Siswa SMP di Kudus Diduga Jadi Korban Bullying, Sekolah Siapkan Pertemuan dengan Orang Tua

oleh -304 Dilihat
Foto: ilustrasi

KUDUS, ISKNEWS.COM – Dugaan bullying terhadap seorang siswa SMP di Kabupaten Kudus tengah ditangani pihak sekolah. Siswa berusia 13 tahun tersebut disebut mengalami cedera pada bagian hidung hingga harus mendapatkan perawatan medis.

Informasi mengenai dugaan bullying itu disampaikan oleh kakek korban saat dihubungi media ini. Ia mengatakan, kejadian tersebut diduga berlangsung pada Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, korban kemudian diajak oleh salah seorang kakak kelas menuju toilet di lantai dua. Di lokasi tersebut, korban diduga sudah ditunggu oleh beberapa siswa lainnya.

“Waktu itu, cucu saya dibawa ke toilet lantai dua. Di sana sudah ada tiga anak lainnya. Kemudian korban dipukuli sampai hidungnya berdarah dan terjatuh, bahkan masih ditendangi,” ujar sang kakek, Jumat (14/8/2026).

Aksi tersebut, lanjutnya, akhirnya berhenti setelah seorang siswa lain datang dan melerai. Kondisi korban yang mengalami pendarahan pada hidung membuat darah terlihat hingga mengenai pakaian yang dikenakannya.

Korban disebut sempat mendapat tawaran untuk mengganti pakaian. Namun setelah kejadian, korban diduga mendapat ancaman agar tidak menceritakan peristiwa tersebut kepada pihak lain.

Sepulang dari sekolah, kondisi hidung korban yang masih mengalami pendarahan membuat keluarga membawanya ke rumah sakit. Korban kemudian menjalani tindakan operasi untuk menangani cedera pada hidungnya.

“Karena darah dari hidung masih terus keluar, akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk dioperasi. Sekarang sudah dipindahkan ke RSUD dr Loekmono Hadi Kudus untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut,” jelasnya.

Kakek korban menuturkan, pada awalnya cucunya tidak mau menceritakan penyebab luka yang dialaminya. Setelah menjalani operasi dan kondisinya mulai membaik, korban akhirnya mengungkap kejadian yang dialaminya kepada keluarga.

“Awalnya tidak mau bicara. Setelah operasi dan kami tanya lagi, akhirnya dia cerita kalau lukanya itu karena dipukuli empat anak,” ungkapnya.

Keempat siswa yang disebut dalam dugaan kejadian tersebut merupakan kakak kelas korban yang duduk di kelas 9. Sementara korban saat ini masih duduk di kelas 8. Keluarga juga menyebut dugaan perundungan terhadap korban telah terjadi sejak dirinya masih berada di kelas 7.

Sementara itu, kepala sekolah saat dikonfirmasi mengatakan pihaknya telah mengetahui informasi tersebut dan saat ini melakukan penanganan secara internal. Sekolah memastikan persoalan tersebut akan dibahas dengan melibatkan siswa serta orang tua masing-masing.

“Kami akan memanggil anak-anak dan orang tuanya besok (Sabtu) untuk menyelesaikan persoalan ini bersama. Kami ingin mendengar keterangan dari kedua pihak supaya persoalannya bisa diketahui secara jelas dan tidak berkembang menjadi informasi yang keliru,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).

Pihak sekolah juga menegaskan tidak ingin mengambil keputusan secara terburu-buru sebelum seluruh keterangan dikumpulkan. Pertemuan dengan orang tua dinilai penting untuk mengetahui kronologi kejadian sekaligus menentukan langkah penanganan yang tepat.

Apabila dalam proses klarifikasi ditemukan adanya pelanggaran, sekolah menyatakan akan memberikan pembinaan maupun sanksi sesuai aturan yang berlaku. Penanganan tersebut juga akan mempertimbangkan tanggung jawab sekolah dalam memberikan perlindungan dan pembinaan kepada seluruh siswa.

Sekolah berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi bersama antara pihak sekolah, siswa, dan keluarga. Dengan demikian, fakta kejadian dapat diketahui secara utuh dan langkah penyelesaian dapat dilakukan secara proporsional. (AS/YM)