Peristiwa Rashdul Qiblat, Apa Itu?

oleh -1,751 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Jum’at (27/5)  terdapat sebuah peritiwa yang dinamakan Rashdul Qiblat, fenomena apakah Rashdul Qiblat itu? Menurut Ahmadi Kepala Kantor Kementrian Agama Jawa Tengah, dalam ulasannya pada laman Kemenag Jawa Tengah (27/5) menyampikan, Peristiwa Rashdul Kiblat adalah peristiwa di mana matahari melintas tepat di atas ka’bah di Mekkah Arab Saudi. Rashdul Kiblat lzimnya digunakan sebagai salah satu metode penentuan arah kiblat, yaitu dengan mengetahui posisi matahari (Rashdul Kiblat). Rashdul kiblat adalah ketentuan waktu dimana benda yang terkena sinar matahari mengarah ke arah kiblat. Merupakan kesempatan tepat untuk mengetahui secara persis arah kiblat saat posisi matahari berada tepat diatas ka’bah. Dan posisi matahari tepat berada diatas ka’bah terjadi ketika lintang ka’bah sama dengan deklinasi matahari, pada saat itu matahari berkulminasi tepat diatas ka’bah. Sehingga bayangan benda yang terkena cahaya matahari itu merupakan arah kiblat. Dalam satu tahun akan ditemukan dua kali posisi matahari di atas ka’bah.

Seperti diinformasikan Kementrian Agama RI sebelumnya, matahari berada tepat di atas Ka’bah pada pukul 16.18 WIB atau bersamaan dengan waktu dzuhur untuk wilayah Makkah. Untuk tahun 2016, rashdul qiblat juga berlangsung pada 15 Juli 2016, pukul 16.27 WIB.“Diberitahukan kepada kaum muslimin di seluruh Indonesia, berdasarkan data astronomi dan penelitian beberapa lembaga falakiyah, Jumat (27/5/2016) pukul 16.18 WIB atau 17.18 WITA,  matahari melintas tepat di atas Ka’bah, sehingga bayang-bayang suatu benda yang berdiri tegak lurus di mana saja akan mengarah lurus ke Ka’bah,” ujar Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag RI, Muhammadiyah Amin dalam siaran persnya,

“Bagi yang mahir ilmu falak, arah kiblat bisa dilakukan dengan menggunakan penghitungan matematis menggunakan rumus segitiga bola atau yang dikenal dengan Spherical Trigonometri dengan mengetahui terlebih dahulu koordinat Lintang dan Bujur, baik Ka’bah maupun lokasi yang akan diukur,” terangnya.

“Peristiwa Rasydul Qiblat” Ahmadi menganggap tetap menjadi perhatian masyarakat, akademik, ormas dan lain-lain. Alasanya, peristiwa ini termasuk memelihara khazanah keilmuwan ilmu falak atau astronomi.” Tegas Ahmadi.

Selanjutnya Ahmadi,  tugas dan fungsi Kementerian Agama adalah sifatnya melakukan fasilitasi, sosialisasi bersama masyarakat, ormas dan tidak memaksa pula bagi masjid-masjid untuk melakukan“rasydul qiblat”. Mengapa demikian kata Ahmadi, di Jawa Tengah seperti Masjid Agung Demak rasydul qiblatnya masih tetap/tidak ada perubahan, dan apakah kita tahu karena masjid sejarah, tutur Ahmadi “sangat mungkin dan beralasan”.

Namun lanjut Ahmadi, “berubah dan tidaknya qiblat masjid jangan menjadi persoalan, sebab belajar ilmu itu supaya menjadi ilmuwan”, dan jika sudah menjadi ilmuwan kita yakin “andai pada seseorang, maka orang itupun akan bijak dan arif”.

“Hubungan dengan “rasydul qiblat” untuk situasi masjid se Jawa Tengah, Ahmadi, berharap “yang terpenting jamaah masjid bertambah banyak, khusyu’ agar menjadi muttaqien sebagai bekal dunia dan akhirat” tegas Ahmadi. Lanjut, sebab antara merubah dan menetapkan kiblat masing-masing mempunyai rujukan dari pendapat/qoul imam madzhab dan ulama terdahulu, tutur Ahmadi. (YM/KMJ).

KOMENTAR SEDULUR ISK :