Transaksi Uang Kayu Hingga Suasana Alas Jati, Pasar Sarwono Wonosoco Semakin Diminati

oleh -6463 Dilihat
Warga menikmati sajian kuliner tradisional Pasar Sarwono dengan suasana sejuk dan alami di bawah rindangnya alas jati Wonosoco. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Pasar Sarwono di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus kembali dipadati pengunjung, dimana pasar tersebut digelar setiap minggu legi dalam penanggalan jawa, dimulai pukul 07.00 WIB hingga 10.00 WIB. Pasar tradisional yang berada di bawah rindangnya alas jati ini menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung, mulai dari suasana alami hingga sistem transaksi unik menggunakan uang kayu.

Direktur BUMDes Wonorekso, Tri Budi Wahono mengatakan, Pasar Sarwono rutin digelar setiap Minggu Legi dan kini semakin dikenal sebagai destinasi wisata berbasis kearifan lokal.

Kami ingin menghidupkan kembali budaya pasar tradisional dengan sentuhan alami. Selain jual beli, pasar ini juga menjadi tempat rekreasi yang edukatif bagi masyarakat,” ujarnya kepada isknews.com, Minggu Legi (8/2/2026).

Untuk masuk ke area pasar, pengunjung cukup membayar tiket masuk Rp5.000. Seluruh transaksi di dalam pasar menggunakan koin khusus dari bambu atau yang dikenal sebagai uang kayu. Pengunjung dapat menukarkan uang di loket masuk dengan harga Rp2.000 per koin. Jika koin habis, transaksi tetap bisa menggunakan uang tunai, dan sisa koin dapat ditukarkan kembali sebelum pulang.

Beragam kuliner tradisional disajikan di lapak-lapak bernuansa alami, mulai dari sego jagung, sego pecel, sego begono, hingga minuman tradisional seperti wedhang coro, wedhang uwuh, es kuwut, dan kunir asem. Jajanan pasar seperti klepon, apem, sentiling, gethuk, grontol, dan godhokan juga menjadi incaran pengunjung.

Tak hanya berburu kuliner, pengunjung juga dapat menikmati hiburan live music, wahana outbound, serta offroad ATV dengan biaya Rp10 ribu. Selain itu, tersedia paket Walking Tour menjelajahi tiga goa dan kawasan desa dengan pemandu. Paket ini dibanderol Rp120 ribu untuk empat orang sudah termasuk makan. Sementara tanpa pemesanan, pengunjung dikenakan Rp50 ribu per orang tanpa fasilitas makan.

Walking tour ini berjalan jika minimal diikuti empat orang. Harapan kami, wisata ini mampu mengangkat potensi desa sekaligus meningkatkan perekonomian warga,” tambah Tri Budi.

Kepala Desa Wonosoco, Setiyo Budi mengungkapkan rasa syukur atas antusiasme masyarakat yang terus meramaikan Pasar Sarwono setiap 36 hari sekali.

Alhamdulillah, warga sangat antusias. Ke depan, BUMDes Wonorekso bersama Pasar Sarwono akan terus berbenah, mengembangkan konsep makanan jadul sekaligus inovasi pemanfaatan potensi alam,” katanya.

Menurutnya, jumlah pengunjung dari tahun ke tahun terus meningkat. Bahkan saat kunjungan Bupati Kudus beberapa waktu lalu, jumlah pengunjung tercatat mencapai 4.300 orang.

Keberadaan Pasar Sarwono, lanjutnya, memberikan dampak nyata bagi desa, baik dari sisi Pendapatan Asli Desa (PADes) maupun perputaran ekonomi warga, mulai dari pedagang, parkir, hingga pengelola wisata.

Namun demikian, pihak desa berharap ada dukungan pemerintah daerah untuk peningkatan infrastruktur jalan menuju lokasi pasar.

Akses jalan masih kurang lebar. Harapan kami ada penambahan bahu jalan agar arus pengunjung lebih lancar,” harapnya.

Salah satu pengunjung yang juga Kepala Desa Gulang, Aris Subkhan menilai Pasar Sarwono sebagai inovasi desa yang patut dicontoh.

Penataannya sudah sangat baik. Sistem uang kayu ini efisien, tradisional tapi modern dan transparan. Ini perlu ditiru desa lain,” ujarnya.

Ia juga menyarankan penataan parkir, pelayanan, dan keamanan agar kenyamanan pengunjung semakin terjamin.

Dengan konsep pasar tradisional di bawah alas jati dan transaksi unik uang kayu, Pasar Sarwono terus menunjukkan geliatnya sebagai destinasi wisata desa yang semakin diminati masyarakat.

Pengunjung lainnya asal Desa Jepangpakis Jati Kudus, Siti mengaku senang bisa berwisata disini, dimana ada beragam kuliner jadul dan suasana berbeda,

Nostalgia menikmati kuliner tempo dulu dengan suasana alas jati yang rindang bisa melepas penat dan ada sensasi tersendiri,” ungkapnya. (AS/YM)