Sinergi Keren Ponpes Qudsiyyah & Pegiat Pertanian: Menggagas Program “Nabung Ayam” Demi Cetak Santri Mandiri dan Bebas Bau Kandang

oleh -12627 Dilihat
"Kalau kita menabung uang di bank, bunganya mungkin kecil. Tapi kalau kita 'Nabung Ayam', dalam tiga tahun profitnya bisa tembus hingga 4.000 persen. Kenapa? Karena ada reproduksi alami yang masif—bisa dibilang ini bantuan dari langit," kelakar Taufiq yang disambut antusias oleh para kyai sepuh dan asatidzh yang hadir. (Gambar : istimewa)

KUDUS, isknews.com – Pondok Pesantren saat ini tidak hanya menjadi episentrum penempaan akhlak dan ilmu agama, tetapi juga mulai menjelma menjadi laboratorium kemandirian ekonomi. Langkah strategis inilah yang sedang dipersiapkan oleh Pondok Pesantren (Ponpes) Qudsiyah Kudus.

Melalui sebuah diskusi santai penuh gagasan di Resto Bon Jati Singocandi, Kudus, Sabtu (16/05/2026), jajaran inti Ponpes Qudsiyah yang dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok, Prof. Ihsan, duduk bersama koordinator Paguyuban Petani Persaudaraan Pati Raya, Rochmad Taufiq. Pertemuan ini melahirkan sebuah ide segar pemberdayaan ekonomi santri berbasis peternakan ramah lingkungan yang dinamai Program “Nabung Ayam”.

Tantangan Pasca-Kelulusan: Santri Harus Punya ‘Life Skill’

Ponpes Qudsiyah yang mengasuh lebih dari 5.000 santri menyadari betul dinamika tantangan masa depan. Dalam mukadimah diskusi, Ustadz Tubagus dan Ustadz Yahya (Waka Kurikulum) memaparkan sebuah data internal yang cukup menantang.

Berdasarkan riset internal pondok, peta jalan lulusan santri terbagi menjadi dua jalur utama:

  • 50 Persen: Melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi (kuliah).
  • 50 Persen: Belum berkesempatan kuliah karena berbagai faktor, di mana faktor ekonomi menjadi pemicu utama.

“Karena itu, pesantren harus hadir memberikan solusi nyata. Kita ingin membekali para santri dengan life skill, kemandirian, dan peluang usaha riil yang bisa mereka bawa pulang setelah lulus,” tegas Ustadz Yahya.

Mengenal Filosofi “Nabung Ayam”: Investasi Unik ‘Bantuan Langit’

Merespons tantangan tersebut, Rochmad Taufiq menawarkan konsep peternakan rakyat yang aplikatif namun memiliki daya ungkit ekonomi yang luar biasa.

“Kalau kita menabung uang di bank, bunganya mungkin kecil. Tapi kalau kita ‘Nabung Ayam’, dalam tiga tahun profitnya bisa tembus hingga 4.000 persen. Kenapa? Karena ada reproduksi alami yang masif—bisa dibilang ini bantuan dari langit,” kelakar Taufiq yang disambut antusias oleh para kyai sepuh dan asatidzh yang hadir.

Secara matematis dan edukatif, program ini sangat masuk akal untuk diadopsi skala pesantren:

  1. Modal Awal Minimalis: Cukup dimulai dengan formula 10 ayam betina dan 1 ayam jantan (pejantan) per kelompok.
  2. Manajemen Pengembangbiakan Alami: Dengan perawatan yang tepat, dari 11 ekor ayam tersebut akan menghasilkan siklus penetasan yang eksponensial hingga berjumlah ratusan bahkan ribuan ekor dalam hitungan tahun.

Edukasi Peternakan Modern: Konsep Kandang Litter Bebas Bau

Salah satu ketakutan terbesar membuat peternakan di lingkungan komunal seperti pesantren adalah masalah bau kotoran dan lalat. Namun, Taufiq mematahkan stigma tersebut dengan mengenalkan teknologi Kandang Litter Terintegrasi.

Sistem ini memiliki keunggulan edukatif yang sangat cocok untuk santri:

  • Zero Waste & Zero Odor: Menggunakan campuran kohe (kotoran hewan) sapi, kohe kambing, sekam, dan memanfaatkan aktivitas alami ceker ayam untuk proses fermentasi alami. Hasilnya, kandang sama sekali tidak bau.
  • Hemat Energi: Santri tidak perlu repot membersihkan kotoran kandang setiap hari.
  • Menghasilkan Pupuk Organik: Pola ini otomatis mengubah kotoran ayam menjadi pupuk organik berkualitas tinggi yang siap digunakan untuk sektor pertanian berkelanjutan (sustainable farming).

Bukti Nyata dari BG Farm Kudus

Konsep ini bukan sekadar teori di atas kertas. Taufiq membagikan kisah sukses implementasi nyata di BG Farm Kudus.

Memulai pilot project pada Juli tahun lalu dengan modal awal yang sama (10 betina, 1 pejantan), kini dalam waktu 7 hingga 8 bulan saja, BG Farm telah memiliki 4 kandang utama dengan total populasi menembus lebih dari 200 ekor ayam.

Untuk mengakali biaya pakan yang kerap menjadi momok peternak, BG Farm mengedukasi sistem Pakan Mandiri Berbasis Kebun. Mereka memanfaatkan tanaman tinggi nutrisi yang mudah ditanam di sekitar lahan, seperti:

  • Daun singkong
  • Azolla microphylla (tumbuhan paku air kaya protein)
  • Jagung giling

Skema Usulan: 50 Santri Qudsiyah Siap Jadi Preneur

Sebagai langkah konkret, dalam forum tersebut diusulkan agar Ponpes Qudsiyah memilih 50 santri pilihan untuk diinkubasi. Teknisnya adalah sebagai berikut:

[50 Santri Terpilih] 
       │
       ├─► Dibagi menjadi 5 Kelompok (10 Santri / Kelompok)
       │
       └─► Setiap Kelompok Mengelola 1 Kandang Mandiri
                 (Isi: 10 Ayam Betina + 1 Pejantan)

Melalui skema gotong royong ini, pada tahap awal akan dibangun 5 kandang komunal di lingkungan pesantren.

“Kami siap melakukan pendampingan dan bimbingan teknis secara berkala. Targetnya jelas, ketika para santri ini lulus SLTA, mereka tidak hanya membawa ijazah, tapi sudah punya aset usaha mandiri. Bahkan hasilnya bisa digunakan untuk membiayai kuliah mereka sendiri,” pungkas Taufiq.

Diskusi yang berlangsung hangat di Resto Bon Jati ini menjadi sinyal kuat bahwa kolaborasi antara dunia pesantren, dunia pertanian, dan peternakan mampu melahirkan generasi santri masa depan: alim dalam ilmu agama, mapan dalam kemandirian ekonomi. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.