Terbang Papat, Tradisi Kudus Yang Masih Lestari

oleh
Terbang Papat di Menara Kudus
Terbang Papat di Menara Kudus

Kudus, ISKNEWS.COM – Kebudayaan Bernafaskan Islam Ini Telah Ada Dan Terpelihara Dalam Masyarakat Kudus Sejak Dulu, Jauh Sebelum Kemerdekan RI. Tradisi Kudus, Terbang Papat Sudah Ada Sejak Bangsa Ini Masih Dijajah Yaitu Tahun 1936, Kesenian Terbang Papat Ini Diperoleh H.Ashlihan Yang waktu Itu Adalah Pemilik Perusahaan Rokok Djangkar.

Terbang papat merupakan seni menabuh alat musik sejenis rebana. Yang Beralatkan Lajer, Kemplong, Salakan, Dan Jidur. Tradisi ini merupakan budaya asli Kudus yang digagas oleh para wali dan ulama Jawa. Oleh para ulama setelahnya, budaya ini juga menjadi bagian dari perlawanan ulama kepada kolonialisme.

Masih segar dalam ingatan warga Kudus dan sekitarnya, Rekor Dunia Museum Rekor Indonesia (MURI) Tabuh Terbang Papat terlama, 87 jam non-stop yang diprakarsai oleh Pengurus Masjid Agung Kudus yang melibatkan 131 kelompok Terbang Papat dari 9 kecamatan di Kabupaten Kudus.

TRENDING :  Calon Wakil Bupati Kudus Nomor Urut Satu Kunjungi Pasar Tiban Duit Bathok
TRENDING :  Pemkab dan DPRD Sepakati Formula Gaji Outsourcing Yang Belum Terbayar

Tradisi Ini Pun Terus Dipelihara Turun Temurun Oleh Anak Cucu Hingga Saat Ini Salah Satunya Soleh, Cucunya Yang Tinggal Di Desa Desa Sunggingan Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Harapannya nanti, Hasilnya Dapat Diperkenalkan Dan Dimuat Dalam Kurikulum Sekolah Dasar melalui Muatan Lokal (Mulok). Namun Sayangnya kesenian Terbang Papat Sudah Tergolong Langka Di Masyarakat Dilihat Dari Sebagian Besar Para Penabuh Yang Sudah Berusia Lanjut.

TRENDING :  Ajak Anak Cinta Lingkungan Melalui Lomba Mewarnai

Syair Yang Diketahui Sebagai Karya Sunan Muria berjudul “Saekono” Pun, Hingga Kini Masih Lestari Karena Sering Dilagukan Dalam Pentas-Pentas Tabuh Terbang Papat Di Kudus.

 

 

KOMENTAR SEDULUR ISK :