Bangun IPAL Baru Berkapasitas Lebih Besar, RS ‘Aisyiyah Kudus Gunakan Biocleaner Asal Amerika

oleh -599 kali dibaca

Kudus, isknews – Menanggapi keluhan pasien dan pengunjung akibat bau kurang sedap yang seringkali muncul dari outlet Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) RS ‘Aisyiyah Kudus. Sejumlah upaya telah dilakukan diantaranya dengan membuat jaringan pipa exhaust penyedot udara disekitar outlet yang di alirkan ke atas menuju udara bebas.

Secara baku mutu, Rumah Sakit yang merupakan salah satu amal usaha persyarikatan Muhammadiyah Kudus ini secara berkala telah di uji oleh Dinas terkait (DPKPLH Kudus) dengan melibatkan Laboratorium independen dan hasilnya masih dibawah angka baku mutu.

Namun guna menekan bau seperti yang ditimbulkan akibat proses pengolahan air limbah. RS Aisyiyah Kudus kini juga telah menyiapkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) baru, dengan memanfaatkan bakteri Biocleaner asal Amerika.

Direktur RS ‘Aisyiyah Kudus dr Hilal Aryadi dan Duty Manager Humas H Subhan saat menunjukkan area pembangunan gedung dan IPAL baru yang berkapasitas lebih besar (Foto: YM)

Hal itu disampaikan Direktur RS Aisyiyah Kudus, Hilal Ariyadi yang didampingi staf sanitasi lingkungan kepada sejumlah awak media, Selasa (21/01/2019).

“Secara posisi, memang IPAL ini perlu direlokasi, mengingat kini berada di tengah-tengah rumah Sakit akibat perkembangan pembangunan fisik, untuk itu pihaknya perlu memindahkan lokasi dengan membuat IPAL baru yang kapasitasnya menyesuaikan standar tipe Rumah sakit,” terang dia.

Dijelaskan olehnya, saat ini pihaknya tengah menyiapkan IPAL baru di bagian belakang rumah sakitnya. Dengan kapasitas yang lebih besar yakni bisa menampung limbah dari 250 TT. Ditambah dengan teknologi terbarukan yang melibatkan konsultan ahli IPAL Rumah Sakit berlisensi Nasional.

Menurutnya instalasi yang dibangun di lantai bawah sebuah gedung baru 6 lantai ini telah melalui uji kelayakan dan refrensi dari para ahli, pihaknya optimis IPAL baru ini dapat mengolah air limbah dengan lebih maksimal.

Berbeda dengan IPAL sebelumnya yang menggunakan proses Aerob dan Anaerob dalam pengolahan limbahnya. Pada IPAL baru ini, pihaknya akan menggunakan sistem Aerob dengan bakteri Biocleaner asal Amerika.

“Di tabung-tabung itu nantinya akan ada bakteri-bakteri induk (Biocleaner) yang akan berkembangbiak secara cepat setiap kali terjadi proses Aerasi (proses penambahan oksigen kedalam air -red). Sehingga proses penetralan limbah akan berlangsung lebih cepat,” jelasnya.

Terkait target penyelesaian IPAL baru, Hilal menyebut bulan Juli 2020 ini IPAL tersebut sudah bisa beroperasi. Sementara untuk IPAL lama, rencananya akan dilakukan penutupan satu bulan setelah IPAL baru beroperasi.

“Semua limbah akan kita alirkan ke IPAL baru. Secara regulasi IPAL lama meski tidak terpakai tidak bisa dibiarkan begitu saja, harus dilakukan penutupan,” tandasnya.

Ditemui di tempat yang sama, Aminuddin Abdul Jabbar, Menejer Umum dan Sarpras RS Aisyiyah Kudus mengungkapkan sebenarnya IPAL lama di rumah sakitnya sudah berlajan dengan maksimal. Hanya saja, lokasinya terlalu dekat dengan pelayanan rawat jalan membuat pasien sedikit terganggu.

“Lokasi baunya biasanya di daerah sekitar inletnya saja. Karena limbahnya kan belum terolah. Kalau di daerah outletnya sudah tidak bau,” papar dia.

Menurutnya, upaya relokasi IPAL ini menjadi salah satu upaya rumah sakitnya dalam memaksimalkan pelayanan ke masyarakat. Dengan harapan, kedepan masyarakat lebih nyaman saat berobat di sana. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.