KUDUS, ISKNEWS.COM – Berawal dari kegemaran menikmati kopi, Fahmi (37) tertarik mempelajari lebih jauh cara mengolah dan menyajikan minuman tersebut. Ketertarikannya itu membawanya mengikuti pelatihan barista yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, dan UKM (Disnakerperinkopukm) Kabupaten Kudus.
Melalui pelatihan tersebut, Fahmi bersama 15 peserta lainnya mendapat kesempatan memperdalam pengetahuan tentang kopi, mulai dari mengenali karakter biji hingga mempraktikkan berbagai teknik penyeduhan. Program ini juga menjadi sarana untuk meningkatkan keterampilan peserta agar memiliki bekal memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha di bidang kopi.
Fahmi mengungkapkan, materi yang diberikan tidak langsung berfokus pada pembuatan minuman. Peserta terlebih dahulu belajar mengenali karakter kopi melalui metode cupping, yakni proses mencicipi kopi untuk mengidentifikasi aroma, cita rasa, dan perbedaan karakter setiap jenis maupun hasil pengolahannya.
Dalam sesi tersebut, peserta dilatih membedakan karakter kopi arabika dan robusta, termasuk pengaruh tingkat sangrai atau roasting terhadap cita rasa. Mereka juga diperkenalkan dengan kopi berjenis light roast, medium roast, dan dark roast, serta kopi yang melalui proses honey.
“Awal menjadi barista itu tidak langsung membuat kopi, tetapi kita diasah cara mencicipi kopi, namanya cupping. Jadi, kita dilatih lidah untuk merasakan kopi. Kopi dark seperti apa, robusta seperti apa, arabika seperti apa, sampai kopi yang diproses medium, light, dan honey. Kita diajari untuk membedakan,” ungkapnya, Jumat (23/10).
Menurut Fahmi, mengenali karakter kopi merupakan bagian penting dalam proses penyeduhan. Pengetahuan tersebut membantu barista menentukan metode yang tepat agar karakter rasa dan aroma dari biji kopi dapat keluar sesuai dengan hasil yang diinginkan.
Setelah mempelajari dasar-dasar tersebut, peserta mulai berlatih menggunakan sejumlah metode penyeduhan manual atau manual brew. Beberapa teknik yang dipelajari di antaranya metode tubruk, V60, AeroPress, French press, dan Vietnam drip.
Fahmi mengaku, selama ini dirinya lebih sering membuat kopi sendiri di rumah dengan metode tubruk. Ia belum banyak mencoba teknik penyeduhan lain karena membutuhkan peralatan khusus yang tidak selalu tersedia di rumah.
“Ketertarikan memilih barista karena suka kopi. Saya pribadi penggemar kopi dan penasaran dengan metode-metode penyeduhan kopi. Kalau bikin sendiri di rumah, biasanya mentoknya tubruk. Kalau mau V60 atau AeroPress, kita harus membeli alatnya,” katanya.
Melalui pelatihan tersebut, Fahmi akhirnya berkesempatan mempelajari teknik penyeduhan yang sebelumnya hanya membuatnya penasaran. Ia juga memperoleh pengetahuan untuk mengembangkan racikan kopi dengan karakter rasa yang berbeda.
Namun, menurutnya, keterampilan seorang barista tidak cukup hanya mengandalkan preferensi pribadi. Peracik kopi harus mampu memahami keinginan konsumen agar minuman yang disajikan sesuai dengan selera masing-masing pelanggan.
Ia mencontohkan, ketika pelanggan menginginkan kopi dengan sensasi rasa buah atau fruity, barista perlu mengetahui karakter biji dan teknik penyeduhan yang dapat mendukung munculnya cita rasa tersebut.
“Enak bagi kita, bagi barista belum tentu enak juga bagi pelanggan. Di pelatihan ini kita selalu ditekankan untuk melayani pelanggan benar-benar sesuai yang diminta. Dia penginnya kopinya fruity, misalkan, kita harus bisa menerjemahkan kopi itu disajikan dengan rasa fruity tadi,” jelasnya.
Selain memperluas wawasan tentang kopi, Fahmi menilai pelatihan tersebut memberinya bekal awal untuk menjajaki peluang di industri kopi. Meski demikian, keinginan merintis usaha sendiri masih perlu dipertimbangkan dengan matang, terutama berkaitan dengan kebutuhan modal.
Ia mengatakan, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat menjadi dasar untuk memulai langkah di dunia usaha. Sementara itu, keputusan untuk membuka kedai kopi atau memilih jalur pekerjaan lain akan disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan yang dimilikinya setelah pelatihan selesai.
“Untuk persiapan dunia usaha, kita juga butuh modal dan lain sebagainya. Tapi untuk ilmu, insyaallah sudah siap. Kita sudah dibekali pengetahuan tentang kopi. Untuk eksekusi setelah lulus nanti, apakah membuka usaha atau lainnya, masih ada faktor lain, salah satunya modal usaha,” ujarnya.
Sementara itu, instruktur pelatihan barista, Oktavianus Boli, menjelaskan bahwa pemahaman dasar menjadi materi penting sebelum peserta memasuki tahap praktik yang lebih kompleks. Peserta perlu memahami jenis biji kopi, proses pascapanen, tingkat sangrai, serta pengaruh suhu air dan ukuran gilingan terhadap hasil seduhan.
Menurutnya, setiap tahapan pengolahan dapat memengaruhi karakter akhir kopi. Bahkan, biji kopi yang sama bisa menghasilkan profil rasa berbeda apabila melalui tingkat sangrai atau metode penyeduhan yang tidak sama.
Dalam praktik pengenalan tingkat sangrai, Boli memperlihatkan perbedaan kopi light roast, medium roast, dan dark roast. Peserta kemudian mempelajari karakter aroma dan rasa yang muncul dari masing-masing tingkat pemanggangan tersebut.
“Selama ini yang saya kedepankan adalah pemahaman dasar. Ketika mereka sudah berada di dunia kerja, mereka bisa melakukan penyesuaian. Kopi seperti ini harus diseduh dengan temperatur air seperti apa, ukuran gilingannya seperti apa,” terangnya.
Selain kemampuan teknis, peserta juga berlatih menghadapi pelanggan melalui simulasi pelayanan di balik meja bar. Mereka diminta mempraktikkan cara menyambut konsumen, menerangkan minuman yang ditawarkan, hingga menjawab pertanyaan seputar jenis biji dan proses pascapanen kopi.
Simulasi tersebut dibuat menyerupai situasi pelayanan di kedai kopi. Peserta bergantian memainkan peran sebagai barista dan pelanggan, termasuk mengajukan pertanyaan mendasar yang lazim disampaikan konsumen yang belum memahami kopi.
Boli menyebutkan, pelatihan yang dibimbingnya berlangsung selama 15 hari, di luar tiga hari kegiatan motivasi. Program tersebut dimulai pada 13 Oktober dan dijadwalkan berakhir sekitar penghujung Oktober.
Setelah mempelajari karakter kopi dan teknik penyeduhan manual, peserta juga mendapatkan materi penggunaan mesin espresso serta pembuatan berbagai minuman, seperti cappuccino, latte, dan kreasi kopi kekinian.
Menurut Boli, materi tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi peserta sebelum terjun ke industri kopi. Meski begitu, kemampuan meracik minuman tetap perlu dikembangkan melalui latihan rutin dan pengalaman langsung di lingkungan kerja.
“Tidak ada yang instan. Tapi untuk dasar, mereka tidak akan kebingungan ketika berada di balik bar yang sesungguhnya. Dasar penyeduhan itu air, ukuran gilingan, suhu, jenis air, dan kopi. Itu yang harus dipahami,” paparnya.
Kepala Disnakerperinkopukm Kabupaten Kudus, Catur Widiyatno, mengatakan pelatihan barista merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan kompetensi tenaga kerja, seiring berkembangnya usaha kedai kopi dan kafe.
Ia berharap peserta mampu memanfaatkan keterampilan yang diperoleh untuk memperluas kesempatan kerja maupun merintis usaha secara mandiri. Selain kemampuan meracik minuman, kompetensi profesional juga menjadi aspek penting agar peserta dapat bersaing di industri tersebut.
Peserta yang memenuhi persyaratan dapat memperoleh sertifikat pelatihan dari Balai Latihan Kerja (BLK). Adapun sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) diberikan melalui proses asesmen sesuai ketentuan yang berlaku.
Untuk mendapatkan sertifikat sesuai ketentuan program, peserta juga diwajibkan memenuhi persyaratan kehadiran minimal 70 persen.
“Saya berharap peserta memiliki keterampilan yang dapat diterapkan di dunia kerja maupun menjadi bekal untuk mengembangkan usaha kopi secara profesional,” katanya. (AS/YM)






