Risiko Kehamilan Tinggi di Kudus Capai 25 Persen, DKK Intensifkan Pendampingan

oleh -621 Dilihat
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat DKK Kudus, Edi Kusworo. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus terus memperkuat pendampingan bagi ibu hamil setelah hasil skrining menunjukkan sekitar 25 persen kehamilan di daerah tersebut masuk kategori risiko tinggi. Angka ini bahkan lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di kisaran 20 persen.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat DKK Kudus, Edi Kusworo, mengatakan tingginya jumlah ibu hamil berisiko menjadi perhatian serius karena berpotensi meningkatkan komplikasi selama masa kehamilan maupun persalinan. Oleh karena itu, berbagai upaya pencegahan dan pemantauan terus dilakukan secara berkelanjutan.

Menurut Edi, hingga pertengahan Juni 2026, tercatat empat kasus kematian ibu di Kabupaten Kudus. Sebagian besar kasus tersebut berkaitan dengan kondisi kesehatan yang sudah dimiliki sebelumnya atau penyakit penyerta yang memperbesar risiko selama kehamilan.

Banyak faktor yang memengaruhi kematian ibu. Ada yang berasal dari kondisi ibu itu sendiri, ada juga faktor eksternal. Namun kasus yang terjadi di Kudus mayoritas dipengaruhi penyakit penyerta,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah penyakit yang kerap ditemukan pada ibu hamil berisiko tinggi antara lain Tuberkulosis (TB), Human Immunodeficiency Virus (HIV), serta Diabetes Mellitus (DM). Kondisi tersebut membutuhkan pengawasan medis yang lebih ketat karena dapat membahayakan keselamatan ibu maupun janin.

Sebagai langkah antisipasi, DKK Kudus mengoptimalkan skrining kesehatan bagi perempuan yang berencana menjalani kehamilan. Program tersebut dijalankan melalui seluruh puskesmas untuk mendeteksi lebih awal berbagai faktor risiko yang mungkin muncul.

Selain pemeriksaan kesehatan, calon ibu juga diberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) mengenai pentingnya mempersiapkan kondisi tubuh sebelum hamil. Dengan demikian, risiko yang dapat memicu komplikasi diharapkan bisa diminimalkan sejak awal.

Melalui skrining itu kita bisa mengetahui apakah seseorang memiliki penyakit tertentu yang berisiko tinggi jika hamil. Misalnya HIV, TB, DM, dan penyakit penyerta lainnya yang dapat meningkatkan risiko kematian ibu,” jelasnya.

DKK Kudus juga memastikan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil tetap berjalan sesuai standar. Selama masa kehamilan, ibu diwajibkan menjalani pemeriksaan rutin melalui layanan Antenatal Care (ANC) terpadu dengan standar 12T.

Layanan tersebut meliputi pemantauan berkala kondisi ibu dan janin, pemeriksaan ultrasonografi (USG), hingga pemeriksaan dokter untuk mendeteksi kemungkinan gangguan kesehatan sedini mungkin.

Edi menambahkan, keberhasilan menekan angka kematian ibu tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga kesadaran masyarakat. Ia mengimbau perempuan yang memiliki penyakit kronis maupun yang berada pada usia terlalu muda atau terlalu tua untuk lebih berhati-hati saat merencanakan kehamilan.

Persiapan sebelum hamil sangat penting. Dengan mengetahui kondisi kesehatan sejak awal, risiko selama kehamilan bisa diantisipasi sehingga keselamatan ibu dan bayi lebih terjaga,” pungkasnya. (AS/YM)