JiMart Hadir di Kudus, Bawa Semangat Gusjigang dan Pemberdayaan Ekonomi Umat

oleh -1060 Dilihat
CEO JiMart Hj Farida Ulyani bersama Pembina YAPQI Dr. H. Nur Said dan jajaran berfoto bersama usai grand opening JiMart di depan kampus UIN Sunan Kudus, Senin (31/8/2026). (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Minimarket Jalan Rahmat atau JiMart resmi hadir di Kabupaten Kudus dengan mengusung semangat Gusjigang sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi umat. Berlokasi tepat di depan kampus UIN Sunan Kudus, keberadaan JiMart dinilai sangat strategis karena berada di kawasan yang ramai aktivitas mahasiswa, santri dan masyarakat.

Grand opening JiMart digelar pada Senin (31/8/2026). Berbagai promo khusus disiapkan untuk menyambut pelanggan, mulai dari harga spesial kebutuhan pokok hingga hadiah menarik.

CEO JiMart, Hj Farida Ulyani, M.Pd., mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah promo selama masa grand opening. Promo tersebut antara lain berlaku untuk sembako, mi instan serta berbagai makanan ringan.

“Alhamdulillah hari ini JiMart sudah grand opening. Ada beberapa promo untuk pelanggan, mulai dari sembako dengan harga spesial, mi instan, hingga jajanan yang sudah kami siapkan promo khusus,” kata Farida saat diwawancarai, Senin (31/8/2026).

Promo grand opening tersebut berlaku selama sepekan sejak grang opening. Namun, masa promo masih dapat diperpanjang apabila stok produk dan hadiah yang disediakan masih tersedia.

Selain harga spesial, JiMart juga memberikan hadiah kepada pelanggan yang melakukan pembelian minimal Rp100 ribu. Hadiah tersebut berupa perlengkapan rumah tangga, seperti piring dan gelas.

Khusus saat grand opening, JiMart juga memberikan es krim gratis bagi 100 pembeli pertama.

Farida menjelaskan, lokasi JiMart yang berada tepat di depan kampus UIN Sunan Kudus menjadi salah satu keunggulan karena sangat strategis. Letaknya juga berdekatan dengan lingkungan pesantren sehingga dapat menjangkau kebutuhan mahasiswa, santri maupun masyarakat sekitar.

“Lokasinya memang sangat strategis karena berada di depan kampus UIN Sunan Kudus dan juga dekat dengan area pesantren. Jadi kami menyediakan kebutuhan-kebutuhan mahasiswa, santri dan masyarakat sekitar,” jelasnya.

Berbagai kebutuhan sehari-hari tersedia di JiMart. Mulai dari sembako, alat tulis kantor (ATK), perlengkapan mandi, mi instan, makanan ringan hingga kebutuhan lainnya yang lazim tersedia di minimarket.

JiMart beroperasi setiap hari, mulai Senin hingga Minggu. Jam pelayanan dibuka pukul 07.00 WIB hingga 22.00 WIB.

Farida mengatakan, kehadiran JiMart tidak semata-mata berorientasi pada bisnis. Pihaknya ingin menjadikan usaha tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat perekonomian umat sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa dan santri untuk belajar berwirausaha.

“Tujuan kami bagaimana usaha yang dibangun ini bisa memperkuat ekonomi umat, sehingga umat Islam menjadi umat yang kokoh dan mandiri. Mahasiswa dan santri juga bisa mendapatkan sarana untuk meningkatkan jiwa entrepreneur,” ungkapnya.

Menurutnya, semangat tersebut diharapkan dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang-orang di sekitarnya.

Sementara itu, Pembina Yayasan Prisma Quranuna Indonesia (YAPQI), Dr. H. Nur Said, S.Ag., M.A., M.Ag., mengatakan JiMart merupakan bagian dari upaya mengimplementasikan semangat Gusjigang yang menjadi salah satu nilai penting dalam kehidupan masyarakat Kudus.

Nur Said menjelaskan, nama JiMart berasal dari Gusjigang Mart yang kemudian disingkat menjadi JiMart. Nama tersebut sekaligus dikaitkan dengan Minimarket Jalan Rahmat.

Menurutnya, konsep JiMart membawa tiga nilai Gusjigang, yakni bagus laku, pinter ngaji dan wasis dagang. Ketiganya diharapkan dapat berjalan beriringan dalam kehidupan santri.

“Alhamdulillah hari ini kita baru saja melakukan grand opening secara resmi Minimarket JiMart Jalan Rahmat. Ini bagian dari kristalisasi semangat Gusjigang, yaitu bagus laku, pinter ngaji dan wasis dagang,” kata Nur Said.

Ia mengatakan, unsur bagus laku berkaitan dengan pembentukan karakter dan perilaku santri. Sementara ngaji tidak hanya dimaknai sebagai pendalaman ilmu agama atau tafaquh fiddin, tetapi juga belajar berbagai ilmu yang memberikan kemaslahatan bagi umat.

Sedangkan unsur wasis dagang diwujudkan melalui semangat kewirausahaan. JiMart diharapkan dapat menjadi ruang bagi santri untuk belajar mengelola usaha dan membangun kemandirian ekonomi.

Konsep tersebut juga didukung dengan lingkungan JiMart yang terintegrasi dengan pesantren. Bangunan JiMart terdiri dari tiga lantai, dengan lantai pertama digunakan sebagai minimarket, sedangkan lantai atas menjadi bagian dari aktivitas santri.

Di sekitar lokasi juga terdapat asrama santri serta usaha kuliner Wakul Mas. Jarak berbagai fasilitas tersebut berdekatan sehingga aktivitas pendidikan, pesantren dan kewirausahaan dapat berjalan secara terintegrasi.

“Ini bukan hanya slogan, tetapi sudah menjadi ruang kebudayaan untuk bagus laku, pinter ngaji dan wasis dagang,” ujarnya.

Nur Said menambahkan, JiMart di Kudus merupakan langkah awal untuk membangun jaringan minimarket berbasis pesantren. Ke depan, jaringan tersebut diharapkan dapat dikembangkan oleh pesantren, santri, alumni maupun pihak lain yang memiliki perhatian terhadap penguatan ekonomi umat.

“Kalau ingin menuju seribu titik bahkan sejuta titik, harus dimulai dari satu titik. JiMart ini kami harapkan menjadi langkah awal untuk menuju JiMart-JiMart yang lain,” katanya.

Ia berharap JiMart nantinya dapat berkembang ke berbagai kota dan provinsi di Indonesia. Dengan demikian, JiMart dapat menjadi model minimarket khas santri yang tidak hanya menjalankan aktivitas perdagangan, tetapi juga membawa misi pendidikan dan pemberdayaan ekonomi umat.

“Ini bagian dari ikhtiar gerakan ekonomi umat berbasis pesantren. Kita mulai dari Kudus untuk Indonesia. Insyaallah JiMart akan menjadi model minimarket khas santri untuk Nusantara,” pungkasnya. (AS/YM)