Kudus, isknews.com – Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann, menegaskan pentingnya mengenalkan sepak bola putri sejak usia dini melalui pendekatan yang menyenangkan. Hal ini disampaikannya dalam ajang MilkLife Soccer Challenge 2025 yang digelar di Supersoccer Arena dan Lapangan Porma, Kudus, pada 5-9 Februari 2025.
Sebagai pelatih yang telah lama berkecimpung dalam pembinaan sepak bola usia dini, Timo menekankan bahwa metode latihan berbasis permainan menjadi kunci utama agar anak-anak tetap antusias dalam berlatih.
“Di usia 6-8 tahun, anak-anak belum bisa diajarkan sepak bola secara kaku. Mereka butuh pendekatan yang menyenangkan, seperti permainan yang melatih koordinasi, kecepatan, dan ketangkasan,” ujar Timo.
Metode Latihan Berbasis Permainan
Festival SenengSoccer, bagian dari MilkLife Soccer Challenge, menjadi wadah khusus bagi anak-anak usia 6-8 tahun untuk merasakan pengalaman pertama mereka bermain sepak bola. Dalam festival ini, peserta dikenalkan dengan teknik dasar seperti menggiring bola, berlari zig-zag, dan menendang ke gawang, tanpa tekanan kompetisi.
Menurut Timo, konsep festival ini bertujuan agar anak-anak perempuan tidak merasa takut untuk mencoba sepak bola.
“Banyak yang mengira sepak bola hanya untuk laki-laki. Padahal, anak perempuan juga bisa bermain dan bersaing jika diberikan kesempatan serta lingkungan yang mendukung,” jelasnya.
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Fara Arsy Anindita, siswi kelas 2 SD 1 Pedawang, yang menyelesaikan tantangan dalam waktu 37,50 detik. Keberhasilan ini, menurut Timo, membuktikan bahwa potensi anak perempuan dalam sepak bola bisa berkembang jika dikenalkan dengan cara yang tepat.
Membangun Ekosistem Sepak Bola Putri
Selain festival untuk usia dini, MilkLife Soccer Challenge 2025 juga mempertandingkan kategori KU 10 dan KU 12 dengan partisipasi 1.547 siswi dari Kudus, Demak, Rembang, Pati, dan Jepara.
Menurut Timo, membangun ekosistem sepak bola putri membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk sekolah dan orang tua.
“Kami ingin membangun lingkungan di mana anak perempuan merasa nyaman bermain sepak bola. Itu sebabnya, festival ini dibuat tanpa tekanan menang atau kalah, tetapi murni untuk bersenang-senang,” kata Timo.
Turnamen ini akan berlanjut ke babak semifinal dan final untuk kategori KU 10 dan KU 12 pada Minggu, 9 Februari 2025 di Supersoccer Arena, Rendeng, Kudus. (AS/YM)






