PSG Bersama LPM Paradigma Bedah Buku “Santri Membaca Zaman”

oleh -1,081 kali dibaca

Kudus, Isknews.com – Semakin banyaknya karya karya para santri berupa buku, kitab dan temuan-temuan sains yang bermunculan, dalam rangka hari santri nasional, pusat studi gender (PSG) bekerjasama dengan LPM paradigma mengadakan diskusi dan bedah buku “Santri Membaca Zaman” yang diluncurkan pada acara silaturahim nasional (Silatnas) Madrasah TBS (23/7) beberapa waktu lalu.

Buku yang berisikan 312 Halaman ini kehadirannya diharapkan menjadi pemanik bagi munculnya karya karya para santri baik berupa buku, kitab, temuan-temuan sains yang selama ini masih terpinggirkan.

Acara diskusi dan bedah buku yang bertempat di Gedung Rektorat lantai 3 STAIN Kudus (25/10) ini menghadirkan penulis buku tersebut, Ahmad Fatah, Nur Said, Motivator Juan Siregar dan juga akademisi Manijo, di mulai pukul 09.00 – selesai dengan dihadiri langsung oleh Peserta dari dosen, mahasiswa, para santri dan kalangan umum Kudus dan sekitarnya

Nur Said, ketua pusat studi gender, yang juga sebagai narasumber acara kepada Isknews.com menjelaskan, “Acara ini meneguhkan saatnya Santri itu KeReN (Kontekstual, Responsif dan Nulis). Buku tersebut menegaskan saatnya santri menjadi subyek sejarah bukan hanya obyek kajian orientalis. Menulis dan membaca bagai dua sisi mata uang untuk perubahan zaman. “maka menjadi santri harus menulis dengan membaca zaman dan sekaligus untuk perubahan zaman.”tandasnya.

Lebih lanjut, pihaknya menceritakan, Bedah buku “Santri Membaca Zaman” berisikan 25 judul persembahan dari 25 Alumni TBS dari latar belakang dan profesi yang berbeda.

Sebagai buku yang lahir dari Percikan pemikiran kaum pesantren ini merupakan refleksi para santri dalam membaca ayat-ayat nya baik qauliyah maupun kauniyah, sehingga melahirkan serpihan serpihan ilmu dan sekaligus sebagai konstruksi ide yang bisa dijadikan alternatif acuan dalam mengembangkan pendidikan Islam di pesisir utara jawa ini.

Nur Said membahkan, “Buku ini sekaligus menegaskan bahwa para santri sudah sepatutnya sebagai penjaga gawang Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja) untuk memagari nusantara agar teyap berdaulat dengan nuansa islam nusantara yang ramah dan toleran (tepa seliro) atau dalam bahasa aswaja sebagai islam yang tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), tawasuth (moderat/jalan tengah), dan i’tidal (menegakkan keadilan).”tandasnya.

“Lahir nya buku ini diharapkan bisa memotivasi santri untuk membaca dan menulis sebagai nafas dari kehidupan santri nusantara, “Hal ini sekaligus sebagai uji nyali para santri dalam menyongsong 100 tahun madrasah TBS 10 tahun kedepan” pungkas Said, editor buku yang juga menjabat sebagai Dosen di STAIN Kudus.”pungkasnya.

KOMENTAR SEDULUR ISK :