Kudus, isknews.com – Berawal dari keinginan untuk berhenti bekerja karena alasan kesehatan dan perawatan, Nunung Noor Khamimah (48), warga Jati Kulon RT 1 RW 5, Kabupaten Kudus, kini justru menemukan jalan hidup baru melalui dunia kerajinan ecoprint.
Lulusan dari bidang kesehatan dan pendidikan ini mantap menekuni ecoprint sejak tahun 2021, setelah merasa cocok saat diajak teman mengikuti pelatihan daring saat masa pandemi.
“Awalnya berat, tapi karena terus diajak teman, akhirnya saya ikut workshop ecoprint online,” ujarnya saat diwawancarai pada Rabu (14/5/2025).
Setelah pelatihan online tersebut, ia mulai percaya diri untuk mengadakan pelatihan sendiri. Peserta pertamanya adalah guru-guru dari SMK Karangawen dan SLB Jepara. Ia juga tergabung dalam komunitas yang rutin mengadakan pelatihan setiap Ahad dari pagi hingga siang.
Proses membatik dengan teknik ecoprint bukan tanpa tantangan. Karya pertamanya sempat gagal karena warna cepat pudar. Ia baru menyadari bahwa setiap mentor punya resep teknik yang berbeda.
“Untuk membuat ecoprint itu harus punya mood booster. Kalau nggak, hasilnya jadi kurang maksimal,” ungkapnya.
Kini, hasil karyanya sudah merambah ke berbagai produk, mulai dari gamis, rok, kardigan, sepatu, tas, dompet, hingga sajadah. Harga produknya bervariasi, mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 2 juta, tergantung jenis kain dan tingkat kesulitan motif.
Bahan kain yang digunakan antara lain katun premis, rayon twill, sutra, hingga tenun ATBM (alat tenun bukan mesin). Sedangkan tumbuhan yang dimanfaatkan untuk pewarna dan motif meliputi acalipa, jati, pakis, jarak wulung, bunga sepatu, anggur, kemikir, dan lainnya. Pewarna alami yang digunakan antara lain dari kayu ulin Kalimantan, secang, tingi, ketapang, hingga pewarna khusus yang ia pesan dari Solo.
Proses pembuatan kain ecoprint sendiri cukup panjang. Untuk panjang kain dua meter, proses eco ponding (dengan teknik pukul) memakan waktu sekitar dua jam, sementara proses eco steaming (pengukusan) bisa memakan waktu tiga jam.
Sejak aktif di dunia ecoprint, Nunung sudah empat kali mengikuti ajang internasional, salah satunya di ajang TMII yang diikuti peserta dari sejumlah negara. Ia juga pernah tampil di berbagai pagelaran fesyen seperti di Jakarta, Jogja, hingga Kudus.
“Produk saya belum diekspor secara resmi, tapi sudah ada yang membawa ke luar negeri, seperti syal dan kardigan ke Australia dan Thailand, lewat teman-teman,” imbuhnya.
Meski sudah cukup dikenal secara nasional, Nunung mengaku masih ragu memasarkan produknya melalui platform digital. Namun, ia tetap optimistis, terutama karena kain ecoprint miliknya sangat diminati, terutama saat musim pernikahan.
“Alhamdulillah, pesanan kain selalu ramai dari berbagai daerah di Indonesia,” pungkasnya. (AS/YM)






