Kudus, isknews.com – Sebuah temuan tak biasa terjadi di kawasan hutan Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Tim ekspedisi yang terdiri dari empat orang berhasil menemukan titik semburan dari dalam tanah di lokasi yang oleh warga setempat dikenal dengan sebutan “Air 5 Rasa”, Kamis (29/1/2026).
Perwakilan tim ekspedisi, Stefanus, mengungkapkan bahwa awalnya mereka memang berniat mencari keberadaan Air 5 Rasa yang lokasinya berdekatan dengan Air 3 Rasa Rejenu. Namun, medan yang berubah akibat longsoran bebatuan dan tanah setelah hujan deras membuat tim sempat kebingungan mengenali titik lokasi tersebut.
“Kami memang sengaja mencari Air 5 Rasa. Tapi waktu sampai di titik yang diduga lokasinya, wajah tempatnya sudah berubah total karena tertutup longsoran batu dan tanah,” ujar Stefanus.
Saat berada di lokasi, tim justru menemukan kejanggalan pada tumpukan reruntuhan batu. Mereka mendengar suara gemuruh menyerupai air dari balik longsoran.
Awalnya, tim menduga suara tersebut berasal dari aliran air di bawah reruntuhan.
Karena penasaran, tim akhirnya memutuskan membongkar sebagian material longsoran tersebut. Setelah dilakukan penggalian, mereka mendapati genangan air yang mendapatkan hembusan dari dalam tanah.
“Sebentar ini kok aneh, ini keluarnya dari bawah, bukan dari samping,” kata Stefanus saat menyadari adanya hembusan dari dasar tanah.
Stefanus menjelaskan, hingga kini tim belum bisa memastikan jenis air yang muncul dari titik tersebut.
Menurut keterangan warga sekitar yang sempat mereka ajak berkoordinasi, lokasi tersebut memang dikenal sebagai Air 5 Rasa. Bahkan, salah satu warga yang akrab disapa Om Tyo menyebut bahwa jika ditemukan lima titik sumber air, salah satunya dipercaya memiliki rasa asin karena pengaruh dari laut, sementara lainnya bisa terasa pahit tergantung kondisi tertentu.
“Warga sini menyebutnya Air 5 Rasa. Kata Om Tyo, kalau sampai ketemu lima titik, salah satunya pasti ada yang asin karena dari laut, ada juga yang pahit, tergantung mood orangnya,” jelas Stefanus.
Stefanus menambahkan, tim juga telah berkoordinasi dengan warga setempat serta pengelola wana wisata di kawasan tersebut. Pada hari itu, tim sekaligus membersihkan jalur menuju lokasi karena banyak titik tertutup ranting, tanah, dan bebatuan akibat hujan deras sebelumnya.
Karena tidak membawa peralatan lengkap, pembersihan material longsoran di titik semburan tersebut dihentikan sementara. Tim berencana kembali pada hari Minggu dengan membawa peralatan untuk membersihkan sisa reruntuhan agar lokasi bisa kembali dijangkau.
“Kemarin kami hanya membersihkan jalurnya dulu. Untuk titik longsorannya, rencana hari Minggu kami kembali dengan alat supaya bisa dibersihkan dan lokasi ini bisa diakses lagi oleh umum,” tambahnya.
Diketahui, keempat anggota ekspedisi tersebut merupakan bagian dari komunitas “Atap Muria”, yang selama ini dikenal aktif dalam kegiatan operasi peduli sampah di jalur pendakian Gunung Muria. Ekspedisi ini merupakan inisiatif baru mereka yang bertujuan melakukan eksplorasi sekaligus perawatan sederhana di sejumlah titik alam yang jarang terjangkau.
Melalui kegiatan ini, tim berharap lokasi Air 5 Rasa yang sempat tertutup longsoran dapat kembali terbuka dan dikenali, sekaligus menjadi perhatian untuk diteliti lebih lanjut terkait fenomena semburan dari dalam tanah yang mereka temukan. (AS/YM)






