TP PKK Kudus Perkuat Pendampingan Balita, Endhah Sam’ani Optimistis Wujudkan Zero Stunting

oleh -359 Dilihat
Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Sam'ani Intakoris didampingio stakeholder terkait saat menyaksikan langsung proses penimbangan balita saat melakukan pendampingan terhadap anak terindikasi stunting di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Rabu (22/7/2026). (Foto: ist)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Upaya mewujudkan Kudus Zero Stunting terus diperkuat melalui pendampingan intensif terhadap balita yang terindikasi mengalami stunting. Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris, meninjau langsung dua balita di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Rabu (22/7/2026), untuk memastikan perkembangan kesehatan mereka berjalan sesuai target.

Dalam kegiatan tersebut, Endhah didampingi tim dari Mardi Rahayu, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), serta para pendamping yang selama ini secara rutin melakukan pemantauan kondisi anak. Pendampingan difokuskan pada peningkatan berat badan sekaligus memantau tumbuh kembang balita selama tiga bulan.

Endhah mengatakan angka stunting di Kabupaten Kudus terus menunjukkan tren penurunan. Meski demikian, berbagai upaya tetap dilakukan secara berkesinambungan agar target Zero Stunting dapat segera tercapai.

“Angka stunting sudah banyak menurun, tetapi pendampingan tetap harus dilakukan. Untuk anak-anak yang didampingi Mardi Rahayu, khususnya di Kecamatan Jati, selama tiga bulan akan terus dipantau perkembangan berat badannya,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan pendampingan terlihat dari hasil pemeriksaan rutin yang menunjukkan perkembangan signifikan pada kondisi balita. Setiap kunjungan, anak-anak diperiksa berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, hingga lingkar lengan untuk mengetahui progres pertumbuhannya.

“Alhamdulillah ada perkembangan yang signifikan. Ini berkat ketelatenan dokter, tim Mardi Rahayu, IBI, dan semua pendamping yang bekerja bersama-sama,” katanya.

Ia menjelaskan, program tersebut juga menjadi bagian dari Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang terus diperkuat setelah adanya arahan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah agar seluruh daerah meningkatkan percepatan penanganan stunting.

Berdasarkan data yang dimiliki Pemkab Kudus, prevalensi stunting telah turun cukup signifikan, dari sekitar 13 persen menjadi 3,17 persen. Meski demikian, pemerintah daerah tidak ingin berpuas diri dan tetap menargetkan penurunan hingga mencapai nol kasus.

“Walaupun angkanya sudah turun, kita harus terus berupaya agar Kudus benar-benar bisa mencapai Zero Stunting,” tegasnya.

Endhah mengakui masih terdapat sejumlah wilayah yang menjadi perhatian karena angka stuntingnya relatif lebih tinggi dibanding daerah lain. Wilayah-wilayah tersebut akan diprioritaskan dalam program pendampingan agar penurunan kasus bisa berlangsung lebih merata.

Ia menambahkan, penyebab stunting tidak selalu dipicu kurangnya asupan makanan. Beberapa anak mengalami gangguan pertumbuhan akibat faktor kesehatan sejak lahir atau penyakit bawaan sehingga memerlukan penanganan yang lebih komprehensif.

“Stunting bukan hanya karena anak kurang makan. Ada juga yang dipengaruhi kondisi kesehatan atau penyakit bawaan. Karena itu penanganannya harus disesuaikan dengan penyebabnya,” jelasnya.

Dalam setiap pendampingan, tim tidak hanya melakukan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pola makan dan variasi menu bergizi. Apabila anak tidak menyukai susu, misalnya, susu dianjurkan dicampurkan ke dalam makanan agar kebutuhan gizinya tetap terpenuhi.

“Kami juga memberikan contoh variasi menu supaya anak tidak bosan. Yang penting kebutuhan gizinya tetap tercukupi, seperti telur, susu yang diolah ke makanan, dan menu bergizi lainnya,” pungkasnya. (AS/YM)