Ziarah Petilasan Kaliyetno, Momentum Sosialisasi Nilai Moderasi Beragama

oleh -1.046 kali dibaca

Mengenal tokoh lokal, KKN IK Ternadi 1 mengadakan ziarah bersama di makam Kaliyetno. Bertepat di paling utara desa Ternadi, jarak tempuh yang dilewati lumayan jauh sekitar 3 km dari posko. Sebelumnya, peserta berkumpul di posko yang berada di samping balai desa Ternadi. Tepat habis asar, tim bergegas ke makam untuk berziarah.

Dipimpin oleh ketua, Marom, (20) ziarah ini dimaksudkan untuk wasilah kepada waliyullah di desa setempat agar dimudahkan segala urusan khususnya dalam menjalankan program kerja KKN. Selain itu, diharapkan dapat menjadi teladan agar tidak lupa dengan kiprah sunan Kaliyetno.

“Maksud kami tidak lain adalah berdoa dengan wasilah kepada kekasih Allah supaya lancar acaranya,” ungkap Marom, Sabtu (25/9/2021).

Sesampai di petilasan sunan kaliyetno, kata Marom, pemandangan alam seraya membuat takjub. Menyisir lebih jauh, lokasi makam yang berada di perbatasan utara desa ternadi dengan perhutani, menjadikan suasana lebih sejuk dan tentram. Pohon yang rindah, suara jangkrik bersahutan mengiring pada kehangatan akan alam Ternadi.

Bersama dengan warga di samping petilasan, perbincangan untuk membangun keakraban dengan masyarakat sekitar ditepati. Sekadar membeli air mineral sebagai teman bincang yang mengarah pada membangun nilai persaudaraan. Dikenal sebagai penjual di wisata religi petilasan kaliyetno.

Bercerita soal dirinya dalam menjalani kehidupan sampai masih bertahan menjajakan dagangan meskipun sepinya pelanggan dituturkan. Namun, ada yang menarik dari kisahnya, ia masih tetap berdagang sebab ingin mendapat keberkahan. Di zaman serba teknologi dan logika, ternyata masih ada orang yang menanggalkan keberkahan dalam mengarungi kehidupannya. Sungguh hal itu memberikan citra yang positif.

“Membangun citra yang baik dan berkah dalam kehidupan adalah hal penting di hidup ini, karena tidak selamanya segala sesuatu bisa dihitung dengan materi,” tegas Marom

Dijadikan suatu bangunan yang dipercayai oleh masyarakat sebagai tempat singgah sunan kalijaga merupakan wujud kecintaan. Hal itu, lanjut Marom, diyakini dapat menjadi perantara akan kabulnya suatu doa karena pernah disinggahi kekasih Allah. Ajaran ini menerapkan nilai dari moderasi beragama tawazun.

Memperkenalkan nilai moderasi bagi masyarakat desa merupakan tantangan yang tidak bisa ditawar lagi. Konsepsi yang dibangun adalah ala kadarnya. Minat untuk maju masih menjadi halangan, sebab asal bisa makan, salat, dan mengaji itu lebih dari cukup dari apa yang diharapkan.

Maka dari itu, menjadikan suatu tindakan sebagai dakwah bil hal adalah yang paling tepat untuk ditujukan kepada masyarakat desa khususnya Ternadi. Perbincangan biasa dapat mengesankan karena mengandung nilai yang akan disampaikan. Konteks nilai yang dimaksud adalah nilai moderasi. Sekadar melakukan ziarah dan membangun komunikasi sebagai sarana dakwah merupakan ajaran moderasi. Manusia harus tetap berusaha dan berpasrah diri dengan berdoa dan wasilah. Wasilah yang dimaksud dapat melalui aktivitas ziarah ke makam waliyullah atau bahkan petilasannya.

Pada dasarnya, ziarah adalah anjuran syari’at islam untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, ziarah juga memperkenalkan nilai moderasi beragama yakni tawazun. Seorang manusia, perlu berusaha dalam menggapai tujuan, tetapi juga berpasrah diri melalui doa dan wasilah. Senada engan ziarah yang mengandung doa dengan wasilah kepada waliyullah.

“Sangat penting menjaga nilai moderasi beragama agar terjadi keseimbangan yang baik antara usaha dan doa.”

Maka, sebagai manusia tidak ada kata menyerah dalam berusaha, karena hasil atau tidak bukan orang yang memutuskan, akan tetapi Allah SWT. Menerapkan ajarannya dan menjauhi larangannya serta meninggalkan adalah urgensi dalam menjalankan moderasi agar terciptanya masyarakat guyup rukun. (Marom/AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :