” Petuah Tampah ” Teater Djarum di Galeri Indonesia Kaya Jakarta

oleh -1,089 kali dibaca

“Petuah Tampah” Teater Djarum di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta
Orang-orang terdekat menjadi orang-orang yang turut menentukan seorang anak manusia mencari dan membentuk kepribadiannya.

image

Keluarga.
kemudian lingkungan tetangga. Seiring dengan pertumbuhannya, kehidupan yang luas ini menjadi jalan terbuka bagi setiap pribadi untuk tumbuh, berkembang dan menemukan saripati dan nilai-nilai kehidupan yang bermakna.

image

“Tampah”, yaitu alat tradisional masyarakat kita yang dipergunakan utamanya untuk memilah dan memilih padi bernas, juga dipergunakan untuk fungsi-fungsi lain, misalnya: tempat gunungan untuk syukuran, tempat bumbu-bumbu dapur. Dan di dalam tradisi Jawa, tampah juga memiliki arti filosofi, yakni: nampa atau menerima.

image

Pada beberapa peristiwa anak hilang di senjakala, menurut mitosnya karena diajak bermain makhluk halus (sebagai digondhol wewe), tampah kemudian dijadikan alat tetabuhan oleh para tetangga sambil keliling kampung.

Dan ditemukanlah si anak hilang tadi, tengah kebingungan terduduk di batang sebuah pohon besar. Terlepas percaya atau tidak, nyatanya tampah telah menjadi alat magi yang berguna bagi masyarakat.

Singkatnya, Tampah memiliki nosi “ke dalam” dan “ke luar” bagi masyarakat kita. Pada pemaknaan ke dalam, Teater Djarum menawarkan kembali perenungan akan tumbuhkembangnya kepribadian anak manusia di dalam kehidupan yang bagaikan siklus atau cakra manggilingan (roda yang berputar). Berdenyut, berkesinambungan dan terus hidup.

Sementara Tampah dalam pemaknaan “ke luar” bagi masyarakat merupakan media bersosialisasi, bertegur-sapa, serta terjalinnya upaya saling membutuhkan dan saling menopang. Tampah menjadi alat yang mempertemukan secara langsung pribadi dengan banyak pribadi.

Teater Djarum ingin mengangkat nilai-nilai penting tersebut ke dalam “Petuah Tampah” sebagai ekspresi seni pertunjukan di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta pada 8 Mei 2016. Setelah sebelumnya dimainkan di Gedung Kesenian Jepara pada 22 April 2016, dan akan dimainkan di Balai Budaya Rejosari, Kudus pada 25 Mei 2016.

Kemajuan teknologi modern, terutama teknologi komunikasi, diakui maupun tidak merupakan arus besar yang menjadikan banyak nilai di dalam masyarakat kita terputus dan terkoyak. Apalagi jika kita tidak mampu secara arif dan bijaksana menyikapinya.

Oleh karenanya, tampah yang menawarkan banyak nilai diangkat dalam “Petuah Tampah”.
Pertunjukan ini didukung oleh 13 pemain, yang menggabungkan unsur gerak dan dialog, serta perlambangan atas simbolisasi yang ditawarkan. Gagasan “Petuah Tampah” ini dicetuskan oleh Teresa Rudiyanto. Kemudian penyusunan naskah dan penyutradaraan oleh Asa Jatmiko.

Eksplorasi tampah berlangsung selama 3 bulan penuh. Dan naga-naganya, tidak akan pernah berakhir. Oleh karena setiap latihan dan pemanggungan, Teater Djarum selalu menemukan hal-hal baru. Seperti ketika tiba-tiba menemukan kata wos (bahasa Jawa yang berarti padi), yang juga berarti “inti” kehidupan. Kemudian ketika Teater Djarum menemukan tampah yang disusun dari anyam-anyaman bambu, tiba-tiba tersadarakan bahwa bangunan dari seluruh proses para pemain dan pendukung teater tidak lain merupakan “anyam-anyaman” dari pribadi-pribadi yang mewujud tampah sebagai pentas besarnya. Begitu seterusnya, yang menyadarkan kepada kami bahwa eksplorasi tampah ini semakin membuat kami mengerti bahwa kami banyak tidak mengerti.(Mr)

(asa jatmiko, sutradara)

KOMENTAR SEDULUR ISK :