Kudus, isknews.com – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus resmi meluncurkan program Sekolah Plus Ngaji di Kantor Pusat Belajar Guru (PBG) Kudus pada Kamis, 19 Juni 2025. Program ini akan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2025/2026 dan menyasar seluruh SD negeri se-Kabupaten Kudus yang berjumlah sekitar 390 sekolah.
Peluncuran program ini sekaligus menjadi langkah awal penguatan pendidikan karakter berbasis keagamaan di lingkungan sekolah dasar.
Kepala Disdikpora Kudus, Harjuna Widada, menyampaikan bahwa Sekolah Plus Ngaji bertujuan untuk membentuk pribadi siswa yang berilmu, bertakwa, dan berkarakter kuat.
“Dengan membiasakan anak untuk membaca Al-Qur’an, Juz Amma, Asmaul Husna, tahlil, dan salat Zuhur berjamaah di sekolah, kami ingin menanamkan nilai-nilai religiusitas sejak dini,” ujarnya.
Pada tahap awal, terdapat tiga sekolah yang menjadi pilot project, yakni SDN 2 Mlati Kidul (Kecamatan Kota), SDN 4 Bulungcangkring (Kecamatan Jekulo), dan SDN 1 Ngembal Kulon (Kecamatan Jati). Ketiga sekolah ini telah mempraktikkan pembiasaan mengaji dan ibadah secara rutin dalam aktivitas sehari-hari di sekolah.
“Sekolah dapat mengembangkan pelaksanaan program sesuai kreativitas masing-masing. Yang penting, nilai-nilai religius tetap menjadi inti dari pembiasaan,” tambah Harjuna.
Ia juga menekankan bahwa program ini tidak memerlukan tenaga pengajar tambahan, melainkan dilaksanakan secara kolaboratif oleh guru agama dan guru kelas yang ada.
Selain untuk memperkuat pendidikan akhlak, Harjuna menegaskan bahwa Sekolah Plus Ngaji menjadi solusi atas berbagai tantangan dunia pendidikan saat ini, seperti meningkatnya kasus perundungan dan menurunnya rasa hormat siswa terhadap guru. Program ini diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat dalam menyekolahkan anak-anaknya ke SD negeri.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho, menyatakan bahwa program ini selaras dengan visi-misi Bupati dan Wakil Bupati Kudus dalam hal ini melalui Pendidikan Berkarakter dan Kearifan Budaya.
“Kami berharap seluruh kepala sekolah dan guru bisa mengimplementasikan program ini mulai tahun ajaran baru. Hari ini sudah kami praktekkan langsung kegiatan seperti hafalan, salat berjamaah, dan pembiasaan ibadah lainnya,” terang Anggun.
Ia juga menyebutkan bahwa pelaksanaan Sekolah Plus Ngaji bersifat fleksibel, terutama dalam hal hafalan dan penguatan ibadah. Khusus siswa kelas 5 dan 6, mereka akan dibiasakan untuk salat Zuhur berjamaah sebelum pulang sekolah, mengingat jam kepulangan mereka yang lebih siang.
Dengan pendampingan berkelanjutan dari Disdikpora, program ini diharapkan menjadi inovasi unggulan pendidikan dasar di Kudus dan mampu menghasilkan generasi pelajar yang cerdas secara intelektual dan spiritual. (AS/YM)







