Ratusan Penari Siap Catatkan Tari Lajur Caping Kalo dalam Rekor MURI

oleh -64 Dilihat
Sebanyak 675 penari mengikuti latihan pemantapan Tari Lajur Caping Kalo di halaman Pendapa Kudus, Jumat (25/9/2026). Para penari dari berbagai kalangan tersebut bersiap tampil secara kolosal untuk mencatatkan Tari Lajur Caping Kalo dalam Rekor MURI sekaligus memeriahkan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Kudus. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Semangat melestarikan budaya lokal diwujudkan Kabupaten Kudus melalui pementasan kolosal Tari Lajur Caping Kalo yang melibatkan 675 penari. Mereka akan tampil bersama untuk mengupayakan pencatatan tarian khas Kudus tersebut dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Sabtu (26/9/2026).

Pertunjukan massal itu akan digelar di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus mulai pukul 07.00 WIB. Kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam memeriahkan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Kudus.

Tidak hanya melibatkan penari dari kalangan pelajar, pementasan ini juga diikuti peserta umum, penyandang disabilitas, sanggar tari, hingga sejumlah perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD). Mereka dipersiapkan untuk menampilkan rangkaian gerakan secara bersama-sama dalam satu pertunjukan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus Abdul Halil menyampaikan bahwa Tari Lajur Caping Kalo sengaja diangkat dalam agenda besar Hari Jadi Kudus tahun ini. Pementasan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mengenalkan kekayaan seni tradisional daerah.

Menurut Halil, rencana pencatatan Tari Lajur Caping Kalo dalam rekor MURI meneruskan capaian Kudus pada tahun sebelumnya. Saat itu, Kabupaten Kudus berhasil mencatatkan Tari Kretek dalam rekor MURI.

“Pesertanya terdiri dari kalangan pelajar, umum, serta para pegawai yang sebelumnya telah mengikuti perlombaan,” jelas Halil.

Untuk memastikan pertunjukan berjalan kompak, para peserta telah mengikuti latihan secara bertahap. Tahap persiapan kemudian dilanjutkan dengan latihan pemantapan agar seluruh penari memiliki kesamaan gerakan ketika tampil di hadapan masyarakat.

Halil menyebut target pencatatan rekor bukan menjadi satu-satunya tujuan kegiatan tersebut. Menurutnya, pementasan ini juga dimaksudkan sebagai media untuk mengenalkan budaya Kudus kepada generasi penerus sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap keberadaan tradisi daerah.

Salah satu unsur budaya yang diangkat dalam tarian tersebut adalah Caping Kalo. Penutup kepala tradisional khas Kudus itu memiliki nilai filosofis dan menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat setempat.

Di sisi lain, keberadaan perajin Caping Kalo di Kudus kini semakin terbatas. Kondisi tersebut menjadi perhatian sehingga pelestarian melalui berbagai kegiatan budaya dinilai perlu terus dilakukan.

“Ini dalam rangka menjaga warisan leluhur agar Caping Kalo tidak punah,” kata Halil.

Setelah pementasan Tari Lajur Caping Kalo, masyarakat juga akan disuguhi panggung hiburan rakyat sebagai penutup rangkaian perayaan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Kudus. Sejumlah pengisi acara telah disiapkan, di antaranya Charly van Houten dan Guyon Waton.

Halil berharap seluruh agenda puncak Hari Jadi Kudus dapat terlaksana dengan tertib dan memberikan ruang hiburan bagi masyarakat. Koordinasi lintas instansi juga dilakukan untuk mendukung kelancaran kegiatan.

Pengamanan acara melibatkan Polres Kudus, Dinas Perhubungan, dan Satpol PP. Selain menjaga keamanan, petugas juga menyiapkan rekayasa arus lalu lintas untuk mengantisipasi meningkatnya aktivitas masyarakat di sekitar lokasi.

Salah satu peserta, Sherli Jesinata (26), warga Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo, mengungkapkan rasa bangganya karena mendapat kesempatan tampil dalam pementasan tersebut. Ia menilai keterlibatan ratusan penari menjadi pengalaman tersendiri bagi para peserta.

Persiapan telah dilakukan Sherli bersama peserta lainnya sejak beberapa waktu lalu. Selain berlatih secara rutin, ia juga memanfaatkan rekaman video sebagai bahan untuk mengulang dan memperkuat hafalan gerakan.

“Tentu senang dan bangga sebagai warga Kudus. Dari sini saya melihat banyak potensi penari yang hebat-hebat,” tutur Sherli.

Ia menambahkan, persiapan untuk pementasan tersebut membuat dirinya semakin memahami Tari Lajur Caping Kalo. Baginya, tarian yang mengangkat unsur tradisi Kudus tersebut mempunyai gerakan yang menarik sekaligus menjadi sarana mengenal budaya daerah.

“Saya bangga sekali bisa ikut festival ini dan lebih mengenal Tari Caping. Kalau dipelajari lebih dalam, tarian ini sangat menarik dan meriah,” pungkasnya.