Sewu Kupat hingga Bulusan, Tradisi Kupatan Kudus Siap Sedot Ribuan Warga

oleh -251 Dilihat
Tradisi budaya tahunan Parade Sewu Kupat Muria. (Foto: ist.)

Kudus, isknews.com – Sejumlah tradisi kupatan khas Kabupaten Kudus dipastikan kembali digelar meriah pada hari kedelapan Idulfitri 1447 H, Sabtu (28/3/2026). Mulai dari Sewu Kupat hingga Bulusan, rangkaian acara ini diprediksi bakal menyedot ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

Sebanyak empat tradisi kupatan akan berlangsung secara serentak di sejumlah wilayah, yakni Sewu Kupat di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Tradisi Bulusan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Gebyar Kupatan di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, serta Syawalan Sendang Jodo di Desa Purworejo, Kecamatan Bae.

Masing-masing tradisi menawarkan keunikan tersendiri yang menjadi daya tarik masyarakat. Sewu Kupat, misalnya, akan dipusatkan di Taman Ria Colo dengan diawali kirab gunungan ketupat dari kawasan Makam dan Masjid Sunan Muria menuju lokasi acara. Puncak kegiatan ditandai dengan grebeg ketupat yang selalu dinanti warga.

Sementara itu, Tradisi Bulusan di Hadipolo akan berlangsung dengan nuansa sakral di Balai Bowo Leksono. Selain kirab ketupat, kegiatan ini juga diisi dengan ritual memberi makan bulus serta pertunjukan wayang yang menambah kekayaan nilai budaya dan spiritual.

Tak kalah semarak, Gebyar Kupatan di Desa Kesambi akan menghadirkan kirab ketupat dari balai desa menuju objek wisata Mbalong Sangkal Putung. Pengunjung juga dapat menikmati suasana wisata air yang berada di tengah area persawahan.

Di sisi lain, Syawalan Sendang Jodo di Desa Purworejo tetap menjadi magnet tersendiri setiap tahunnya. Tradisi ini akan dimeriahkan dengan kirab budaya serta pementasan teatrikal Ande-Ande Lumut yang sarat pesan moral sekaligus hiburan bagi masyarakat.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Agus Susanto, menyampaikan bahwa tradisi kupatan merupakan agenda tahunan yang selalu mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat, baik lokal maupun luar daerah.

Ia menambahkan, pihaknya berkomitmen untuk terus melestarikan tradisi tersebut, bahkan berencana mengusulkan salah satu tradisi kupatan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Tradisi Bulusan tahun depan rencananya akan kami usulkan sebagai WBTB, sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya lokal,” ujarnya.

Melalui penyelenggaraan tradisi kupatan ini, diharapkan tidak hanya memperkuat nilai kebersamaan dan religiusitas masyarakat, tetapi juga mendorong sektor pariwisata daerah agar semakin berkembang. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :