Masyarakat Loram tetap Lestarikan Tradisi Nganten Mubeng Gapura Masjid Wali

image

Kudus, Isknews.com – Tradisi nganten mubeng ini dilakukan oleh semua warga masyarakat Desa Loram yang beragama Islam dan sudah sah menjadi pasangan suami isteri tanpa membedakan mata pencaharian masyarakat. dalam tradisi nganten mubeng pada dasarnya untuk memperoleh keselamatan dan berkah dari Allah SWT. Kepercayaan masyarakat Desa Loram tentang tradisi nganten mubeng di Masjid At-Taqwa bukan merupakan kesyirikan, akan tetapi suatu kepercayaan masyarakat berdasarkan syariat Islam sehingga masyarakat masih melestarikannya.

Meskipun tradisi nganten mubeng sudah menjadi aset wisata daerah, tradisi ini juga harus tetap dilestarikan sampai kapanpun agar tradisi itu dapat selalu menjadi aset wisata sehingga dapat mensejahterakan masyarakat setempat.

image

Salah seorangnya pengurus Masjid Wali At taqwa Loram wetan, saat di temui Isknews.com di sela sela menemui Pasangan pengantin hari ini Sabtu, 16/7/16 mengatakan bahwa tata cara penganten mubeng adalah sebagai berikut, Saat rombongan penganten datang di depan gapura turun dari kendaraan kalau dulu dari tradisi naik andong, namun saat ini menggunakan mobil, Pasanga Pengantin Jalan ke barat menuju pintu gapura yang selatan di depan pintu yang sebelah selatan diarahkan untuk memasukkan uang ke dalam kas. Saat memasukkan uang ke dalam kas adalah diantara penganten laki-laki atau perenpuan supaya sama-sama punya niat untuk amal jariyyah.

Baca Juga :  Kirab Visualisasi Dhandhangan Digelar Besok, Ini Rutenya...

Setelah memasukkan uang kemudian masuk ke masjid mengisi buku tamu untuk laporan pengunjung ke dinas kementrian pendidikan, kebudayaan dan pariwisata. Keudian biasanya foto di belakang pintu gapura kemudian keluar pintu gapura utara menuju ke depan pintu gapura. Untuk pasangan pengantin dan keluarga untuk sejenak menghadap ke pintu gapura. Lalu diberi nasihat :

1.Niat nikah adalah untuk ibadah supaya menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah

2.Mubengi gapuranya cukup satu kali saja, namun kalau ingin 7 kali silahkan

3.Membaca doa bersama.

Pengantin setelah selesai mubeng/kirab gapura, pengantin diberi minum air putih yang sudah di doakan. Dan yang memberi minum harus keluarganya yang masih punya suami atau istri tidak boleh yang sudah duda atau janda. Karena khawatir nanti akan menular pada pengantinnya.

Baca Juga :  MARI DORONG KEBUDAYAAN KUDUS MENUJU KUDUS BERBUDAYA
image

Nilai-nilai pendidikan Islam juga bisa di ambil di sini, diantaranya adalah

1.Supaya tidak ada fitnah. Pengantin yang melaksanakan adat mubeng/kirab gapura banyak warga sekitar yang melihat, jadi masyarakat tahu bahwa pasangan pengantin itu sudah sah menjadi suami istri.

2.Banyak doa dari masyarakat sekitar. Banyak warga sekitar yang mendoakan pasangan pengantin agar menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah

3.Niat atau mengajarkan amal jariyah. Saat memasukka uang ke dalam kas masjid.

Dengan Tradisi nganten mubeng memiliki makna filosofi tersendiri, diantara nya  pertama mendorong masyarakat untuk membentuk keterikatan dengan masjid sebagai tempat beribadah. Kedua, untuk mengingatkan kedua mempelai akan pentingnya masjid sebagai tempat beribadah umat Islam. Ketiga, untuk memperkenalkan keluarga baru bahwa tempat ibadah umat Islam adalah masjid. Keempat, untuk mendapatkan restu serta doa dari masyarakat agar rumah tangga mempelai dapat langgeng bisa sakinah, mawaddah dan warohmah. Kelima, untuk memperoleh berkah dan keselamatan melalui pelaksanaan tradisi. Masyarakat berusaha menghindar dari kesialan dengan cara menjalani tradisi nganten mubeng. 

Baca Juga :  Bupati," Ke depan Festival Ampyang Harus diikuti seluruh desa di kecamatan Jati "
image

Tradisi ini sudah dilakukan sangat lama sekali sejak agama Islam masuk ke Desa Loram Kulon sampai sekarang, sehingga setiap warga desa Loram yang berdomisili di tempat maupun yang berada diluar desa ketika akan menjadi pengantin, mereka harus melakukan ritual mubeng gapura Masjid Wali diiringi oleh kerabat dan keluarga. dengan memperoleh berkah.(Jivan)

APA KOMENTAR SEDULUR ISK ?