Krisis Air Bersih Meluas, 2.096 Warga Kudus Terdampak Kekeringan

oleh -580 Dilihat
BPBD Kabupaten Kudus bersama sejumlah pihak mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di sejumlah wilayah, Selasa (18/8/2026). Foto: istimewa

KUDUS, ISKNEWS.COM – Krisis air bersih di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terus meluas. Hingga Selasa (18/8/2026), sebanyak 2.096 jiwa dari 727 kepala keluarga (KK) di tiga desa yang tersebar di tiga kecamatan terdampak kekeringan dan membutuhkan pasokan air bersih.

Tiga desa yang mengalami kondisi tersebut yakni Desa Glagahwaru di Kecamatan Undaan, Desa Colo di Kecamatan Dawe, serta Desa Setrokalangan di Kecamatan Kaliwungu. Setrokalangan menjadi wilayah terakhir yang dilaporkan mengalami dampak kekeringan pada pertengahan Agustus ini.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus Eko Hari Djatmiko melalui Kasi Kedaruratan Ahmad Munaji mengatakan, kekeringan di Desa Setrokalangan mulai tercatat pada 18 Agustus 2026. Sebanyak 81 KK atau 268 jiwa di wilayah tersebut terdampak.

“Untuk Desa Setrokalangan ini mulai terdampak pada 18 Agustus 2026. Ada 81 KK atau 268 jiwa yang terdampak,” kata Munaji.

Ia menjelaskan, berkurangnya ketersediaan air dipengaruhi fenomena super El Nino yang membuat sejumlah sumber air mengalami penurunan debit. Selain itu, sumur pompa Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) belum menjangkau kawasan permukiman warga yang berada di lokasi paling jauh.

“Debit sumber air mulai berkurang. Sumur pompa Pamsimas juga belum menjangkau titik permukiman warga yang paling jauh,” ujarnya.

Menurut Munaji, penanganan kekeringan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya mengandalkan distribusi air menggunakan tangki. Koordinasi dengan organisasi perangkat daerah terkait diperlukan untuk menambah ataupun meningkatkan kapasitas sumur pompa Pamsimas.

Langkah tersebut dinilai penting agar ketersediaan air bagi masyarakat dapat lebih terjamin sekaligus memperkuat upaya mitigasi ketika kekeringan kembali terjadi di wilayah tersebut.

Dari tiga desa yang terdampak, Glagahwaru menjadi wilayah dengan jumlah warga paling banyak mengalami krisis air. Tercatat 596 KK atau 1.678 jiwa terdampak di desa tersebut. Sementara Desa Colo mencatat 50 KK atau 150 jiwa yang mengalami kondisi serupa.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, distribusi air bersih terus dilakukan oleh BPBD bersama sejumlah pihak. Dalam periode 15 Juli hingga 18 Agustus 2026, total air yang telah disalurkan ke tiga desa tersebut mencapai 463.000 liter.

Dari jumlah itu, Desa Glagahwaru menerima 435.000 liter, Desa Colo sebanyak 18.000 liter, sedangkan Desa Setrokalangan memperoleh 10.000 liter. Penyaluran dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi di masing-masing lokasi terdampak.

Pada Selasa (18/8/2026), bantuan air kembali dikirim ke sejumlah wilayah. BPBD menyalurkan 10.000 liter untuk Desa Setrokalangan, sementara Desa Glagahwaru mendapat 10.000 liter dari BBWS Pemali Juana dan 5.000 liter dari Satpol PP Kabupaten Kudus.

Adapun Desa Colo memperoleh tambahan 5.000 liter air bersih dari PT Sukun. Bantuan dari berbagai pihak tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga sembari menunggu ketersediaan sumber air kembali membaik. (AS/YM)