Peserta Intensif Musikal Budaya Pentaskan Menanggung Dua Panggung di HUT ke-13 Galeri Indonesia Kaya

oleh -29 Dilihat
Menanggung Dua Panggung oleh Peserta Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya. Foto: Galeri Indonesia Kaya

JAKARTA, ISKNEWS.CPOM – Perjalanan mengejar mimpi di tengah tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga menjadi cerita utama dalam pertunjukan musikal Menanggung Dua Panggung. Karya yang dibawakan peserta Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya ini hadir dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 Galeri Indonesia Kaya.

Pertunjukan tersebut digelar dalam tiga sesi pada 23–24 Oktober 2026. Mengusung format musikal jukebox, pementasan berdurasi sekitar 60 menit ini memadukan naskah orisinal, dialog, musik, dan gerak panggung untuk menggambarkan pergulatan seseorang dalam menyeimbangkan kehidupan pribadi, pekerjaan, serta kecintaan terhadap seni.

Cerita berpusat pada Ranting, seorang pemain teater dari kelompok Teater Jalar yang juga menjadi tulang punggung keluarga. Setelah menyelesaikan kuliah, ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara keinginannya menekuni dunia teater tetap menyala.

Di satu sisi, Ranting dituntut menunjukkan kinerja terbaik di tempat kerja. Di sisi lain, ia ingin terus mengembangkan kemampuannya di atas panggung. Konflik tersebut membuatnya mempertanyakan arti keberhasilan dan apakah sorotan panggung benar-benar menjadi ukuran nilai dirinya.

Kisah tersebut disampaikan melalui tujuh lagu, yakni Keroncong Kemayoran, Semua Ini Untuk Apa karya Donne Maulana, Makin Lelah karya Payung Teduh, Melukis Senja karya Budi Doremi, Sempurnanya Aku karya NPD, Hasrat Menyala karya Mus Mulyadi, serta Kroncong Protol karya Bondan Prakoso & Fade2Black.

Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan pementasan tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk membuka ruang bagi talenta muda agar dapat mengembangkan kemampuan sekaligus terlibat langsung dalam ekosistem seni pertunjukan Indonesia.

Menurutnya, Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya menjadi salah satu program yang mendukung proses pembelajaran dan regenerasi pelaku seni pertunjukan. Melalui Menanggung Dua Panggung, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman pelatihan, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan dan mementaskan karya.

“Melalui Menanggung Dua Panggung, para peserta melanjutkan perjalanan mereka dari pelatihan menuju penciptaan dan pementasan karya. Kami berharap, karya ini dapat menjadi bagian dari upaya menumbuhkan ekosistem seni pertunjukan sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap seni pertunjukan Indonesia,” ujar Renitasari.

Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya sendiri telah diselenggarakan Indonesia Kaya sejak 2019 untuk mengembangkan talenta seni panggung dan mendukung regenerasi pelaku teater musikal. Pada Mei 2025, sebanyak 45 peserta angkatan ketiga menyelesaikan program pelatihan selama delapan bulan.

Dari jumlah tersebut, 15 peserta mendapat kesempatan mengikuti pelatihan musikal bersama West End Stage di London pada Desember 2025. Pengalaman itu kemudian menjadi bekal untuk mengembangkan proses kreatif hingga tampil dalam produksi Menanggung Dua Panggung di Indonesia.

Salah satu peserta, Herve Pierre Sidharta, yang juga merupakan Abang Jakarta 2026, menyebut pementasan ini sebagai kesempatan berharga untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama pelatihan.

Ia mengaku senang dapat kembali tampil di Galeri Indonesia Kaya bersama rekan-rekannya setelah menjalani pengalaman belajar di London. Proses tersebut, menurutnya, memberikan kesempatan untuk mengolah cerita, membangun kerja sama, dan mewujudkan pertunjukan bersama.

“Melalui karya ini, kami juga ingin mengajak penonton melihat bagaimana seseorang berusaha menyeimbangkan tanggung jawab dan impiannya,” ungkap Herve.

Produksi musikal ini juga melibatkan alumni program Intensif Musikal Budaya dalam sejumlah posisi kreatif. Aldafi Adnan bertindak sebagai sutradara, Mariska Setiawan sebagai pengarah vokal, dan Ayu Gurnitha sebagai koreografer. Keterlibatan alumni tersebut menjadi ruang untuk meneruskan pengalaman sekaligus berbagi pengetahuan dalam proses produksi seni pertunjukan.

Dari sisi penulisan, naskah orisinal Menanggung Dua Panggung disusun oleh Aprillia Ramadhina dan Jessica Gabriella, peserta Ruang Kreatif Penulisan Naskah Teater Musikal. Karya mereka dikembangkan melalui proses penulisan dan bimbingan penulis naskah profesional Widya Arifianti.

Aprillia memiliki pengalaman lebih dari satu dekade di industri media dan konten serta pernah menulis naskah musikal Anugerah Terindah bersama Agus Noor, yang mengolah lagu-lagu Sheila on 7 menjadi pertunjukan musikal. Sementara itu, pementasan ini menjadi debut Jessica sebagai penulis musikal. Lulusan pendidikan Kimia Institut Teknologi Bandung tersebut menjadikan penulisan sebagai ruang untuk mengeksplorasi pengalaman manusia, hubungan, impian, dan perjalanan menemukan jati diri.

Sebanyak 15 peserta terlibat dalam pementasan tersebut dengan memerankan berbagai karakter, termasuk Jennifer Kristi Rengka sebagai Ranting. Peserta lainnya adalah Ariel Marcelino Rimba, Muhammad Fathur (Ojak), Patricia Dharma Widyantara, Nabil Naratama, Herve Pierre Sidharta, Muhammad Barly Putra, Janitra Diva Permatasari, Andhika Firman Agung, Joan Raisa Larantuka, Melody Asri, Phanuel Nareswara Hananto, Ricky Alvano, Dwynna Wyn Gunawan, dan Felicia Caroline Vanessa.

Perayaan HUT ke-13 ini sekaligus menandai perjalanan Galeri Indonesia Kaya dalam menyediakan ruang apresiasi seni dan budaya bagi masyarakat. Sejak diresmikan pada 10 Oktober 2013, ruang publik berbasis digital yang dihadirkan Bakti Budaya Djarum Foundation tersebut telah dikunjungi lebih dari satu juta orang dan menyelenggarakan lebih dari 3.000 pertunjukan.

Lebih dari 2.000 pekerja seni dari beragam disiplin, mulai dari tari, teater, teater musikal, monolog, pertunjukan musik, hingga apresiasi sastra, telah terlibat dalam berbagai kegiatan di Galeri Indonesia Kaya. Melalui program-program tersebut, Galeri Indonesia Kaya terus berupaya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia dengan pendekatan kreatif yang dekat dengan masyarakat lintas generasi. (AS/YM)