KUDUS, ISKNEWS.COM – Produk batik dan ecoprint dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, ditargetkan tak lagi berhenti sebagai hasil kerajinan. Melalui pelatihan diversifikasi produk di Kabupaten Kudus, para perajin didorong mampu mengolah karya menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi hingga membuka peluang menjadi pengusaha.
Upaya tersebut dilakukan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopperindag) Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan mengikuti pelatihan diversifikasi produk turunan batik dan ecoprint di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Pelatihan berlangsung pada 1-5 September 2026 di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama PetroChina International Jabung Ltd dengan Diskopperindag Tanjung Jabung Barat bersama Jatisemi Ecoprint by Fawwaz Enterprise.
Kabid Perindustrian Diskopperindag Tanjung Jabung Barat Siti Azizah mengatakan, Kudus dipilih karena dinilai memiliki potensi pengembangan batik dan ecoprint yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan industri kreatif di daerahnya.
“Kudus memang kami lihat potensinya di ecoprint bagus, rapi, batiknya juga bagus. Perkembangan fashion-nya juga bagus sekali. Banyak contoh yang bisa kami studi tiru, kemudian nanti kami aplikasikan di daerah,” kata Azizah saat ditemui.
Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan kepada para perajin di Tanjung Jabung Barat. Tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis, pelatihan juga diarahkan untuk memperluas jenis produk yang dihasilkan.
“Kami berharap dengan kegiatan ini mereka nanti dapat mengembangkan ilmu sehingga mereka bisa naik kelas. Kalau tadinya hanya sebagai perajin, mungkin suatu saat bisa jadi pengusaha,” ujarnya.
Azizah menjelaskan, pengembangan batik di Tanjung Jabung Barat sebenarnya telah berjalan sejak 2012. Saat itu, pelatihan dilakukan dengan mendatangkan pelatih dari Pekalongan menggunakan anggaran APBD.
Seiring perkembangan kebutuhan pasar, Diskopperindag kini berupaya memperluas pengembangan produk dengan mendorong ecoprint. Bahkan, batik dan ecoprint diharapkan dapat dikombinasikan sehingga menghasilkan produk turunan yang lebih beragam dan memiliki daya tarik tersendiri.
“Kami dari Diskopperindag Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi sangat mengapresiasi sekali terkait kerja sama ini. Baik dengan PetroChina maupun Jatisemi Ecoprint Kudus,” ungkapnya.
Sementara itu, CSR Specialist PetroChina International Rina Putri mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pelibatan dan pengembangan masyarakat di wilayah operasi perusahaan di Provinsi Jambi.
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, tetapi juga mendukung pelestarian budaya lokal sekaligus mendorong peningkatan perekonomian.
Menurut Rina, diversifikasi produk menjadi bagian penting dalam pengembangan kapasitas para perajin. Sebab, kemampuan membuat batik perlu diikuti dengan keterampilan mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai jual.
“Kalau selama ini pelatihannya hanya bagaimana cap batik, bagaimana pewarnaan. Tapi ketika menjadikan hasil batik itu menjadi suatu produk, itu termasuk inovasi terbaru bagi kami,” jelas Rina.
Ia menambahkan, program pemberdayaan masyarakat tersebut dirancang secara berkelanjutan. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kebutuhan para perajin.
“Harapannya program ini berkelanjutan. Jadi tidak hanya di satu bidang atau satu kegiatan, tapi bisa bertahap sehingga para perajin ini bisa menjadi lebih mandiri lagi,” ujarnya.
Produk hasil pengembangan tersebut juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai suvenir maupun produk fashion yang dapat dipasarkan lebih luas.
Founder Jatisemi Ecoprint by Fawwaz Enterprise Imah Noor Khamimah mengatakan, pihaknya memberikan pelatihan sekaligus mentoring kepada peserta mengenai teknik ecoprint dan pengembangan produk turunannya.
Menurutnya, ecoprint memiliki ruang pengembangan yang luas karena tidak harus berdiri sendiri. Teknik tersebut dapat dipadukan dengan batik sehingga menghasilkan produk dengan karakter yang berbeda.
“Ecoprint tidak melulu ecoprint, tapi bisa dikombinasikan. Jadi ada penggabungan nuansa budaya (batik) dengan lingkungan sendiri,” katanya.
Melalui pelatihan tersebut, peserta dari Tanjung Jabung Barat diharapkan tidak hanya membawa pulang keterampilan baru, tetapi juga gagasan untuk mengembangkan potensi lokal di daerah asal. Perpaduan batik dan ecoprint pun menjadi salah satu alternatif untuk menciptakan produk kreatif yang lebih variatif, bernilai jual, dan mampu membuka peluang usaha baru.







