Persiku Kudus Resmi Hijrah ke Bantul, Hadapi Tiga Tantangan Besar di Liga 2 2026/2027

oleh -823 Dilihat
Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, DIY (Foto : Istimewa/ FB SSA Bantul)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Musim 2026/2027 menjadi babak baru bagi Persiku Kudus. Tak hanya harus meninggalkan Stadion Wergu Wetan yang tengah dibangun ulang, Macan Muria juga dipastikan bergeser ke Grup Barat Pegadaian Championship Liga 2 serta melakukan pembenahan tata kelola klub.

Di tengah berbagai perubahan itu, manajemen resmi menetapkan Stadion Sultan Agung Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai markas sementara selama satu musim ke depan.

Setadhiyon Sultan Agung adalah sebuah stadion sepak bola di Kapanéwon (Kecamatan) Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri berbagai spekulasi mengenai kandang Persiku. Sebelumnya sempat beredar rumor bahwa klub asal Kota Kretek itu akan bermarkas di Stadion Pakansari Cibinong maupun Stadion Sriwedari Solo.

Namun setelah melalui serangkaian pengajuan kepada operator kompetisi, Stadion Sultan Agung menjadi pilihan yang dinyatakan layak untuk menggelar pertandingan Liga 2.

Direktur PT Relasi Sport Muria Indonesia, Abdul Fuad Amirul Adha, mengatakan manajemen sejak awal berupaya agar Persiku tetap berkandang di Jawa Tengah. Stadion Sriwedari Solo menjadi opsi pertama yang diajukan.

Namun harapan tersebut kandas karena Stadion Sriwedari telah lebih dahulu ditetapkan sebagai kandang Kendal Tornado FC pada kompetisi musim ini.

“Kami sebenarnya berusaha agar tetap bisa bermain di Jawa Tengah. Sriwedari kami ajukan, tetapi tidak bisa karena sudah digunakan klub lain,” ujar Fuad, Selasa (7/7/2026).

Manajemen kemudian mengajukan Stadion Moch Soebroto Magelang. Namun operator kompetisi menilai stadion tersebut belum memenuhi standar penyelenggaraan Liga 2 sehingga masih memerlukan renovasi sebelum dapat digunakan sebagai venue pertandingan resmi.

“Makanya kami memilih opsi stadion lainnya,” katanya.

Setelah melalui proses evaluasi, Stadion Sultan Agung Bantul akhirnya disetujui sebagai homebase Persiku. Stadion tersebut sebelumnya menjadi markas PSIM Yogyakarta saat mengarungi kompetisi Liga 1 musim 2025/2026 dan dinilai telah memenuhi standar penyelenggaraan pertandingan profesional.

Menurut Fuad, bermain di Bantul masih memberikan keuntungan bagi Persiku karena relatif mudah dijangkau oleh suporter dari Kudus maupun wilayah sekitarnya. Meski demikian, kehadiran penonton tetap bergantung pada izin keamanan yang diterbitkan pihak kepolisian.

“Kami di situ juga sebagai tamu, jadi harus mematuhi ketentuan dari pemberi izin pertandingan apakah boleh digelar dengan penonton atau tidak,” tegasnya.

Selain berpindah homebase, Persiku juga menghadapi tantangan baru setelah ditempatkan di Grup Barat Liga 2 musim 2026/2027. Keputusan operator kompetisi tersebut membuat Macan Muria meninggalkan persaingan di wilayah timur yang selama ini menjadi habitatnya dan kini harus bersaing dengan klub-klub kuat dari Pulau Sumatera, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah.

Di Grup Barat, Persiku akan menghadapi PSMS Medan, Persiraja Banda Aceh, Semen Padang FC, PSPS Pekanbaru, Sumsel United, FC Bekasi City, Persikad Depok, PSGC Ciamis, dan PSIS Semarang.

Kehadiran Semen Padang yang baru terdegradasi dari kasta tertinggi serta PSIS Semarang diperkirakan membuat persaingan memperebutkan tiket promosi berlangsung semakin ketat.

Perubahan grup juga membawa konsekuensi terhadap pola perjalanan tim. Jika sebelumnya Persiku lebih banyak menghadapi klub-klub dari wilayah timur Indonesia, kini mereka harus menjalani laga tandang hingga Aceh, Medan, Pekanbaru, dan Palembang.

Di sisi lain, penempatan berdasarkan wilayah dinilai tetap mempertimbangkan efisiensi geografis sehingga Persiku ditempatkan bersama klub-klub yang secara keseluruhan lebih dekat dibanding harus menempuh perjalanan ke Kalimantan maupun Papua.

Kompetisi Liga 2 musim 2026/2027 sendiri masih menggunakan format dua grup yang masing-masing dihuni 10 tim. Seluruh peserta akan menjalani sistem triple round robin, sehingga setiap klub memainkan 27 pertandingan pada fase grup.

Juara masing-masing grup akan langsung promosi ke kasta tertinggi sekaligus bertemu di partai final, sedangkan runner-up kedua grup memperebutkan satu tiket promosi melalui babak play-off. Sementara itu, tim peringkat terakhir di setiap grup terdegradasi langsung, sedangkan penghuni posisi kesembilan harus menjalani play-off degradasi.

Status Persiku sebagai tim musafir tak lepas dari pembangunan ulang Stadion Wergu Wetan Kudus yang kini mulai dibongkar. Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp225 miliar dari APBN untuk membangun stadion baru yang nantinya memiliki kapasitas sekitar 8.000 penonton dengan fasilitas yang lebih modern sesuai standar sepak bola nasional.

Di luar urusan teknis kompetisi, Persiku juga melakukan pembenahan organisasi. Salah satunya dengan memindahkan akun resmi media sosial klub ke pengelolaan PT Relasi Sport Muria Indonesia agar seluruh aset digital menjadi milik perusahaan yang menaungi Persiku.

“Kita berbenah saja, biar semua aset milik PT. Jadi jelas dan tidak ada pengaruh dari pihak luar,” pungkas Fuad.

Dengan berpindah homebase ke Bantul, bergeser ke Grup Barat, serta melakukan restrukturisasi manajemen, Persiku memasuki era baru dalam perjalanan klub.

Tantangan musim ini memang lebih berat, namun manajemen berharap fondasi yang tengah dibangun dapat membawa Macan Muria tampil lebih profesional sekaligus siap bersaing memperebutkan tiket promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.