52 Dilihat
Pembukaan Seminar Kesehatan bertajuk “Holistic Strategies for Metabolic Disease Control” yang digelar di Hotel @HOM Kudus oleh Bupati Kudus Sam’ani Intakoris. (Foto: YM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kudus menyoroti ancaman penyakit metabolik, termasuk diabetes melitus tipe 2 pada anak-anak. Persoalan tersebut menjadi fokus dalam Seminar Kesehatan bertajuk “Holistic Strategies for Metabolic Disease Control” yang digelar di Hotel @HOM Kudus, Sabtu (24/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 IDI sekaligus puncak rangkaian Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-118. Seminar dibuka Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dan dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Kudus Endhah Sam’ani Intakoris, Ketua IDI Cabang Kudus dr. Wahyu Wijanarko, M.Si., M.Ed., Sp.B., serta sejumlah tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan terkait.

Ketua IDI Cabang Kudus, dr. Wahyu Wijanarko, menjelaskan, pemilihan tema pengendalian penyakit metabolik didasarkan pada kekhawatiran terhadap kecenderungan peningkatan kasus, termasuk diabetes tipe 2 pada anak-anak.

Menurutnya, diabetes pada anak selama ini lebih dikenal dengan tipe 1. Namun, diabetes tipe 2 yang berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk pola hidup, kini juga menjadi perhatian karena mulai ditemukan pada kelompok usia anak.

“Dibandingkan tahun 2010, diabetes tipe 2 pada anak berdasarkan data yang kami sampaikan mengalami peningkatan hingga 71 kali lipat. Ini menjadi persoalan serius yang harus dipikirkan bersama,” ujarnya.

Wahyu menilai, pola makan yang tidak sehat menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian. Selain keluarga, produsen dan penyedia makanan juga memiliki peran dalam mendukung pola konsumsi yang lebih sehat bagi anak-anak.

Karena itu, seminar tersebut mempertemukan berbagai pihak untuk membahas faktor risiko dan merumuskan langkah pencegahan. Pembahasan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga melibatkan peran keluarga, lingkungan, serta pihak-pihak yang berkaitan dengan penyediaan makanan.

Sebagai tindak lanjut, IDI Cabang Kudus berencana menyusun policy brief atau dokumen rekomendasi kebijakan untuk Pemerintah Kabupaten Kudus. Penyusunannya akan mempertimbangkan masukan para ahli, praktisi, pemangku kepentingan, serta hasil riset lokal agar rekomendasi yang dihasilkan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Selain seminar kesehatan, rangkaian peringatan HBDI ke-118 juga diisi kegiatan sosial. Sejak sekitar Mei atau Juni 2026, IDI Cabang Kudus melaksanakan penyaluran bantuan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan, di antaranya Colo, Glagahwaru, dan Setrokalangan, melalui kerja sama dengan BNPB. IDI juga menggelar lomba padel untuk mendorong semangat berolahraga di tengah masyarakat.

Wahyu menegaskan, peran dokter tidak hanya terbatas pada pengobatan atau tindakan kuratif. Organisasi profesi dokter juga memiliki tanggung jawab dalam edukasi kesehatan, pencegahan penyakit, kegiatan sosial, serta penyampaian rekomendasi berbasis bukti ilmiah kepada pemerintah.

“Harapannya, IDI bisa lebih berkontribusi dibandingkan sebelumnya. Kontribusi dokter kepada masyarakat tidak selalu berorientasi pada pengobatan. Kami ingin memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah berdasarkan kajian ilmiah, masukan para ahli dan praktisi, serta hasil riset lokal, khususnya terkait meningkatnya penyakit sindrom metabolik,” pungkasnya. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.