Kudus, isknews.com – Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang sering menyerang sendi lutut dan panggul. Kondisi ini terjadi ketika tulang rawan (kartilago) yang melapisi ujung tulang mengalami kerusakan dan penipisan, sehingga menyebabkan tulang bergesekan langsung dan menimbulkan nyeri, kaku, serta keterbatasan gerak.
OA lebih sering dialami oleh masyarakat lanjut usia, terutama di atas 50 tahun, serta lebih banyak menyerang wanita setelah menopause. Faktor lain yang meningkatkan risiko antara lain obesitas, riwayat cedera sendi, pekerjaan yang menuntut aktivitas menekuk lutut berulang, serta faktor keturunan.
dr. Hanif Andika Wardhana, Sp.OT, selaku dokter Spesialis Orthopedi RSI Sunan Kudus menjelaskan bahwa pasien datang ke Layanan Klinik Ortopedi dalam kondisi cukup serius. Hal ini disebabkan karena rasa takut terhadap tindakan operasi, padahal kami selalu menawarkan terapi bertahap sebelum tindakan operasi dilakukan,” ujar dr. Hanif.
Gejala umum osteoarthritis meliputi nyeri pada lutut atau panggul, kekakuan sendi terutama di pagi hari, bunyi “krek” saat sendi digerakkan, serta penurunan kemampuan bergerak. Pada tahap lanjut, penderita bisa kesulitan berjalan tanpa alat bantu.
RSI Sunan Kudus menekankan pentingnya gaya hidup sehat dalam mencegah dan mengendalikan OA. Olahraga ringan seperti jalan kaki, bersepeda statis, berenang, serta latihan penguatan otot paha dan pinggul sangat dianjurkan. Sementara olahraga dengan hentakan keras seperti lari jarak jauh, futsal, atau basket sebaiknya dihindari.
Selain faktor mekanik, obesitas juga berperan dalam mempercepat kerusakan sendi karena meningkatkan peradangan. Menurut penelitian, penurunan berat badan sebesar 5–10 persen dapat menurunkan nyeri pada OA lutut secara signifikan.
Penanganan OA di Layanan Klinik Ortopedi RSI Sunan Kudus meliputi modifikasi gaya hidup, fisioterapi, pemberian obat anti nyeri dan anti radang, injeksi sendi, hingga tindakan operasi penggantian sendi (arthroplasty) bila diperlukan.
Operasi ini dilakukan jika nyeri sudah sangat berat, sendi berubah bentuk, atau terapi non-bedah tidak lagi efektif. Arthroplasty mampu mengembalikan kemampuan berjalan tanpa nyeri dan hasilnya dapat bertahan hingga 15–20 tahun.
Sebagai pesan utama, RSI Sunan Kudus mengimbau masyarakat untuk menjaga berat badan ideal, tetap aktif berolahraga ringan, serta segera memeriksakan diri jika mengalami nyeri sendi yang menetap. Deteksi dini menjadi kunci agar penderita OA dapat tetap produktif dan terhindar dari disabilitas. (*)







