Tantangan Jateng Hadapi Tingginya Kontraksi di Sektor Perdagangan, Industri dan Konstruksi

oleh -338 kali dibaca

Ekonomi, isknews.com – Kepala OJK Regional 3 Jateng – DIY, Aman Santosa menyebut, Pandemi Covid-19 memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.  Tahun 2020, pertumbuhan ekonomi di provinsi ini, terkontraksi menjadi -3,34%. Sektor ekonomi yang terkontraksi khususnya sektor Industri, Perdagangan dan Konstruksi masing-masing sebesar -6.10%, -2,27% dan -4,40%. 

“Kontraksi paling dalam dialami komponen ekspor barang dan jasa hingga sebesar -16,12%. Kondisi tersebut menyebabkan naiknya tingkat kemiskinan dari 10,58% pada September 2019 menjadi 11,84% pada September 2020, dan tingkat pengangguran terbuka yang naik dari 4,44% pada Agustus 2019 menjadi 6,48% pada Agustus 2020,” paparnya dalam Dialog Industri Jasa Keuangan untuk Akselerasi Pemulihan Ekonomi Jawa Tengah Tahun 2021, di Po Hotel Semarang, Senin (8/3/2021).

Aman menambahkan, di tengah memburuknya indikator perekonomian tersebut, Industri Jasa Keuangan khususnya di Jawa Tengah masih menunjukkan kinerja positif bahkan lebih baik dari indikator nasional, diantaranya dari sisi pertumbuhan kredit perbankan tumbuh sebesar 2,01%, penyaluran KUR yang mencapai 42,29% dan pembiyaan Ultra Mikro (UMi) yang mencapai pertumbuhan sebesar 50,96%. 

Bahkan, atas capaian tersebut, di tahun 2020 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperoleh beberapa penghargaan dari OJK, khususnya program yang terkait dengan inklusi keuangan.

“Kinerja positif dan capaian tersebut, tak lepas dari kolaborasi dan dukungan dari OJK bersama dengan Pemerintah Daerah, Kanwil Dirjen Perbendaharaan dan Industri Jasa Keuangan dalam program pemulihan ekonomi di Jawa Tengah,” tandasnya.

Disebutkan, pada sepanjang tahun 2020, melalui kerjasama tersebut, OJK telah mengembangkan layanan konsultasi restrukturisasi kredit khususnya UMKM dengan nama ‘kreditcenter’.

Selain itu, secara berkelanjutan juga mengadakan sosialisasi program subsidi bunga, dan menyusun program UMKM Bangkit diantaranya businessmatching, antara Industri Jasa Keuangan dan pelaku UMKM,  serta mendorong perluasan alternatif pembiayaan berbunga rendah. 

“Terlepas dari segala capaian tersebut, Provinsi Jawa Tengah masih menghadapi beberapa tantangan, salah satunya yaitu tingginya kontraksi di sektor perdagangan, industri dan konstruksi yang disebabkan menurunnya konsumsi masyarakat dan negara tujuan ekspor belum pulih sepenuhnya, sehingga permintaan barang dan jasa saat ini masih lemah,” tandas Aman.

Kedepan, pihaknya akan tetap melanjutkan dan memperluas program, yang sudah dilakukan dengan berbagai penguatan serta berharap Industri Jasa Keuangan di Jawa Tengah dan DIY. Termasuk dapat memberikan dukungan yang maksimal, bagi pemulihan pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah melalui beberapa program yang telah OJK canangkan di tahun 2021. 

“Dengan semangat kolaborasi mencari solusi terbaik mengatasi dampak pandemi oleh OJK, Industri Jasa Keuangan, Pemerintah Daerah dan seluruh pemangku kepentingan, kami optimis hal tersebut dapat mengakselerasi pemulihan ekonomi khususnya di Jawa Tengah dan DIY,”pungkas Aman. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :