Sasar Usia Produktif, Dinas Kesehatan Kudus Bersama KPAD Gelar ‘Screening’ Massal HIV

oleh
Sekertaris Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Ruddy Hermawan.

Kudus, ISKNEWS.COM – Dalam rangka menjaring para penderita HIV/AIDS untuk segera mendapatkan pengobatan, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) mengadakan Screening Massal ke puluhan ribu pekerja di Kudus.

“Merangkul KPAD, kami (DKK) akan lakukan screening massal kepada 20 ribu pekerja, lebih tepatnya ke usia produktif,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Joko Dwi Putranto melalui Sekertaris Dinasnya, Ruddy Hermawan, Selasa (12/11/2019).

TRENDING :  Telur Ayam Ras, Bawang Merah dan Rokok Sumbang Inflasi Kudus Desember 2019

“Screening masal dilakukan selama sebulan penuh. Mulai tanggal 12 November – 11 Desember 2019 dan hari ini kami sediakan 200 pemeriksaan bagi masyarakat dan ASN,” paparnya saat ditemui disela-sela proses screening di kompleks Pendopo Kabupaten Kudus.

“Perusahaan-perusahaan di Kudus akan kami ajak untuk melakukan kegiatan ini. Selain itu, masyarakat umum maupun ASN juga dipersilahkan melakukan pengecekan HIV/AIDS,” imbuhnya.

TRENDING :  Tokoh Lintas Agama Perangi Faham Radikal dan Terorisme

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari temuan 99 kasus HIV/AIDS baru di Kudus pada tahun 2019 ini. Dengan total kasus dari tahun 2010 – 2019 sebanyak 997 kasus. “Sekitar 90 persen kasus ditemukan pada fase AIDS,” sebutnya.

Eni Mardiyanti, Koordinator KPAD Kudus

Sementara itu, Eni Mardiyanti, Koordinator KPAD Kudus menyebut, tren penemuan kasus HIV/AIDS di Kudus setiap tahunnya mengalami peningkatan. Hanya saja, temuan kasus tersebut sering kali terungkap saat penderita telah memasuki fase AIDS.

TRENDING :  Bulan Dana PMI Kudus Capai 1,098 Miliar, AKBP Saptono: Ini Berkat Sinergi Bersama

“Prinsipnya, semakin banyak yang terdeteksi akan semakin bagus. Karena ada banyak penderita yang terobati,” tegasnya.

Dengan screening ini, pihaknya berharap target zero infeksi baru, zero diskriminasi dan zero stigma dapat tercapai. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :