KUDUS, ISKNEWS.COM – Memperkuat peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang dan pendidikan anak, Yayasan Sosial Pendidikan (YSP) Al-Fath Kabupaten Kudus menghadirkan sastrawan sekaligus novelis kenamaan, Ustadz Dr. phil. Habiburrahman El Shirazy, Lc., M.A. atau akrab disapa Kang Abik, dalam kegiatan parenting.
Kegiatan bertajuk “Menyemai Cinta dan Harmoni untuk Buah Hati” tersebut berlangsung di Aula DPRD Kabupaten Kudus, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan diikuti jajaran pengurus YSP Al-Fath Kudus, kepala sekolah Islam Terpadu mulai dari TPA, KB, TK hingga SD, serta para wali murid.
Melalui kegiatan tersebut, YSP Al-Fath Kudus berupaya membangun komunikasi dan kerja sama yang lebih kuat antara sekolah dan keluarga. Sinergi tersebut dinilai penting agar proses pendidikan anak tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga berlanjut melalui pendampingan orang tua di rumah.
Kegiatan dimoderatori Ketua IGTKI Kabupaten Kudus, Arie Widiana Ristiani, S.Pd.AUD. Dalam kesempatan tersebut, Kang Abik membagikan pandangannya mengenai pendidikan anak, pentingnya cinta dalam keluarga, penguatan literasi, hingga tantangan orang tua dalam mendampingi anak di tengah perkembangan teknologi.
Kang Abik yang dikenal melalui sejumlah novel bestseller seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Bumi Cinta, dan Merindu Baginda Nabi mengatakan tema cinta yang banyak hadir dalam karya-karyanya tidak terlepas dari keinginannya merespons berbagai peristiwa besar pada awal 2000-an.
Ia menyebut tragedi 11 September 2001 dan Bom Bali pada Oktober 2002 turut memengaruhi citra pondok pesantren yang sempat dianggap sebagai tempat berkembangnya terorisme. Padahal, menurutnya, ajaran yang diberikan di pesantren justru mengajarkan kasih sayang dan cinta.
“Akhirnya, saya merespons dengan menerbitkan karya. Sebelum itu, saya juga sudah membuat novel ‘Sajadah Cinta’, ‘Pudarnya Cinta Cleopatra’. Kemudian menyusul ‘Ayat-Ayat Cinta’,” ungkapnya.
Menurut Kang Abik, cinta yang hakiki juga menjadi bagian penting dalam ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Nilai tersebut, kata dia, perlu diterapkan dalam kehidupan keluarga, termasuk dalam proses mendidik anak.
Ia mengingatkan orang tua agar tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan jasmani anak. Sebab, anak sebagai manusia memiliki unsur jasmani, akal, dan ruhiyah yang membutuhkan perhatian secara seimbang.
“Anak kita manusia yang terdiri dari jasmani dan akal. Perhatian kepada anak kita sering fokusnya di sisi jasmani karena yang paling valid itu yang paling tampak. Padahal yang diperlukan anak kita bukan hanya jasmani,” ujarnya.
Ia mencontohkan, ketika anak menangis karena lapar, orang tua akan dengan mudah mengenali bahwa kebutuhan jasmaninya harus segera dipenuhi. Namun, kebutuhan akal dan ruhiyah anak juga tidak boleh diabaikan.
Keseimbangan tersebut diperlukan agar anak dapat berkembang secara optimal. Menurutnya, keberhasilan mendidik anak tidak hanya ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga bagaimana orang tua membangun pola pikir dan kehidupan spiritual anak.
Kang Abik kemudian mengibaratkan kehidupan seperti sebuah pertandingan. Untuk memenangkan pertandingan, seseorang harus memahami aturan permainan. Begitu pula dalam kehidupan, manusia perlu memahami aturan yang telah ditetapkan Allah SWT.
Ia menjelaskan terdapat hukum syariat yang menjadi pedoman kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Selain itu, terdapat pula hukum alam yang berlaku kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan.
“Hukum alam tidak berpihak kepada siapapun. Yang menang adalah yang menguasai kunci permainan,” jelasnya.
Selain pendidikan keluarga, Kang Abik menekankan pentingnya penguatan literasi bagi anak. Kemampuan membaca, menulis, dan berpikir dinilai menjadi bekal penting bagi anak dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Menurutnya, pentingnya membaca bahkan telah ditegaskan sejak wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW melalui perintah “Iqra”.
“Literasi paling dasar di Islam adalah iqra. Ketahuilah, untuk mendapatkan ilmu, bertauhid pun memerlukan ilmu,” katanya.
Ia mengatakan tradisi membaca dan menulis juga memiliki sejarah panjang dalam peradaban Islam. Pada masa Nabi Muhammad SAW, telah terdapat para sekretaris yang membantu mencatat berbagai hal. Tradisi keilmuan tersebut kemudian berkembang melalui perjalanan para ulama dalam mencari ilmu.
Kang Abik menegaskan bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca. Anak juga perlu memiliki kemampuan menulis dan berpikir agar mampu memahami serta mengolah informasi yang diperolehnya.
“Anak-anak kita harus ditanamkan tiga hal ini, yaitu membaca, menulis, dan berpikir,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus informasi, ia mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber informasi bagi anak. Menurutnya, informasi yang muncul melalui algoritma media sosial tidak selalu memberikan penjelasan secara utuh.
Orang tua dan guru, lanjut dia, perlu membiasakan anak melakukan penelusuran informasi serta mengecek kembali referensi yang digunakan. Ketelitian dalam mencari sumber menjadi bagian penting dari kemampuan literasi.
“Kadang-kadang algoritma tidak tuntas informasinya. Guru dan orang tua tidak boleh berhenti, tetapi harus melakukan kroscek informasi. Ketelusuran referensi autentiknya perlu diperhatikan,” katanya.
Dalam membangun budaya literasi, Kang Abik juga meminta orang tua hadir secara langsung dan membersamai anak. Kebiasaan membaca dapat diperkenalkan sejak usia dini melalui buku maupun lingkungan yang mendukung kegiatan literasi.
Orang tua dapat mengajak anak mengunjungi toko buku atau perpustakaan. Untuk anak usia dini, buku juga dapat dikenalkan dengan cara yang menyenangkan, misalnya melalui kegiatan membacakan cerita dengan ekspresi dan karakter suara yang berbeda.
“Harus membersamai anak kita,” tegasnya.
Menurut Kang Abik, perhatian terhadap budaya membaca menjadi salah satu faktor yang turut mendukung kemajuan suatu bangsa. Ia menilai negara-negara maju memberikan ruang yang besar bagi masyarakat untuk mengakses buku dan perpustakaan.
“Kalau kontestasi peradaban, kita jauh, mereka di laboratorium. Duluan baca akan duluan menemukan,” ujarnya.
Selain literasi, Kang Abik juga menyoroti pentingnya kesesuaian pendidikan dengan perkembangan dunia kerja. Menurutnya, tantangan negara berkembang salah satunya adalah sistem pendidikan yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan kebutuhan industri dan perkembangan zaman.
Ia mencontohkan Jerman dan Jepang yang memiliki keterkaitan lebih erat antara pendidikan, penelitian, dan dunia industri. Potensi anak juga perlu dikenali sejak dini sehingga pendidikan dapat diarahkan sesuai kemampuan dan bakat masing-masing.
Karena itu, ia mengingatkan orang tua agar tidak memaksakan satu ukuran keberhasilan kepada semua anak. Setiap anak memiliki potensi yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pendidikan yang sesuai.
Di tengah perkembangan teknologi dan algoritma media sosial, peran orang tua menjadi semakin penting. Teknologi, menurut Kang Abik, dapat memberikan manfaat besar, tetapi juga bisa membawa dampak negatif apabila tidak digunakan secara bijak.
Ia mengajak orang tua memadukan ikhtiar melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan dengan tawakal kepada Allah SWT. Upaya mendidik anak, kata dia, perlu disertai dengan pendidikan ruhiyah dan doa.
“Selain ikhtiar dengan ilmu, juga ikhtiar kepada Allah,” pungkasnya.
Melalui kegiatan parenting tersebut, YSP Al-Fath Kudus berharap komunikasi dan sinergi antara sekolah dengan orang tua semakin kuat. Pendampingan yang dilakukan secara bersama diharapkan mampu membentuk anak yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga berakhlak, memiliki kemampuan berpikir, serta mampu menghadapi perkembangan zaman. (AS/YM)






