SD di Kudus ini punya Gerakan Satu Siswa Satu Buku untuk Korban Banjir Demak

oleh -1,736 kali dibaca
Foto: Gerakan Satu Siswa Satu Buku (Sasisabu) di SD 3 Jepang Mejobo, Kudus. (Foto: Dok. ist.)

Kudus, isknews.com – Empati dan simpati terhadap penderitaan korban banjir Demak, terus mengalir, khususnya pada  sekolah dan siswa-siswi di kecamatan karanganyar, yang pada pasca banjir ini belum bisa bersekolah. Hal ini karena kondisi sekolah yang tergenang banjir setinggi lebih dari dua meter dan terendam tidak kurang dari sepuluh hari, kondisinya masih memprihatinkan.

Tak hanya kondisi sekolah, sarana-prasarana untuk proses belajar-mengajar pun belum memungkinkan untuk dilakukan. Hal itu yang mendorong kepala sekolah SD 3 Jepang Mejobo, Kudus, membuat gerakan satu siswa satu buku.

“Kondisi inilah yang kemudian yang mendorong kami untuk membuat gerakan satu siswa satu buku yang kami sebut sebagai sasisabu. Untuk SD 3 Jepang, pengumpulan satu siswa satu buku (tulis) ini dikoordinir oleh Ibu Gadys Permata Hati,” ucap kepala sekolah SD 3 Jepang, Eko Mardiana.

Pengumpulan satu siswa satu buku tersebut, menurut Gadys, dilaksanakan pada hari Jumat (23/02) bertepatan dengan jumat berkah.

“Meski hanya mengumpulkan satu buku dari satu anak, kalau dijumlah seluruh sekolah bisa seratusan yang kami kumpulkan. Dan itu tidak memberatkan siswa. Bahkan sejumlah siswa menyumbang tak hanya satu buku. Dan setelah terkumpul, buku ini nantinya akan kami salurkan ke siswa-siswi korban banjir Demak,” lanjut Mardiana.

Gayung bersambut, Gerakan “sasisabu” ini, mendapat respon dari sejumlah sekolah, yang kemudian melakukan gerakan yang sama disekolah masing-masing.

Seperti di SD 1 Kedungdowo, Kaliwungu, dan SD 2 Burikan, Kudus. “Alhamdulillah, gerakan ini kemudian juga kami lakukan di sekolah kami, dan terkumpul buku cukup banyak,” kata Fitriyanto, Kepala Sekolah SD 1 Kedungdowo.

Sementara Noor Aini Wijayakusumaningsih, Kepala Sekolah SD 2 Burikan, mengatakan, gerakan “sasisabu” ini akan terus dilakukan di sekolahnya, dengan melihat kondisi dan situasi.

Mengingat, kebutuhan buku sebagai sarana belajar bagi siswa-siswi korban banjir sangat vital. Selain buku juga sangat memungkinkan untuk mengumpulkan donasi berupa pensil, bolpoint, atau penghapus. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :