Sawah Petani Hadiwarno Terancam Tak Teraliri Air

oleh

Kudus, isknews.com – Lebih dari sepuluh hektare sawah petani Desa Hadiwarno dan Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo terancam tak teraliri air. Hal itu menyusul diurugnya saluran sekunder Dam Ingas Sungai Piji di Desa Hadiwarno RT 6 RW 2 oleh salah satu warga. Padahal saluran itu menjadi satu-satunya akses mendapatkan air untuk mengairi sawah petani di dua desa tersebut.

cymera_20161101_210044
Kondisi saluran air sekunder Dam Ingas Sungai Piji yang diurug Salamun di Desa Hadiwarno RT 06 RW 02. Akibat hal itu puluhan petani yang menggarap lahan seluas lebih dari sepuluh hektare terancam tak mendapat pasokan air. (ISK/MUKHLISIN)

Kepala Desa Hadiwarno Sugiyarto kepada isknews.com menuturkan, pengurugan saluran air menggunakan tanah padas dilakukan Salamun warga Desa Hadiwarno RT 6 RW 2. Hal itu lantaran Salamun dan keluarga kecewa dan merasa dihina beberapa petani yang mengatakan jika berani mengurug saluran air itu, air kencing keluarga Salamun akan diminum.

TRENDING :  Meski Jauh Dari Kampung Halaman, Anak Rantau Kudus Di Taiwan Tetap Kangen Dengan Kota Kretek

Diketahui saluran air sekunder Dam Ingas Sungai Piji yang diurug Salamun itu melewati tanah pribadi milik keluarganya. Dulunya tanah itu disewa PTPN IX PG Rendeng untuk digunakan sebagai saluran air. Hingga sekarang saluran air tersebut dimanfaatkan para petani dari Desa Hadiwarno dan Mejobo untuk mengairi sawah.

TRENDING :  Dituding Jadi Penyebab Banjir, Warga Hadiwarno Bongkar Paksa Saluran Air Yang Ditutup Padas Keluarga Salamun

Namun dalam perjalannya timbul permasalahan, karena para petani menolak membayar iuran atau uang sewa sebesar Rp 1 juta per musim kepada keluarga Salamun. Uang sewa yang dimaksud ditanggung bersama seluruh petani yang menggarap sawah.

TRENDING :  Misteri Masjid Baitul Aziz Hadiwarno

Sementara sawah yang terkena dampak total ada lebih dari 100 petak. Artinya apabila uang sewa Rp 1 juta dibagi 100 petak, per petaknya dibebani uang sewa sebesar Rp 10 ribu per panen. “Tapi para petani tetap menolak untuk membayarnya dan ada perkataan petani yang menyinggung keluarga salamun, sehingga terjadi pengurugan karena merasa dihina,” ujarnya. (MK)

KOMENTAR SEDULUR ISK :