Kudus, isknews.com – Di tengah maraknya kemunculan aneka kuliner modern, Warung Semur Kutuk Lek Safa’ah di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, tetap mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu kuliner legendaris yang telah mewarnai perjalanan rasa masyarakat sejak era 1960-an. Berkat resep turun-temurun yang terus dijaga, warung sederhana ini masih menjadi tujuan para pecinta masakan tradisional.
Berlokasi di Jalan Raya Kudus–Pati KM 19, warung tersebut dikenal luas berkat menu andalannya berupa semur ikan kutuk atau ikan gabus. Meski telah berusia puluhan tahun dan menghadapi perubahan selera masyarakat, cita rasa khas yang ditawarkan masih mampu menarik pelanggan untuk datang kembali.
Pemilik warung, Safa’ah (68), menuturkan bahwa usaha tersebut merupakan warisan keluarga yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya sekitar tahun 1960-an. Ia melanjutkan usaha tersebut dengan tetap mempertahankan resep dan cara pengolahan yang diwariskan sejak dahulu.
“Warung ini sudah ada sejak tahun 60-an. Yang merintis generasi pertama. Waktu itu saya masih kecil, jadi tidak begitu tahu persis bagaimana awal mulanya,” ujarnya saat ditemui, Kamis (4/6/2026).
Menurut Safa’ah, selama puluhan tahun perjalanan usahanya, lokasi warung sempat berpindah beberapa kali. Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah menu semur kutuk yang menjadi identitas utama warung tersebut.
Keistimewaan semur kutuk racikan Lek Safa’ah terletak pada proses memasaknya. Sebelum dimasak dengan kuah semur berbumbu khas, ikan kutuk terlebih dahulu digoreng hingga matang sehingga menghasilkan tekstur dan cita rasa yang berbeda dibanding olahan semur pada umumnya.
“Ikan kutuknya digoreng dulu, baru dimasak semur. Dari dulu memang resepnya seperti itu,” katanya.
Dalam satu porsi, pelanggan akan mendapatkan nasi, ikan kutuk semur, tahu, tempe, serta segelas teh hangat. Menu tersebut dibanderol dengan harga Rp35 ribu per porsi.
“Nasi, ikan kutuk, tahu, tempe, dan teh harganya Rp35 ribu,” jelasnya.
Meski masih memiliki pelanggan setia, Safa’ah mengakui jumlah pengunjung saat ini tidak seramai masa kejayaannya dulu. Menurutnya, perubahan gaya hidup masyarakat dan semakin banyaknya pilihan kuliner baru turut memengaruhi jumlah pelanggan yang datang.
“Kalau sekarang memang tidak seramai dulu,” ungkapnya.
Warung Semur Kutuk Lek Safa’ah mulai melayani pembeli setiap sore sekitar pukul 15.30 WIB. Warung akan tetap buka hingga seluruh masakan habis terjual atau sekitar pukul 18.00 WIB.
Untuk menjaga kualitas rasa, Safa’ah hanya memasak sekitar dua kilogram ikan kutuk setiap harinya. Meski jumlahnya terbatas, ia tetap konsisten mempertahankan resep yang telah diwariskan lintas generasi.
Salah seorang pelanggan, Husein, warga Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, mengaku masih sering datang ke warung tersebut karena cita rasa semur kutuknya yang khas dan sulit ditemukan di tempat lain.
Menurutnya, perpaduan bumbu semur yang meresap hingga ke daging ikan menjadi daya tarik utama yang membuat kuliner tersebut tetap istimewa meski telah bertahan selama puluhan tahun.
“Rasanya khas dan sekarang sudah jarang ada yang jual seperti ini. Ikan kutuknya enak, bumbunya pas. Kalau sedang lewat atau ingin makan makanan tradisional, saya sering mampir ke sini,” tuturnya.
Keberadaan Warung Semur Kutuk Lek Safa’ah menjadi bukti bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Dengan mempertahankan resep warisan keluarga sejak era 1960-an, warung ini terus menjaga kekayaan kuliner khas Kudus agar tetap dikenal dan dinikmati oleh generasi berikutnya. (AS/YM)







