Warga Tanjungrejo Tak Lagi Menunggu, Jembatan Garuda yang Dinanti 20 Tahun Mulai Dibangun

oleh -768 Dilihat
Penampakan Jembatan Garuda yang melintasi Sungai Logung resmi dibangun. (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Penantian panjang warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, untuk memiliki akses yang lebih mudah menuju kawasan pertanian akhirnya memasuki babak baru. Setelah diperjuangkan selama lebih dari dua dekade, pembangunan Jembatan Garuda yang melintasi Sungai Logung resmi dimulai dan diharapkan menjadi penggerak baru bagi sektor pertanian serta perekonomian masyarakat.

Jembatan yang berada di Dukuh Kedungmojo, kawasan Tambakromo, itu akan menghubungkan permukiman warga dengan area pertanian yang selama ini sulit dijangkau. Kehadirannya diyakini mampu memangkas waktu tempuh sekaligus meningkatkan produktivitas lahan pertanian yang belum tergarap maksimal akibat keterbatasan akses.

Kepala Desa Tanjungrejo Cristian Rahadiyanto mengatakan, pembangunan jembatan merupakan jawaban atas aspirasi masyarakat yang telah disampaikan sejak puluhan tahun lalu. Berbagai kendala yang dihadapi selama ini membuat realisasi pembangunan baru dapat dilakukan pada tahun 2026.

“Ini adalah harapan masyarakat yang sudah diperjuangkan lebih dari 20 tahun. Alhamdulillah, tahun 2026 pembangunan Jembatan Garuda akhirnya bisa direalisasikan,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).

Cristian menjelaskan, jembatan tersebut diproyeksikan membuka akses menuju sekitar 100 hektare lahan pertanian yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal. Dengan akses yang lebih mudah, produktivitas pertanian diharapkan meningkat dan mendukung program ketahanan pangan.

“Kami berharap jembatan ini bisa membuka akses ke sekitar 100 hektare lahan pertanian sehingga lebih produktif dan mendukung program ketahanan pangan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai manfaat jembatan tidak hanya dirasakan sektor pertanian. Infrastruktur tersebut juga akan mendukung pengembangan kawasan permukiman baru serta memperkuat potensi Desa Wisata Cengkir Manis yang tengah dikembangkan pemerintah desa.

Sementara itu, Dandim 0722/Kudus Letkol Arh Yuusufa Allan Andriasie mengatakan pembangunan Jembatan Garuda menjadi bagian dari Program Jembatanisasi yang digagas Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Menurutnya, antusiasme masyarakat sangat tinggi karena jembatan tersebut telah lama dinantikan. Kehadirannya akan mempermudah mobilitas warga dalam menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.

“Masyarakat sangat senang sekali karena sudah 20 tahun mereka menanti jembatan tersebut. Sekarang pembangunan akhirnya bisa dimulai,” ujarnya.

Yuusufa menjelaskan, jembatan itu nantinya akan menjadi penghubung utama antara kampung warga dan area pertanian. Selain memudahkan distribusi hasil panen, akses tersebut juga dapat dimanfaatkan pelajar dan masyarakat umum untuk beraktivitas dengan lebih aman dan efisien.

“Jembatan ini menghubungkan kampung masyarakat dengan tempat mereka bertani. Nantinya bisa digunakan sebagai sarana transportasi masyarakat, anak-anak sekolah, maupun untuk mengangkut hasil pertanian sehingga lebih cepat, lebih produktif, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Jembatan Garuda dibangun dengan panjang 12 meter dan lebar 3,5 meter. Proses pembangunan ditargetkan rampung dalam waktu satu hingga dua bulan, menyesuaikan kondisi cuaca di lapangan.

“Pengerjaannya kami upayakan antara satu sampai dua bulan, tergantung cuaca. Tapi insyaallah kami berusaha semaksimal mungkin agar jembatan tersebut segera bisa digunakan masyarakat dan bermanfaat dalam jangka waktu yang lama untuk beberapa generasi ke depan,” katanya.

Selain menghasilkan infrastruktur fisik, pembangunan jembatan juga menjadi simbol kolaborasi antara TNI, pemerintah desa, dan masyarakat melalui semangat gotong royong yang terus dijaga selama proses pengerjaan.

Sebelum pembangunan dimulai, warga harus menempuh jalur memutar yang cukup jauh untuk mencapai lahan pertanian. Sebagian petani bahkan harus menyeberangi Sungai Logung dengan risiko keselamatan yang tidak kecil, terutama saat debit air meningkat.

“Sebelum ada jembatan, masyarakat harus berputar jauh. Ada juga yang harus menyeberangi sungai yang arusnya cukup deras sehingga berbahaya. Dengan adanya jembatan ini, perjalanan menjadi lebih singkat, aman, dan efisien,” pungkasnya. (YM/YM)