Tujuh Anak Miskin dan Raksasa, Upaya Galeri Indonesia Kaya Lestarikan Budaya Minang

oleh -89 Dilihat
Pertunjukan Randai Tujuh Anak Miskin dan Raksasa-6. (Foto: ist.)

Nasional, isknews.com – Galeri Indonesia Kaya kembali menghadirkan pertunjukan panggung
bernuansa budaya daerah, kali ini melalui pementasan bertajuk Tujuh Anak Miskin dan
Raksasa, sebuah adaptasi dari cerita rakyat Minangkabau. Pertunjukan yang dibawakan oleh
Peqho Kids ini mengangkat seni randai, warisan kesenian khas Minangkabau yang
menggabungkan berbagai jenis seni termasuk drama, tari, musik, dan seni suara.

“Sebagai ruang publik budaya, Galeri Indonesia Kaya berupaya untuk terus memperkenalkan
dan melestarikan kekayaan seni dan budaya Indonesia, terutama yang belum banyak dikenal
masyarakat luas. Pementasan Tujuh Anak Miskin dan Raksasa oleh Peqho Kids ini adalah
kesempatan berharga untuk mengangkat seni randai dan cerita rakyat Minangkabau, sekaligus
menumbuhkan kecintaan pada budaya sejak usia dini. Kami percaya, pertunjukan semacam ini
sangat vital dalam proses edukasi dan pelestarian budaya, dan kami akan terus mendukung
inisiatif kreatif yang menjaga agar warisan seni tetap hidup dan relevan,” ujar Renitasari
Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.

Selama kurang lebih 60 menit, penonton diajak menyelami kisah penuh aksi dan pesan moral
yang diperankan oleh talenta-talenta muda usia 5 hingga 15 tahun. Dilatih langsung oleh
koreografer dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang dan diiringi langsung oleh musisi
asli Minang, pertunjukan ini menghadirkan nuansa tradisi yang dikemas secara segar melalui
pendekatan dance theater, memadukan gaya kontemporer dengan warisan tradisi. Adegan-
adegan seru, tegang, dan lucu ditampilkan dalam satu panggung yang penuh energi.

Sebagai bentuk seni pertunjukan khas Minangkabau, randai dikenal kaya akan filosofi dan nilai-
nilai kebersamaan. Membawakan seni ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain cilik,
terlebih karena sebagian besar dari mereka tidak berasal dari latar budaya Minang. Namun,
berkat latihan intensif dan semangat berkesenian, anak-anak Peqho Kids membuktikan bahwa
seni tradisi bisa tetap hidup melalui dukungan positif dari individu ataupun kelompok yang
percaya akan pentingnya pelestarian budaya sejak usia dini.

“Di Peqho Kids, kami percaya bahwa seni pertunjukan bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga
tentang warisan. Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar tampil, tetapi juga mengenal dan
mencintai kekayaan budaya bangsanya. Pertunjukan ini adalah salah satu upaya kami untuk
memperkenalkan dan mewariskan seni tradisi yang mulai jarang terdengar, seperti randai dari

Minangkabau, agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi masa kini,” ujar Mima Yusuf,
Pimpinan Produksi Peqho Kids.

Peqho Kids merupakan kelas pengembangan diri anak berbasis seni pertunjukan yang didirikan
oleh Peqho Teater sejak tahun 2016 yang memberikan pelatihan akting, vokal, dan tari, dengan
tujuan membentuk karakter anak secara holistik.

Melalui seni teater, anak-anak diasah untuk memiliki kepercayaan diri, empati, imajinasi, kerja sama, kreativitas, hingga kepemimpinan—berbagai soft skill penting yang kerap tidak didapatkan di pendidikan formal. Sejak 2017, Peqho Kids telah menghadirkan berbagai pertunjukan, termasuk diantaranya
perayaan Hari Anak Nasional di Kidzania (2017), Drama Musikal Ibu Pertiwi di Plaza Indonesia
(2023), serta pertunjukan sebelumnya di Galeri Indonesia Kaya pada 2024. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :