Tradisi Guyang Cekathak Digelar, Warga Colo Berdoa di Tengah Kemarau Panjang

oleh -231 Dilihat
Ribuan warga mengikuti tradisi Guyang Cekathak di Sendang Rejoso, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Jumat (4/9/2026), sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Di tengah kemarau panjang yang membuat wilayah Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, belum diguyur hujan selama sekitar tiga bulan, warga kembali menggelar tradisi Guyang Cekathak di Sendang Rejoso, Jumat (4/9/2026). Tradisi yang telah diwariskan selama ratusan tahun tersebut menjadi ikhtiar masyarakat untuk memanjatkan doa agar hujan segera turun.

Prosesi Guyang Cekathak dimulai dengan doa dan tahlil yang berlangsung di Tajug Makam Sunan Muria sekitar pukul 07.00 WIB. Dalam rangkaian tersebut, sebuah cekathak atau pelana kuda yang diyakini merupakan peninggalan Sunan Muria, Raden Umar Said, disiapkan untuk mengikuti prosesi.

Pelana kuda tersebut terlebih dahulu dibungkus menggunakan kain mori berwarna putih. Di hadapan tetua adat, sejumlah perlengkapan ritual turut disiapkan, sementara doa dan tahlil dipanjatkan sebagai bagian dari rangkaian tradisi.

Usai doa bersama, cekathak dan sejumlah ubarampe kemudian dibawa menuju Sendang Rejoso. Iring-iringan warga berjalan menuju lokasi dengan diiringi lantunan selawat terbang papat.

Sesampainya di sendang, ribuan warga telah memadati kawasan tersebut. Mereka berkumpul untuk menyaksikan prosesi utama berupa pembasuhan pelana kuda yang menjadi inti dari tradisi Guyang Cekathak.

Kain mori yang membungkus cekathak kemudian dilepas. Bunga yang sebelumnya diletakkan di atas pelana turut ditaburkan ke sumber mata air sebelum prosesi pembasuhan dilakukan.

Pelana kuda peninggalan Sunan Muria selanjutnya dibasuh menggunakan air Sendang Rejoso. Prosesi tersebut berlangsung secara perlahan dan menjadi bagian utama dari ritual yang telah dilakukan masyarakat secara turun-temurun.

Setelah dibasuh, cekathak kemudian ditempatkan di salah satu bagian sendang bersama berbagai ubarampe. Di antaranya nasi berkat, cendol, dawet Muria, bubur ketan, serta sesaji puceng.

Suasana ritual semakin ramai ketika warga mulai melemparkan cendol tawar yang dibuat dari tepung beras tanpa tambahan gula dan garam. Cendol yang beterbangan dan percikan air sendang disambut sorak-sorai warga yang hadir.

Pelemparan cendol tersebut menjadi simbol harapan masyarakat agar hujan segera turun. Air Sendang Rejoso juga dipercikkan ke berbagai penjuru lokasi sebagai bagian dari doa dan permohonan agar wilayah Kudus segera mendapatkan curahan hujan.

Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM), Mastur, menjelaskan bahwa Guyang Cekathak merupakan tradisi yang memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Colo.

Menurutnya, kata guyang memiliki arti membasuh, sedangkan cekathak merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut pelana kuda.

“Guyang itu memasuh, kalau cekathak artinya pelana kuda. Jadi sebenarnya ini tradisi membasuh pelana kuda Mbah Sunan,” ungkap Mastur.

Ia menuturkan, Sendang Rejoso dipilih sebagai tempat pelaksanaan ritual karena terdapat keyakinan masyarakat bahwa lokasi tersebut dahulu pernah digunakan Sunan Muria untuk berwudu dan membersihkan diri.

Keberadaan mata air yang masih mengalir meskipun kemarau berlangsung cukup panjang juga membuat Sendang Rejoso memiliki nilai tersendiri bagi masyarakat setempat.

Mastur mengatakan, pelaksanaan Guyang Cekathak bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengingat kembali perjuangan Sunan Muria sekaligus menjaga peninggalan tradisi yang diwariskan kepada masyarakat.

“Ini sebagai pengingat masyarakat agar terus melestarikan perjuangan Sunan Muria, salah satunya dengan merawat tradisi,” katanya.

Ia menambahkan, cendol tawar yang dilemparkan ke udara memiliki makna simbolis sebagai bentuk permohonan turunnya hujan. Selain itu, cendol tersebut dipercaya masyarakat memiliki nilai simbolis untuk membantu membersihkan kawasan sendang.

“Pernah selepas tradisi guyang cekathak, hari itu langsung turun hujan. Ini menjadi simbol ngalap berkah juga,” ujarnya.

Selain menjadi ikhtiar menghadapi kemarau, pelaksanaan Guyang Cekathak juga menjadi bagian dari upaya masyarakat Colo mempertahankan warisan budaya agar tetap dikenal dan dijalankan oleh generasi berikutnya.

Setelah prosesi ritual selesai, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan kepungan atau makan bersama. Warga menyantap hidangan dengan menggunakan daun jati sebagai alas yang dibentangkan di sepanjang jalan menuju kawasan Makam Sunan Muria.

Makan bersama tersebut sekaligus memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat Colo. Tradisi Guyang Cekathak sendiri secara rutin dilaksanakan setiap Jumat Wage pada bulan September.

Salah seorang warga, Hikmawati Inaya, yang sehari-hari menjadi guru dan usaha kopi muria, mengaku tidak pernah melewatkan pelaksanaan Guyang Cekathak. Ia berharap tradisi tersebut tetap dipertahankan setiap tahun.

Menurutnya, kondisi kemarau yang berlangsung sekitar tiga bulan membuat kebutuhan terhadap air semakin terasa bagi masyarakat.

“Sudah tiga bulan, karena ini tradisi jadi harus dilestarikan. Karena air sangat bermanfaat untuk kami, untuk memasak, menyiram tanaman dan bersih diri,” ujarnya.

Hikmawati berharap doa yang dipanjatkan bersama dalam tradisi tersebut dapat dikabulkan. Ia juga berharap hujan segera turun dengan membawa manfaat bagi masyarakat dan lingkungan di wilayah Kudus. (AS/YM)