Kudus, isknews.com – Ratusan warga Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, tumpah ruah mengikuti rangkaian tradisi Sedekah Bumi bertajuk Lilo Lego Legowo yang digelar selama tiga hari dan mencapai puncaknya pada Selasa (21/4/2026). Kegiatan ini berlangsung meriah dengan berbagai prosesi budaya dan doa bersama sebagai ungkapan syukur atas berkah alam.
Kepala Desa Menawan, Tri Lestari melalui Ketua panitia, Triyana Wahyu Sugma, menyampaikan bahwa perayaan tahun ini merupakan lanjutan dari rangkaian kegiatan yang telah dimulai sejak 19 April 2026. Agenda diawali dengan doa bersama di Masjid Hairul Umar, Dukuh Lundra, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama pada malam harinya yang menghadirkan penceramah dari Kudus.
“Seluruh rangkaian berpuncak hari ini, dimulai dengan kirab budaya dari Sardis Tendang Widodari, dilanjutkan prosesi manasupujo di Punden Mangku Bumi Jaya Kusuma, dan berakhir di Lapangan Bumi Abiyoso dengan serah terima gunungan,” terangnya saat ditemui di lokasi acara.
Usai prosesi tersebut, masyarakat mengikuti kenduri bersama yang menjadi salah satu inti kegiatan. Dalam kesempatan itu, hadir pula penceramah KH Zamrori Amin dari Pati yang memberikan tausiyah kepada warga.
Tidak hanya itu, kemeriahan acara juga diwarnai dengan berbagai pertunjukan seni tradisional. Mulai dari barongan hingga tari-tarian dari sanggar lokal turut ditampilkan, sementara pada malam hari dijadwalkan pentas ketoprak sebagai penutup rangkaian kegiatan.
Triyana menjelaskan, konsep kegiatan tahun ini dibuat lebih singkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berlangsung dalam waktu cukup panjang. Meski hanya digelar selama tiga hari, nilai-nilai tradisi tetap dipertahankan.
“Kami padatkan jadi tiga hari saja, tapi esensinya tidak berubah. Tetap sebagai wujud syukur dan mempererat kebersamaan warga,” ujarnya.
Ia menambahkan, tema Lilo Lego Legowo mengandung makna mendalam tentang keikhlasan dan kelapangan hati. Filosofi tersebut diharapkan dapat menjadi pegangan masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini juga mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan unsur Forkopimcam yang turut hadir bersama tokoh masyarakat setempat.
Partisipasi warga terlihat dari tradisi kenduri, di mana setiap keluarga membawa nasi lengkap dengan lauk pauk serta hasil bumi. Hal ini menjadi simbol gotong royong sekaligus bentuk rasa syukur atas rezeki yang diberikan.
Salah satu warga, Muslikah, mengatakan bahwa tradisi Sedekah Bumi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak lama. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya sebagai ungkapan syukur, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Setiap rumah biasanya membawa makanan dan hasil panen. Ini sudah turun-temurun dan selalu kami lestarikan,” tuturnya.
Ia juga menyebutkan bahwa sebagian besar warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian, seperti budidaya jambu dan sayuran, sehingga Sedekah Bumi memiliki arti penting dalam kehidupan mereka.
Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, tradisi Sedekah Bumi di Desa Menawan diharapkan tetap lestari sebagai warisan budaya yang memperkuat hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. (AS/YM)


