Kudus, isknews.com – Ratusan santri dan alumni pesantren yang menamakan dirinya Aliansi Santri Kudus Bersatu #BoikotTrans7, menggelar aksi damai dan istigasah bersama sebagai bentuk kekecewaan terhadap tayangan program televisi yang dinilai menyudutkan dunia pesantren, khususnya Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri.
Aksi yang awalnya merupakan unjuk rasa damai Ihtijaj di luar area pendopo akhirnya diakhiri dengan kegiatan istigasah dan doa bersama yang digelar di halaman rumput Pendopo Kabupaten Kudus. Kegiatan tersebut berlangsung dengan tertib dan khidmat, diikuti oleh para santri, alumni, serta sejumlah organisasi banom Nahdlatul Ulama (NU) seperti Pagar Nusa, GP Ansor, Banser, dan PMII.
Ketua Umum Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Cabang Kudus, Gus Saefudin, mengatakan aksi ini digelar sebagai bentuk keprihatinan dan tanggapan atas tayangan yang dianggap mencederai kehormatan pesantren dan para kiai.
“Kami merasa terpanggil untuk menyikapi hal-hal yang sangat menyudutkan kiai dan pesantren. Ini bukan hanya di Kudus, tapi juga serentak hampir di seluruh wilayah,” katanya.
Ia menambahkan, aksi serupa juga akan digelar di sejumlah daerah lain, termasuk di Semarang, yang rencananya akan diikuti oleh perwakilan alumni pesantren se-Jawa Tengah.
“Besok insyaallah saya juga akan berangkat ke Semarang untuk melaksanakan aksi yang sama di depan KPI bersama alumni pesantren se-Jawa Tengah,” ujarnya.
Menurutnya, hal utama yang disorot adalah perlunya penghargaan terhadap peran pesantren dan para kiai dalam membangun karakter bangsa.
“Tayangan kemarin itu jelas sangat menghinakan, sangat merendahkan peran dari para kiai dan dunia pesantren khususnya,” ucapnya.
Dalam aksi tersebut, Aliansi Santri Kudus Bersatu membacakan pernyataan sikap resmi yang berisi kecaman terhadap tayangan yang dianggap telah melukai perasaan santri di seluruh Indonesia.
Dalam pernyataannya disebutkan, pesantren merupakan benteng moral, pusat ilmu, dan penjaga nilai-nilai keislaman serta kebangsaan. Oleh karena itu, setiap bentuk penyajian media yang menampilkan pesantren secara tidak pantas, menyudutkan, atau merendahkan peran santri merupakan tindakan yang tidak etis, tidak edukatif, dan mencederai semangat kebhinnekaan.
Aliansi Santri Kudus Bersatu juga menyatakan secara tegas menolak tayangan program yang dinilai tidak etis dan tidak mencerminkan nilai pendidikan pesantren. Mereka mendesak agar pihak terkait segera menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan bersilaturahmi langsung kepada pimpinan pesantren yang disebut dalam tayangan tersebut.
Terkait permintaan maaf yang telah disampaikan secara internal oleh pihak terkait, Gus Saefudin mengaku telah menerima informasi tersebut dari jaringan alumni di wilayah Jabodetabek.
“Teman-teman kami yang ada di Jabodetabek sejak tadi malam dan pagi hari sudah bertemu dengan pihak media. Mereka sudah menyampaikan permintaan maaf baik secara tertulis maupun terekam, tapi belum dilakukan secara live di medianya. Itu juga menjadi tuntutan kami. Kalau itu dilaksanakan, berarti sudah ada etika,” terangnya.
Ia menegaskan, pihaknya berharap agar permintaan maaf tidak hanya dilakukan secara tertutup, tetapi juga disampaikan langsung kepada pesantren yang bersangkutan.
“Kami harapkan agar segera datang ke Lirboyo untuk meminta maaf langsung. Ini penting supaya tidak muncul gejolak yang lebih besar. Kemarahan santri hari ini bisa diredam jika itu dilakukan,” ungkapnya.
Selain menuntut permintaan maaf terbuka, para santri juga menyerukan agar media nasional lebih berhati-hati dalam menyajikan tayangan yang menyentuh lembaga keagamaan.
“Dunia pesantren jangan diganggu dengan hal-hal yang tidak baik. Kami ingin fokus memperbaiki moral anak-anak bangsa yang hari ini sangat membutuhkan bimbingan para kiai,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Kudus Dr. Ars. H. M. Sam’ani Intakoris, S.T., M.T. yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas berlangsungnya aksi damai secara tertib dan santun. Ia berharap permasalahan yang timbul dari tayangan tersebut dapat segera mendapatkan solusi terbaik bagi bangsa.

“Kami mohon dengan hormat, para santri tetap menunjukkan kualitas santrinya yang luar biasa, menyampaikan aspirasi dengan santun dan baik,” pesan Bupati.
Lebih lanjut, Bupati Sam’ani turut mendoakan agar permasalahan ini segera selesai dengan cara yang baik dan membawa kebaikan bagi semua pihak. Ia juga menegaskan bahwa Kudus sebagai Kota Santri harus menjadi contoh kedamaian dan toleransi.
“Kudus adalah Kota Santri, kota yang kita cintai, yang damai dan selalu menghargai perbedaan serta pendapat orang lain,” katanya.
Bupati juga mengingatkan bahwa 22 Oktober merupakan Hari Santri Nasional, momentum untuk meneguhkan semangat dan kontribusi santri bagi bangsa.
“Semoga kita selalu diberi kemudahan dan kelancaran oleh Allah. Dan semoga apa yang menjadi tuntutan bisa segera direspons oleh pemerintah,” imbuhnya.
Sebelum menutup sambutan, Bupati Sam’ani menegaskan bahwa Pendopo Kabupaten Kudus selalu terbuka bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi.
“Inilah pendapa kita, milik rakyat. Terima kasih, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” tutupnya. (YM/YM)











